Sabtu, 20 Desember 2014

Download Ebook Takwil Hadits yang dinilai Kontradiktif - Ibnu Qutaibah


Sejak masa Rasulullah SAW dan bahkan hingga era sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in terdapat dua cara ijtihad berkaitan dengan pemeliharaan atau penyelamatan keberadaan hadits Nabi.

Ijtihad pertama:

Dengan lisan, yaitu mendengar suatu hadits dari seseorang lalu menyampaikannya kepada orang lain. Demikian seterusnya dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Ijtihad kedua:

Dengan tulisan. Cara ini lebih baik dan lebih langgeng daripada cara lisan. Hanya saja, baik secara lisan maupun secara tulisan, tetap saja terdapat beberapa kesalahan.

Kesalahan pada metode lisan -biasanya- diakibatkan oleh faktor lupa atau kesalahpahaman. Sementara kesalahan tulis atau kesalahan akibat tulisan yang buruk kadang-kadang terjadi pada metode tulisan.

Meski demikian, mereka yang menggunakan metode lisan (mendengar dan menyampaikan) mengutip hadits-hadits mereka dari para penulis hadits. Sedangkan mereka yang menggunakan metode tulisan tidak menulis hadits Nabi secara keseluruhan. Mereka hanya menulis apa yang mereka anggap penting, khususnya yang berkaitan dengan undang-undang (tasyrii) dan hukum. Kodifikasi hadits yang mereka lakukan tidak menggunakan metode tertentu. Mereka hanya mencatat hadits yang diriwayatkan oleh orang lain dan mengutip hadits dari orang yang memperolehnya secara lisan –jika mereka mengenalnya sebagai orang yang tsiqah dan 'adil.

Saat itu, kodifikasi hadits tidak menggunakan pendekatan (manhaj) tertentu.

Orang yang memutuskan pelaksanaan kodifikasi hadits adalah seorang tokoh yang adil dan zuhud, Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada pejabatnya yang menjadi hakim (qadhi) di Madinah, Abu Bakar bin Hazm.

"Carilah hadits Rasulullah SAW lalu tulislah. Aku khawatir ilmu semakin berkurang dan para ulama meninggal dunia. Jangan kamu terima kecuali hadits Nabi SAW. Perintahkan mereka agar menyebarkan ilmu dan duduk mendengarkannya sehingga orang yang tidak tahu menjadi tahu. Sesungguhnya ilmu tidak akan punah sehingga (sebelumnya) menjadi sesuatu yang rahasia"

Hal yang sama juga dilakukannya kepada para pejabat pembantunya yang berada di kota-kota Islam penting lainnya yang dihuni oleh para sahabat dan tabi'in.

Adapun orang pertama yang melakukan kodifikasi hadits di bawah perintah Umar bin Abdul Aziz RA adalah Muhham bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdillah bin Syihab Az-Zuhri (w. 125 H), tokoh ulama negeri Syam dan Hijaz. Az-Zuhri memperoleh hadits-haditsnya dari para sahabat junior yang masih hidup di masanya, yang ia lihat dan dengar sendiri serta dari beberapa orang tokoh tabi'in senior.

Setelah Az-Zuhri, kodifikasi hadits pada peringkat selanjutnya (ath-thabqah) semakin banyak dilakukan. Orang pertama pada peringkat ini adalah Ibnu Ishaq dan Malik di kota Madinah, Ibnu Juraij di Makkah serta ulama-ulama lain yang berada di kota lainnya seperti Sufyan Ats-Tsauri di Kufah, Husyaim di Wasith, Jarir bin Abdul Hamid di Rayy, Ibnu Al Mubarak di Kharasan, Al Auza'i di Syam, Ma'mar di Yaman dan Abu Bakar bin Abu Syaibah di Kufah.

Masa itu merupakan tahap penulisan dan pengarangan yang berlangsung sejak akhir abad 2H hingga awal abad 3H. Tahap ini diikuti dengan tahap kodifikasi (tadwiin), pengumpulan dan kompilasi antara matan hadits dan perawinya. Lalu tahap pemilahan hadits shahih dan penilaian terhadap perawi dari segi adil atau tidaknya.

