Download Documentary Movie "Inside Job" (2010) Jejak Dajjal dalam Ekonomi Barat

Inside Job (2010)
Durasi : 105 Menit
Genre : Documentary, Crime
Tanggal Rilis 2 Februari 2010
Sutradara : Charles Ferguson
Penulis : Charles Ferguson, Chad Beck
Pemain : Matt Damon, William Ackman, Daniel Alpert

'Inside Job' provides a comprehensive analysis of the global financial crisis of 2008, which at a cost over $20 trillion, caused millions of people to lose their jobs and homes in the worst recession since the Great Depression, and nearly resulted in a global financial collapse. Through exhaustive research and extensive interviews with key financial insiders, politicians, journalists, and academics, the film traces the rise of a rogue industry which has corrupted politics, regulation, and academia. It was made on location in the United States, Iceland, England, France, Singapore, and China.
Written by Anonymous

Film yang memenangkan Oscar tahun 2011 melalui kategori Best Documentary Feature ini menceritakan secara gamblang mengenai bencana krisis finansial yang dialami Amerika Serikat tahun 2008 silam. Dibuka dengan bencana finansial yang terjadi di Islandia, sebuah negara di Eropa yang pada awalnya relatif stabil dan memiliki standar kehidupan yang tinggi, film ini mengantarkan kita kepada sebuah permasalahan serupa dengan skala yang lebih besar dan dampak yang lebih sistemik yang terjadi di Amerika Serikat.

Secara implisit, film ini ‘menunjukkan’ strategi dan ulah para pelaku yang menyebabkan krisis ini dengan tajam dan cerdas serta bagaimana Inside Job mengisyaratkan bahwa mereka-mereka inilah yang justru menolak untuk diwawancarai perihal krisis ini.

Nah, ternyata dari kaum Academics juga termasuk. Para ekonom dari beberapa kampus ivy league ternyata juga konsultan kebijakan pemerintah plus senior executives dari perusahaan-perusahaan investasi rakus itu. Hasilnya, seperti yang dibilang sama Dominique Strauss Kahn, Managing Director IMF:

As usual, the poor will always the one who pay the most.

Mereka, yang ada di kelas sosial bawah, harus  rela jadi yang paling menderita. Di Indonesia juga begini kejadiannya.

Sinopsis Film Inside Job (2010) :
Terbagi menjadi 5 rangkaian cerita, membuat film ini menjadi seperti sebuah buku yang menjelaskan kepada kita tentang bagaimana kronologis dan sebab-sebab krisis itu terjadi. Namun, tidak seperti buku teks ekonomi biasa yang cenderung membosankan, sutradara film ini, Charles Ferguson, mampu membalut sebuah bahasan yang berat dalam kemasan yang apik, menarik dan tidak membosankan.

Bagian pertama dari film ini, yang bertajuk How We Got Here, menceritakan tentang penyebab krisis yang telah membuat lima belas juta orang di seluruh dunia tenggelam di bawah garis kemiskinan. Pada awalnya, setelah Great Depression, lembaga-lembaga keuangan di AS diatur secara ketat oleh peraturan pemerintah dan bank-bank tidak diperbolehkan untuk melakukan investasi yang berisiko atas uang para deposannya. Namun, pada tahun 1980-an, lembaga-lembaga keuangan dilepas ke publik dan Presiden Ronald Reagan memulai era deregulasi keuangan yang kini telah berjalan sekitar 30 tahun. Deregulasi itu membuat lembaga-lembaga keuangan memiliki hak untuk memasukkan uang para deposannya ke dalam investasi yang lebih beresiko. Wall Street pun tumbuh semakin besar dan kuat dengan jumlah investasi yang kian meningkat pula.

Pada era 1990-an, beberapa lembaga keuangan melakukan merger dan menyebabkan pasar finansial di AS dikuasai oleh hanya beberapa pemain besar saja. Pemain-pemain besar tersebut kemudian terbukti melakukan fraud dan praktik pencucian uang, namun pemerintah tinggal diam. Pada tahun 1990-an juga ditemukan instrumen keuangan baru, yang disebut dengan derivatif. Instrumen ini ditengarai sebagai instrumen keuangan yang aman, namun pada kenyataannya derivatif telah membuat pasar keuangan menjadi tidak stabil. Beberapa pihak telah mencoba membuat regulasi yang ketat guna mencegah penyalahgunaan instrumen ini, namun usaha tersebut justru digagalkan sendiri oleh pihak pemerintah.

