Kumpulan Hadits Adab Jual Beli


Sumber Hadis Mengenai Jual Beli Di bawah ini kami sampaikan beberapa sumber hadist  tentang adab jual-beli atau tata cara umum dalam  bermuamalah dalam berdagang dan jual beli yang diamalkan  pada masa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam antara  lain:

1. Tidak boleh ada pemaksaan transaksi, jadi semua  berdasarkan kebebasan untuk memilih, termasuk memilih  alat tukar. Haram hukumnya memaksakan hanya satu  alat tukar atau memaksakan hanya dinar dan dirham  tertentu saja. Imam Malik menyatakan yang disebut alat  tukar adalah semua komoditi (yang memenuhi syarat  sebagai uang) dan diterima secara umum.

2.  Rasulullah shallalahu alaihi wassalam menyebutkan alat  tukar adalah emas, perak, kurma, gandum, jewawut dan  garam, kalau tidak ada semuanya beras atau komoditas  sejenis diperbolehkan.

3.  Barang siapa yang membuat kontrak, maka hendaknya  kontrak dibuat dalam ukuran yang ditentukan dan harga  yang ditentukan dan harga yang ditentukan serta jadwal  masa (pemenuhan) yang ditentukan pula. (H.R. Muslim,  Kitab al-bay’ah)

4. Tidak halal bagi seorang muslim menjual satu komoditas  yangg memiliki cacat, kecuali cacat tersebut diperlihatkan  kepada pembeli. (H.R. Bukhari)

5.  Dari Abdullah bin Umar r.a., katanya “Rasulullah  shallalahu alaihi wassalam bersabda: “Janganlah kamu  menjual menyaingi harga jual orang lain, dan janganlah  kamu menyongsong membeli barang dagangan sebelum  di bawa ke pasar.”

6.  Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah saw.  bersabda: “Janganlah kamu menyongsong rombongan  orang- orang berkendaraan (kafilah); janganlah kamu  menjual dengan harga menyaingi harga jual orang lain;  janganlah kamu membohongkan harga barang;  janganlah orang kota menjualkan kepunyaan orang  desa; dan jangan menahan air susu kambing, dan  barangsiapa membelinya, ia boleh memilih antara dua  sesudah diperahnya, jika ia suka boleh diteruskannya,  dan jika tidak, boleh dikembalikannya dan ditambah  dengan segantang kurma.”

7. Kecurangan apa yang lebih besar dibandingkan ketika  engkau berbicara dengan saudaramu, ia mungkin berpikir  bahwa engkau mengatakan kebenaran sedang engkau  menipunya dengan mengatakan kebohongan. (H.R.  Bukhari)

8. Bersumpah membuat satu barang terjual namun  menghilangkan berkah. (H.R. Muslim)

9. Hakim ibn Hizam meriwayatkan bahwa Rasulullah saw.  bersabda, “Dalam transaksi jual-beli selalu ada hak  untuk memilih selama keduanya (penjual dan pembeli)  belum berpisah atau hingga keduanya berpisah. Apabila  keduanya jujur dan menjelaskan semuanya, keberkahan  akan bersama jual-beli mereka. Namun bila kedua- duanya menutup-nutupi dan berdusta, niscaya  keberkahan itu tercabut dari keduanya.”

10. Salah satu cara lama yang telah dipraktekan sejak dahulu  adalah menipu dalam berdagang adalah menjual barang  dengan berat atau timbangan yang lebih rendah  dibandingkan standar.

11. Orang yang menimbun barang untuk menaikan harga  bagi muslim adalah orang zalim dan ia bebas dari  tanggung jawab Allah. (Mustadra Hakim, Jilid 2)

12. Dari Abdullah bin Umar r.a., katanya: “Seorang laki-laki  bercerita kepada Rasulullah saw. bahwa dia ditipu  orang dalam hal jual beli. Maka sabda beliau, “Apabila  engkau berjual beli, maka katakanlah: Tidak boleh ada  tipuan.”

13. Orang yang merusak pasar muslim untuk menaikan  harga, maka kewajiban bagi Allah untuk  menjerumuskannya kedalam api yang menyala pada hari  perhitungan. (Musnad, Abu Daud)

14. Abu Sa’id al-Khudzri ra. Meriwayatkan, “Suatu ketika,  Bilal menemui Rasulullah saw. dengan membawa kurma  kualitas bagus. Nabi saw. bertanya kepadanya,  “Darimana kamu dapatkan ini?’ Bilal menjawab, ‘Aku  mempunyai kurma kualitas jelek. Lalu aku beli satu sha’  kurma ini dengan dua sha’ kurmaku.’ Ia melakukan hal  itu untuk memberikan kurma tersebut kepada Nabi saw.  Ketika itu, Nabi saw. bersabda, “Ah.. ah, ini jelas-jelas  riba. Ini jelas-jelas riba. Jangan engkau lakukan hal itu.  Akan tetapi, bila engkau mau, engkau bisa membelinya. Oleh karena itu juallah kurmamu itu dengan jual-beli  yang berbeda, kemudian, barulah engkau membeli  kurma yang bagus.’”

15. Abdullah ibn Abbas ra. meriwayatkan, “Rasulullah saw.  melarang perilaku mencegat pedagang dari pelosok dan  menjual barang bagi orang asing.” Ia mengatakan,  “Lalu aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang  seseorang yang menjual barang bagi orang asing.” Ia  menjawab, “Tidak boleh menjadi orang yang  memonopoli penjualan."

16. Abdullah ibn Umar ra. meriwayatkan, “Rasulullah saw.  melarang Al-muzabanah (menjual sesuatu dengan  sejenisnya tanpa diketahui takarannya, timbangannya,  dan jumlahnya); seseorang menjual buah dari  kebunnya, apabila berupa kurma yang belum kering  menjualnya dengan satu sukat kurma kering, menjual  buah anggur dengan satu sukat kismis, menjual gandum  dengan satu gandum yang sudah bersih. Nabi saw.  melarang semua itu.”

17. Dari Jabir bin Abdullah r.a., katanya: “ Rasulullah  shallalahu alaihi wassalam melarang menjual buah- buahan sebelum masak. Lalu ditanyakan orang kepada  beliau, “Bagaimanakah buah yang masak?” Jawab  Rasulullah, “Kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan  dapat dimakan seketika. Demikian penjelasan singkat kami tentang restorasi pasar dan  perniagaan dalam Islam, semoga ini dapat menjadi jalan bagi  kita semua untuk semakin bertambah keimanan dan  ketakwaan kepada Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah  shallallahu alaihi wassalam. *****

Terkait Khusus

Ekonomi Islam 318567531147521770

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item