Orang pertama yang muncul berkaitan dengan pemilahan dan penilaian tersebut adalah Al Bukhari. Buku Shahih-nya (yang terkenal) merupakan buku hadits Shahih yang pertama. Dia telah meletakkan beberapa aturan (syarth) yang digunakan sebagai tolok ukur shahih tidaknya suatu hadits atau shahih tidaknya sebuah sanad.

Selanjutnya, langkah Al Bukhari diikuti oleh Muslim bin Al Hajjaj yang menyusun bukunya yang terkenal Shahih Muslim. Lalu orang-orang menyebut kedua buku di atas dengan istilah Ash-Shahihain. Sementara kedua ulama tersebut diberi gelar Asy-Syaikhain.

Buku-buku hadits sebelum kedua buku ini mencampur-adukkan hadits Nabi dengan pendapat sahabat serta fatwa para tabi'in. Di samping itu, buku-buku tersebut berisi hadits shahih, dha’if, matruk dan majhul. Tidak ada kepastian mengenai status haditsnya kecuali setelah melakukan penelitian mendalam berkaitan dengan para perawi dan matannya (esensi). Apalagi masa itu adalah masa perkembangan kelompok-kelompok yang saling bertentangan. Para mudallis dan para pemalsu hadits berusaha menciptakan hadits yang mendukung kelompok dan pendapatnya. Kondisi ini berbeda 180 derajat dengan era sahabat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap hadits sehingga tidak menyebarkan hadits kecuali yang sudah dipastikan shahih, baik redaksi maupun maksudnya.

Ketika terjadi pergolakan akibat kepemimpinan dalam tubuh muslimin sendiri sehingga menimbulkan perpecahan dan muncul kelompok Khawarij, sebagian mereka ketika menemukan hadits yang dapat digunakan oleh kelompok lain untuk menyerangnya maka mereka menciptakan hadits baru dan menyebarkan kepada semua orang.

Ketika suasana mulai tenang dan normal, para ulama khususnya para ahli hadits melakukan perlawanan dengan cara melakukan pemisahan di antara hadits-hadits yang ada dan pemurnian, memisahkan di antara yang shahih dan yang bukan. Pertama kali mereka mengumpulkan seluruh hadits. Mereka hanya meninggalkan hadits yang secara pasti diketahui sebagai hadits palsu (maudhu), lalu mulai meneliti para perawinya. Untuk ini mereka mempelajari biografi para perawi dan perilakunya untuk keperluan pemurnian. Para perawi yang dinilai pembohong ditinggalkan, kepribadiannya (dari sisi periwayatan) dinilai sebagai dha’if. Begitu pula hadits yang diriwayatkannya dinilai dha’if atau ditolak (mardud). Dengan demikian mereka tidak menerapkan penilaian shahih atau hasan berdasarkan periwayatan perawi yang 'adil dari perawi yang 'adil lainnya atau periwayatan perawi yang tsiqah dari perawi yang tsiqah lainnya.

Pada masa selanjutnya, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu hadits semakin berkembang dan bercabang. Di antaranya ilmu yang berkaitan dengan para perawi hadits dari sisi perilaku, biografi, penilaian buruk atau ke-'adil-annya, tempat tinggal dan pertumbuhannya. Termasuk juga ilmu jejak keturunan, penjabaran hadits, komentar dan catatan-catatan kaki atas hadits. Ilmu-ilmu ini di kemudian hari dikenal dengan istilah ilmu-ilmu hadits, ushul al hadits atau mushthalah ilmu hadits.

Buku yang ada di hadapan Anda ini, Ta'wil Mukhtalaf Al Hadiits merupakan buku tersendiri dari segi kategori dan isi. Dalam bukunya ini, Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri membela madzhab ahli hadits dan mempertahankannya. Beliau menentang madzhab-madzhab lainnya hingga pada taraf mengecam dan mencaci para tokoh-tokohnya. Bahkan beliau kadang-kadang menuduh mereka (sebagai pembohong. Penj).

