Rekayasa Pengusiran Hagar/Hajar dan Umur Ismail dalam Bibel Taurat Bagian 2

Ilustrasi Penggendongan BAYI BESAR
Bayi Besar Ismail

Kisah terbentuknya sumur (zam-zam) yang melibatkan Hagar dan Ismail dalam Bibel diceritakan dalam Kitab Kejadian 21:14-21.
Sebelum membahas peristiwa tersebut, perlu ditegaskan keterangan Bibel bahwa jarak usia antara Ismail dan Ishak adalah 14 tahun (Kejadian 16:16; 21:5). Sementara itu, konon, sebagaimana diceritakan Bibel, peristiwa tersebut terjadi setelah Ishak disapih (Kejadian 21:8). Umumnya bayi disapih pada usia dua tahun. Jika diasumsikan Ishak berusia dua tahun ketika disapih, maka usia Ismail ketika itu tidak kurang dari 16 tahun.

Selanjutnya Bibel menceritakan, Sara, istri pertama Abraham, melihat Ishak, anaknya, sedang bermain dengan Ismail, kakak Ishak dari Hagar, istri kedua Abraham, seorang hamba Sara (Kejadian 21:9). Bibel tidak menjelaskan berapa usia Ishak ketika itu (seharusnya lebih dari dua tahun). Melihat anaknya sedang bermain dengan Ismail, tiba-tiba saja Sara marah lalu berkata kepada Abraham:

"Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." (Kejadian 21:10)
Tidak jelas apa yang menyebabkan Sara berperilaku kejam kepada Hagar dan Ismail dengan meminta Abraham agar mengusir mereka. Mendengar perkataan Sara tersebut, konon Abraham merasa sebal oleh karena anaknya itu (Kejadian 21:11), tetapi Allah meyakinkan Abraham agar mendengarkan segala yang dikatakan Sara (Kejadian 21:12). Kisah Bibel selanjutnyanya dikutip di bawah ini (garis bawah ditambahkan):
Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah erat-erat dia dengan tanganmu,*sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir. (Kejadian 21:14-21)

Dalam kutipan di atas, underline (garis bawah) diberikan untuk frasa-frasa kunci yang mengilustrasikan kemustahilan catatan Kitab Kejadian mengenai Ismail yang berusia 16 tahun pada saat itu. Hagar dengan berbagai cara harus memperlakukan Ismail dengan cara:

(1) Menaruh Ismail beserta roti dan sekirbat air di atas bahunya,
(2) Membuang Ismail ke bawah semak-semak,
(3) Mengangkat Ismail dari tempat ia terbaring dan memegang erat-erat Ismail,
(4) Memberi minum Ismail,
(5) Tidak ada komunikasi sama sekali dengan Ismail.

Tindakan Hagar di atas, tidaklah pantas dilakukan untuk anak berusia 16 tahun. Tetapi tindakan tersebut mungkin saja dilakukan terhadap seorang balita yang belum disapih dan belum bisa berjalan. Dalam kisah di atas, Ismail yang  berusia 16 tahun diperlakukan seperti bayi yang masih menyusui. Baik Abraham maupun Hagar tidak ada komunikasi sama sekali dengan Ismail. Bahkan nama Ismail pun tidak disebutkan kecuali hanya kata gantinya saja yaitu "anaknya", "anak itu", dan "ia". Semestinya anak usia 16 tahun itu sudah harus berjalan kaki sendiri dan membantu/menolong ibunya untuk meringankan beban, bukan malah membebani ibunya. Apakah Ismail terlahir idiot dan lumpuh permanen sehingga di usianya 16 tahun harus diperlakukan sebagai seorang bayi yang masih menyusui? Jika harus dipahami secara logika, kisah tersebut tidak lebih dari sebuah kemustahilan yang tidak pantas tercatat dalam sebuah kitab suci.


Sebagai perbandingan, ketika berusia 13 tahun, Ismail sudah terbiasa berkomunikasi dengan Abraham sebagaimana layaknya komunikasi antara anak dengan bapaknya, hal ini terindikasi dari keterangan Bibel ketika Abraham memanggil Ismail untuk disunat berikut ini (garis bawah ditambahkan):
Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. (Kejadian 17:23-25)

Tetapi dalam kisah di atas, Ismail yang sudah berusia 16 tahun, oleh Abraham dan Hagar diperlakukan seperti bayi yang baru beberapa hari dilahirkan yang belum mengerti apa-apa apalagi harus berbicara, Abraham dan Hagar sama sekali tidak menghiraukan Ismail hingga mereka harus meletakkan Ismail yang berusia 16 tahun di atas bahu Hagar selama perjalanan kaki mengembara di padang gurun Bersyeba. Lalu seberat apakah tubuh Ismail ketika itu sehingga Hagar dengan entengnya menggendong tubuh Ismail selama perjalanan jauh? Ketika air yang di kirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, selanjutnya menangislah ia dengan suara nyaring. Mungkinkah anak laki-laki berusia 16 tahun menangis dengan suara nyaring karena kehausan dan tidak berkata sepatah katapun kepada ibunya yang sedang bersamanya?

