Rekayasa Penyembelihan Anak Abraham dalam Bibel Bagian 2



Kisah penyembelihan/pengorbanan yang melibatkan Abraham dan Ishak dalam Bibel diceritakan dalam Kitab Kejadian 22:1-19.

Bibel tidak menjelaskan kapan peristiwa tersebut terjadi. Namun pada ayat-ayat sebelumnya, yaitu Kejadian 21:1-34, Bibel menceritakan kelahiran Ishak, pengusiran Hagar dan Ismail oleh Sara setelah Ishak disapih, hingga terbentuknya sebuah sumur di padang gurun yang melibatkan Hagar dan Ismail, kemudian di bagian akhir diselingi kisah perjanjian antara Abraham dan Abimelekh. Setelah itu barulah Bibel menceritakan peristiwa penyembelihan tersebut yang ayat-ayatnya dikutip lengkap berikut ini (garis bawah ditambahkan):
Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba. (Kejadian 22:1-19)

Dalam kisah tersebut, harus diperhatikan penekanannya bahwa anak yang akan dikorbankan itu adalah anak tunggal (satu-satunya anak) Abraham pada saat itu. Tercatat tiga kali Bibel menyebut kata “anak tunggal” yang merujuk pada anak yang akan dikorbankan Abraham. Penyebutan anak tunggal (satu-satunya anak) sebanyak tiga kali yang ditujukan kepada Ishak dalam kisah di atas menimbulkan kejanggalan besar oleh karena:
  • Karena tidak beranak, Sara mengambil Hagar, hambanya, dan memberikan kepada Abraham, suaminya sendiri, untuk dijadikan istri dengan harapan bisa mendapat anak dari Hagar (Kejadian 16:1-3).
  • Abraham berusia 86 tahun ketika anaknya dari Hagar, Ismail lahir (Kejadian 16:16).
  • Abraham berusia 100 tahun ketika anaknya dari Sara, Ishak lahir (Kejadian 21:5).

Ini berarti Ismail adalah kakak Ishak dengan selisih usia antara keduanya adalah 14 tahun, jarak kelahiran yang sangat lama sehingga Allah memandang perlu untuk menguji keimanan Abraham. Jika boleh dipahami secara logika, seharusnya anak tunggal (satu-satunya anak) Abraham pada peristiwa penyembelihan itu adalah Ismail.

Lalu mengapa Bibel menyebut Ishak sebagai anak tunggal (satu-satunya anak) Abraham? Golongan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) akan mengatakan bahwa penyebutan itu oleh karena Ishak lahir dari Sara sebagai majikan, sedangkan Ismail lahir dari Hagar, seorang hamba Sara, sehingga Ishaklah yang akan mewarisi segalanya (Kejadian 21:10). Selain itu, Tuhan dalam Bibel juga telah berfirman kepada Abraham bahwa yang akan disebut sebagai keturunannya ialah yang berasal dari Ishak (Kejadian 21:12). Dengan alasan seperti itu mereka menyetujui penyebutan Ishak sebagai anak tunggal (satu-satunya anak) Abraham. Selanjutnya timbul pertanyaan, jika sebelumnya Tuhan telah berfirman kepada Abraham bahwa yang akan disebut keturunannya ialah yang berasal dari Ishak, lalu apa gunanya Tuhan mencoba Abraham dengan menyuruhnya menyembelih Ishak? Apakah Tuhan dalam Bibel sedang bercanda? Orang akan mengatakan Abraham hanya berpura-pura menyembelih Ishak sebab dia sudah tahu bahwa yang akan disebut keturunannya ialah yang berasal dari Ishak.