Password : www.love-is-rasa.blogspot.com
 Takwil Hadits Kontradiktif - Ibnu Qutaibah

Selasa, 16 Desember 2014

Rumah Tempat Mengaji Beserta Halamannya Selamat dari Bencana Longsor Banjarnegara


Rumah Tempat Mengaji Ini Selamat dari Bencana Longsor Banjarnegara

Subhanallah… Sekali lagi Allah memperlihatkan kebesaran-Nya. Di tengah dusun yang luluh lantak, rata dengan tanah, akibat terjangan longsor bukit Telaga Lele, dusun Jemblung, Sampang, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, ada satu rumah dengan kebun jagungnya utuh, selamat. Rumah itu ternyata biasa digunakan untuk mengaji. Sang pemiliknya pun dikenal tetangganya sebagai orang yang murah hati.

Seperti diketahui, Jumat lalu (12/12), bencana longsor telah menyapu habis rumah penduduk yang berada di lereng bukit. Material longsor mengubur hidup-hidup dusun seluas 25 hektare, dengan 35 rumah dan 55 kepala keluarga. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 88 korban dinyatakan masih tertimbun, 20 mayat telah ditemukan serta 15 orang luka-luka.

Seorang warga menunjuk rumah Juan (foto: detik.com)

Di tengah pemandangan yang menggetarkan hati itu, rumah bercat putih itu nampak masih kokoh berdiri. Menurut penelusuran wartawan detik.com, rumah tersebut milik seorang petani jagung dan sayuran, Juan (25).

Dua tetangga Juan, Yono dan Rumiyah memastikan soal ini. Juan memang dikenal sebagai orang baik yang memberi bantuan tanpa pamrih.

"Itu punya Juan, dia orangnya baik suka menolong. Suka bantu-bantu," jelas Rumiyah yang ditemui di pengungsian di Karangkobar, Senin (15/12).

Rumiyah yang rumahnya berada berseberangan dengan rumah Juan mengaku melihat rumah Juan yang utuh sebagai sebuah mukzizat.

"Itu semua keajaiban, itu semua rumah di sekitarnya kena longsor," jelasnya.

Sedang menurut Yono, sosok Juan dikenal sebagai tetangga yang baik. Rumah dia juga kerap dipakai pengajian. "Biasa di kampung dipakai pengajian, selamatan," jelas Yono.

Juan diketahui meninggal dunia dalam peristiwa ini. Dia dan anaknya Daffa (8) saat peristiwa terjadi tengah berada di luar rumah, di tempat orangtuanya. Keduanya tertimbun longsoran. Namun istrinya Khotimah selamat dalam insiden itu.

Secara terpisah, sang istri Khotimah, kepada detik.com mengatakan bahwa dia sendiri tidak tahu bila rumah dan kebun jagungnya yang justru persis berada di bawah bukit aman dari longsor. Khotimah yang sedang hamil tujuh bulan, mengaku saat kejadian benar-benar melihat dengan jelas longsor yang menimbun puluhan rumah itu.


Peristiwa itu terjadi ketika itu dirinya tengah mengambil pakaian dari jemuran bersama keponakannya Wawan (11).

"Saya melihat ada longsor dari atas bukit turun seperti ombak. Saya langsung lari masuk rumah dan menarik wawan dan lari keluar rumah," jelas dia di Puskesmas Karangkobar kepada detik.com.

Khotimah dan Wawan selamat, walau saat lari menyelamatkan diri sempat terdorong tanah beberapa puluh meter. Kini Khotimah terbaring di pengungsian. Petani ini tak mau berkomentar banyak saat ditemui siang ini, Senin (15/12/2014). Dia berduka karena suaminya Juan dan putranya Daffa meninggal dunia. (may/voa-islam.com)

Download Ebook 70 Dosa Besar Menurut Al-Quran dan As-Sunnah Karya Imam Adz-Dzahabi


Sebuah kitab karya Imam Adz Dzahabi yang membahas rincian dari 70 dosa besar, dilengkapi dengan takhrij hadits.
Masuk Facebook Sebelum Download
https://www.facebook.com/groups/love.is.rasa/641426502632674/


Definisi Kabair (Dosa-Dosa Besar)

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Tiada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zhalim. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Muhammad, utusan yang paling mulia dan imam orang-orang yang bertakwa, juga kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau semuanya.