Sangat menggelikan tentunya, tanpa perlu melakukan penelitian mendalam yang membuang-buang waktu dan energi, cukuplah jelas, sejelas siang, kita semua dapat menyimpulkan bahwa kisah terbentuknya sumur (zam-zam) dalam Bibel di atas hanyalah sebuah rekayasa dari orang-orang Israel di masa lalu dengan menempatkan kisah tersebut setelah Ishak disapih, agar kisah selanjutnya yaitu peristiwa penyembelihan/pengorbanan bisa diterapkan/dipaksakan kepada Ishak (Kejadian 22:1-19). Padahal, kisah tersebut terjadi jauh sebelum Ishak lahir, yakni ketika Ismail memang masih bayi. Silahkan perhatikan kembali rangkaian kisah di atas, pada bagian akhir kisah tersebut dikatakan bahwa "Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar", ini menandakan bahwa kondisi Ismail pada waktu itu masih bayi dan belum bisa berjalan.

Secara khusus, silahkan cermati baik-baik alur kisah tersebut pada bagian awal (ayat 14) yang dikutip di bawah ini (garis bawah ditambahkan):
Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. (Kejadian 21:14)

Dalam ayat tersebut nama Ismail tidak disebutkan kecuali hanya kata gantinya saja yaitu "anaknya", dan Abraham sama sekali tidak menghiraukan Ismail yang menurut catatan Bibel berusia 16 tahun pada saat itu. Abraham hanya memperlakukan Hagar seorang diri, yaitu dengan memberikan roti dan sekirbat air kepada Hagar, kemudian meletakkannya bersama-sama dengan anaknya di atas bahu Hagar, selanjutnya Abraham menyuruh Hagar pergi dan ia pun pergi mengembara di padang gurun Bersyeba. Sekali lagi, baik Abraham maupun Hagar tidak ada komunikasi sama sekali dengan Ismail. Ini sangat jelas mengindikasikan bahwa kondisi Ismail pada saat itu masih bayi dan belum bisa berbicara!

Dengan demikian, teranglah apa yang disampaikan Alquran mengenai perilaku orang-orang Israel (ahli kitab) di masa lalu yang suka mengubah-ubah dan membuat-buat firman Tuhan, berikut ini:
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka (ahli kitab) akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?" (QS. Albaqarah : 75)

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: 'Ini dari Allah', (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan." (QS. Albaqarah : 79)


Keterangan:
*Dalam Bibel versi bahasa Indonesia (Alkitab Terjemahan Baru), frasa “peganglah erat-erat dia dengan tanganmu” direvisi menjadi “bimbinglah dia” sehingga maknanya menjadi sangat luas. Padahal yang dimaksud “peganglah erat-erat dia dengan tanganmu” adalah makna harfiah/sesungguhnya, yaitu agar Hagar memegang erat-erat Ismail yang masih bayi. Sebagai perbandingan, lihat Bibel versi bahasa Inggris berikut ini:

New American Bible:
Arise, lift up the boy and hold him by the hand; for I will make of him a great nation. (Genesis 21:18)
Douay-Rheims Version:
Arise, take up the boy, and hold him by the hand, for I will make him a great nation. (Genesis 21:18)
King James Version:
Arise, lift up the lad, and hold him in thine hand; for I will make him a great nation. (Genesis 21:18)


Catatan:
  • Tercatat ada dua kejanggalan sebelum peristiwa pengusiran Hagar dan Ismail tersebut, yaitu: (1) Sara meminta Abraham mengusir Hagar dan Ismail hanya karena melihat Ishak, anaknya, bermain dengan Ismail, anak Hagar. Apakah Sara sekejam itu, hanya gara-gara anaknya bermain dengan saudaranya lalu Sara marah besar? (2) Abraham begitu tega mengusir Hagar, istrinya, beserta Ismail, anaknya yang masih "bayi" dan membiarkannya berjalan kaki ratusan kilometer mengembara di gurun Bersyeba menuju gurun Paran. Sekejam itukah Abraham kepada istri dan anaknya demi menuruti keinginan Sara?
  • Kemustahilan kisah pengusiran Hagar dan Ismail di atas, berkonsekuensi pada kemustahilan Paran sebagai tempat tinggal Ismail. Kisah di atas adalah cerita mustahil sehingga nama-nama wilayah yang dilalui/disinggahi Hagar dan Ismail dalam cerita tersebut seperti Bersyeba dan Paran tentunya tidak lebih dari sekedar dongeng atau rekayasa semata.
  • Usia 16 tahun adalah usia minimal Ismail ketika peristiwa pengusiran itu terjadi dengan mengambil asumsi Ishak disapih pada usia dua tahun, hal ini karena Bibel tidak menjelaskan berapa usia Ishak ketika kedapatan oleh Sara sedang bermain dengan Ismail. Seharusnya lebih dari dua tahun.

Terkait Khusus

Keluarga Ibrahim 7528266587945786248

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item