Pada tahun 2001, kembali muncul terobosan yang lebih powerfull dan menguntungkan dalam pasar keuangan, biasa disebut dengan collateralized debt obligation (CDO). CDO merupakan instrumen derivatif gabungan dari kredit perumahan (mortgages), corporate buy-out debt, car loans, student loans, dan juga credit card debts yang dijual oleh bank kepada para investor di seluruh dunia. Dengan sistem ini, bank tidak lagi mengkhawatirkan apakah mortgages yang disalurkan ke masyarakat akan dilunasi atau tidak karena bank telah mendapat uang dari investor sebagai hasil penjualan CDO. Mortgages pun akhirnya banyak diberikan pada orang-orang yang tidak sanggup melunasinya.

Sebagian besar instrumen CDO mendapat peringkat AAA, yaitu peringkat investasi teraman yang setara dengan obligasi pemerintah AS. Namun, hal itu hanya semu belaka karena sistem ini menyimpan resiko bagaikan sebuah bom waktu yang aktif. Lagi-lagi, tidak ada regulasi yang dibuat oleh pemerintah untuk mengatur instrumen ini, dan dampaknya adalah kredit mortgages meningkat sebesar empat kali lipat dalam periode 2002-2006.

Bagian kedua film ini, The Bubble, mengisahkan lebih jauh ketika terjadi periode penggelembungan ekonomi yang terjadi sebelum krisis. Banyaknya kredit perumahan yang disalurkan berdampak pada peningkatan permintaan akan rumah dan pada akhirnya meningkatkan harga rumah itu sendiri secara drastis. Pada tahun 2007, harga perumahan di AS meningkat ekstrim, yaitu sebesar 194%. Yang mendapat dampak manis dari fenomena ini adalah bank-bank di AS yang mengalami peningkatan pendapatan secara signifikan. CEO Lehman Brothers, Richard Fuld, mendapat bonus 485 juta US dolar karena berhasil membawa banknya menjadi top underwiter of subprime lending. Para trader di Wall Street pun tak ketinggalan untuk membawa bonus yang tak kalah besar.

Pada tahun 2006, sebesar 40% keuntungan di pasar modal berasal dari sektor keuangan. Namun, Martin Wolf, Chief Economics Comentator The Financial Times, mengatakan bahwa keuntungan itu bukanlah keuntungan yang nyata.  Keuntungan itu hanyalah sejumlah uang yang terbentuk dari sebuah sistem dan dilabeli sebagai ‘keuntungan.’

Bukannya merumuskan regulasi untuk mencegah dampak sistemik dari kegagalan sistem ini, Security and Exchange Commission (SEC) justru membuat peraturan lain yang lebih kontroversial. SEC menaikkan rasio leverage bank dari 3:1 menjadi 33:1 yang memungkinkan bank untuk mengumpulkan lebih banyak uang lagi dari pinjaman.

Terobosan dalam pasar keuangan yang bagaikan bom waktu ini ternyata tak berhenti sampai disini. AIG, perusahaan asuransi terbesar di AS memunculkan instrumen derivatif baru, yang dinamakan credit default swaps. Bagi para investor yang memiliki CDO, credit default swaps ini berfungsi sebagai asuransi yang akan menutupi kerugian mereka ketika CDO mengalami gagal bayar. Namun, para spekulator yang tidak secara nyata memiliki CDO juga diperbolehkan untuk membeli instrumen derivatif ini. Sistem ini menyebabkan semua pihak dapat mengasuransikan sebuah aset yang sebenarnya sama. Akibatnya adalah ketika aset itu (CDO) mengalami gagal bayar, maka kerugian yang harus ditutupi AIG pun meningkat berkali-kali lipat. AIG pun tidak menyisihkan uang sebagai tindakan preventif atas hal terjadinya ini dan malah meningkatkan bonus untuk para karyawannya dari hasil penjualan credit default swaps sebesar 500 miliar US dolar. Dan tentu saja, yang mendapat bonus paling besar yaitu senilai 315 juta US dolar adalah Head of AIG Financial Products, Joseph Cassano.