Kitab ini membahas berbagai macam hal yang termasuk dosa-dosa besar dan diharamkan/dilarang.

Pengertian kabair adalah semua larangan Allah dan Rasulullah yang tercantum di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta atsar dari para salafus shalih.

Allah swt menjamin bagi siapa saja yang menjauhi dosa-dosa besar dan perkara-perkara yang diharamkan akan diampuni semua dosa-dosa kecil yang dilakukannya. Allah berfirman:

{إِن تجتنبوا كَبَائِر مَا تنهون عَنهُ نكفر عَنْكُم سَيِّئَاتكُمْ وَنُدْخِلكُمْ مدخلاً كَرِيمًا}

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (An-Nisa':31)

Berdasarkan nash di atas, Allah menjamin surga bagi yang menjauhi dosa-dosa besar.

Allah juga berfirman:

{وَالَّذين يجتنبون كَبَائِر الْإِثْم وَالْفَوَاحِش وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ }

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma'af. (As-Syura: 37)

{الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِر الْإِثْم وَالْفَوَاحِش  إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ}

"(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunanNya." (An-Najm: 32)

Rasulullah saw bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفَّرَاتٌ لِمَا بَينهُنَّ إِذاَ اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِر

"Shalat lima waktu, shalat Jum'at, dan puasa Ramadlan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di sela-selanya jika dosa-dosa besar telah dijauhi." 1

Dari sini lazim bagi kita untuk meneliti apa saja yang termasuk kabair supaya kita dan semua orang Islam bisa menjauhinya. Para ulama -rahimahumullah- berbeda pendapat di dalam menentukannya. Ada yang mengatakan bahwa kabair itu tujuh, berdasarkan sabda Nabi saw:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ فَذَكَرُ مِنْهَا الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهِ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ

"Jauhilah tujuh perkara yang merusak!" Lalu beliau menyebutkan, "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali karena alasan yang dibenarkan, memakan harta anak yatim, memakan riba, meninggalkan medan perang, dan menuduh wanita mukminah baik-baik telah berzina." 2

Ibnu 'Abbas ra berkata, "Kabair itu jumlahnya lebih dekat kepada tujuh puluh dari pada kepada tujuh." 3

Demi Allah, ucapan Ibnu Abbas di atas benar adanya.4 Hadiis sebelumnya tidaklah membatasi jumlah kabair. Pendapat yang benar dan dilandasi dengan dalil menyebutkan bahwa siapapun yang melakukan perbuatan dosa yang memiliki had di dunia seperti; membunuh, berzina, mencuri, atau yang pelakunya mendapat ancaman, kemurkaan, serta laknat dari Nabi Muhammad saw di akhirat, maka perbuatan itu termasuk kabair. Harus diterima pula bahwa kabair yang satu bisa lebih besar dibandingkan dengan kabair yang lain. Adalah Rasulullah saw menghitung syirik sebagai salah satu kabair, padahal pelakunya kekal di neraka dan tidak akan diampuni selama-lamanya. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (An-Nisa': 48 dan 116)

______________________

1. Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/359,400), Muslim (233). At-Tirmidzi (214), Ibnu Majah (1086), Ibnu Khuzaimah (314), dan Ibnu Hibban (1733); dari Abu Hurairah.

2. Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2766.5764). Muslim (89). Abu Awanah (1/54), dan An-Nasa'i (6/ 257); dari Abu Hurairah.

3. Isnadnya Shahih. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (19702), Ibnu Jarir (9209), dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (Syu'ab Al-iman) (290). Semua perawinya terpercaya (tsiqah).

4. Itu merupakan perkataan Adz-Dzahabi, Dia sendiri adalah seorang tokoh terkemuka pada abad ketujuh Hijriyah. Lalu bagaimana kiranya komentar Imam Adz-Dzahabi bila hidup di tengah kita sekarang ini, setelah berlalu rentang tahun sebanyak rentang waktu antara dirinya dan Ibnu Abbas?!

Logam Mulia Hari Ini


gold price charts provided by goldprice.org

Nilai Tukar Rupiah