Sekarang, marilah kita selidiki kesaksian Alquran mengenai peristiwa penyembelihan itu. Alquran menceritakan kisah yang serupa pada surat Ash-Shaaffat ayat 99-112. Diceritakan bahwa Abraham berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak yang saleh (ayat 100). Allah mengabulkan doa Abraham dan memberi kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang amat sabar (ayat 101). Ketika anak itu bertambah besar, Allah menguji keimanan Abraham. Abraham bermimpi menyembelih anaknya. Abraham meminta pendapat anaknya atas mimpi itu, anaknya menjawab:

"...Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaaffat : 102)

Jawaban anak itu mengindikasikan bahwa ia setidaknya telah menginjak usia remaja. Alquran tidak menyebutkan siapa namanya. Tatkala Abraham telah membaringkan anaknya untuk disembelih, Allah menebus anak itu dengan sembelihan yang besar (ayat 107) sebagai balasan atas keimanan keduanya (ayat 111). Setelah peristiwa tersebut, Allah memberi kabar gembira lagi kepada Abraham dengan kelahiran Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh (ayat 112).

Dari kisah Alquran tersebut dapatlah disimpulkan bahwa:
  1. Anak yang akan disembelih itu sudah menginjak usia remaja,
  2. Ishak belum lahir ketika peristiwa penyembelihan itu terjadi.

Dengan mengambil keterangan dari Bibel di atas, maka anak yang akan dikorbankan Abraham dalam surat Ash-Shaaffat itu tidak lain adalah anak tunggal (satu-satunya anak) Abraham dalam arti harfiah/sebenarnya, yaitu Ismail ketika berusia tidak lebih dari 14 tahun.
Berdasarkan kesimpulan itu, tidaklah berlebihan jika kita harus mengatakan bahwa penyebutan Ishak sebagai anak tunggal (satu-satunya anak) Abraham dalam Bibel adalah hasil rekayasa orang-orang Israel di masa lalu demi ambisi hawa nafsu dan kesombongan mereka, sebagaimana keterangan Alquran berikut ini ketika berbicara tentang kebiasaan orang-orang Israel memperlakukan para nabi dan rasul yang datang kepada mereka:

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada 'Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. Albaqarah : 87)  

Catatan:
  • Dalam kisah pengorbanan menurut Alquran surat Ash-Shaaffat di atas, disebutkan bahwa anak yang akan dikorbankan Abraham itu adalah seorang "anak yang amat sabar" (ayat 101). Sementara itu, Alquran surat Al-Anbiya ayat 85 mengatakan bahwa Ismail, Idris dan Dzulkifli adalah termasuk orang-orang yang sabar. Dari ketiga nama ini hanya Ismail-lah yang merupakan anak Abraham, sehingga semakin jelaslah bahwa anak tunggal (satu-satunya anak) Abraham pada peristiwa pengorbanan tersebut adalah Ismail.
  • Adapun Ishak, namanya dalam Alquran disebut sebanyak 16 kali pada ayat-ayat yang berbeda tetapi tidak satupun nama Ishak dikaitkan dengan sifat sabar. Hal ini juga menguatkan dalil bahwa "anak yang amat sabar" sebagaimana dimaksud pada Alquran surat Ash-Shaaffat ayat 101 tersebut bukanlah Ishak, tetapi anak Abraham yang lain.
  • Firman Tuhan bernada rasis kepada Abraham bahwa yang akan disebut sebagai keturunannya ialah yang berasal dari Ishak (Kejadian 21:12), tidak ada hubungannya dengan penyebutan Ishak sebagai "anak tunggal" Abraham. Jelasnya, penyebutan Ishak sebagai "anak tunggal" Abraham dalam Bibel adalah masalah tersendiri, terlepas dari firman Tuhan pada Kejadian 21:12 tersebut.

Oleh: Dr. Jerald F. Dirks (2001), dengan beberapa penyuntingan dan tambahan dari kami.
Dr. Jerald F. Dirks adalah mantan pendeta sekaligus ketua dewan gereja di United Methodist Church, Kansas, USA.

Terkait Khusus

Keluarga Ibrahim 8629544831896876582

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item