Beberapa pakar ekonomi sebenarnya tidak tinggal diam dengan keadaan ini. Mereka mewujudkan keresahan mereka dalam bentuk paper yang mempertanyakan resiko dari instrumen-instrumen investasi yang telah disebutkan di atas. Salah satunya adalah Raghuram G. Rajan, Chief Economist of the IMF, yang mempublikasikan paper berjudul “Has Financial Development Making the World Riskier?” di Annual Jackson Hole Symposium, salah satu konferensi paling elit antar banker sedunia. Pada tahun 2007, Alan Sloan juga mempublikasikan artikel mengenai Goldman Sachs yang menjual CDO yang terdiri dari mortgages yang sepertiganya mengalami gagal bayar.

Goldman Sachs kemudian mengasuransikan CDO-nya dengan credit default swaps dari AIG. Dan ketika tersiar kabar bahwa AIG akan mengalami kebangkrutan, Goldman Sachs kembali mengasuransikan dirinya atas kebangkrutan AIG tersebut sehingga ia tetap mendapat keuntungan. Pada April 2010, para eksekutif Goldman Sachs dipaksa untuk memberikan keterangan di depan kongres mengenai kesengajaan mereka untuk menjual instrumen derivatif yang mereka sebut ‘sampah’ kepada publik.

Namun, ternyata bukan mereka sendiri yang menjual ‘sampah’ kepada publik. Morgan Stanley, Merryll Lynch, J.P. Morgan, dan Lehman Brothers juga meraup keuntungan yang sangat besar atas transaksi-transaksi penjualan ‘sampah’ yang memiliki peringkat investasi AAA. Hal ini juga menjadi simbol kebobrokan lembaga pemeringkat investasi di AS. Di bawah imbalan yang sangat besar, mereka dengan mudahnya memberikan peringkat ‘aman’ pada investasi-investasi yang sebenarnya sama sekali ‘tidak aman.’ Ketika ditanyai kongres mengenai hal ini, mereka dengan mudah menjawab bahwa peringkat yang mereka berikan hanyalah sebatas opini yang mungkin saja bisa salah.

The Crisis, bagian ketiga dari film ini, mengisahkan tentang krisis yang pada awalnya disangkal oleh pemerintah AS namun akhirnya benar-benar terjadi pada tahun 2008. Pemerintah AS mengabaikan peringatan yang telah berkali-kali diberikan oleh IMF dan beberapa pakar ekonomi melalui tulisan-tulisannya. Pada 2008, banyak kredit mortgages pada akhirnya benar-benar mengalami default dan lenders tidak bisa lagi menjual kredit tersebut kepada bank. Pasar CDO pun kolaps meninggalkan para bank dengan pinjaman sebesar ratusan miliar US dolar, CDO, dan real estate yang tidak lagi dapat mereka jual.

Dua bank terbesar AS, Lehman-Brothers dan Merryll Linch, serta salah satu perusahaan penyedia asuransi terbersar, AIG, runtuh pada bulan September 2008 menyebabkan kejatuhan nilai saham pada titik yang sangat rendah dan dampak yang sangat sistematis pada seluruh pasar keuangan. Ironisnya, beberapa hari sebelum kolapsnya ketiga lembaga keuangan tersebut, mereka masih mendapat rating yang tinggi, yaitu AAA dan AA. Tidak ada pihak yang mau disalahkan atas peristiwa ini. Para pelaku pasar menyalahkan pemerintah yang tidak memiliki regulasi kuat mengenai instrumen-instrumen keuangan. Pemerintah sendiri mengaku bahwa mereka tidak bisa memprediksi bahwa krisis ini akan terjadi. Frederic Mishkin, Governor of the Federal Reserve pada saat itu, malah mengundurkan diri dan menyatakan dirinya akan kembali ke kampus untuk menyelesaikan revisi bukunya.

Sesaat setelah kejatuhannya, AIG diambil alih oleh pemerintah dan The Fed meminta kongres untuk mengucurkan dana sebesar 700 miliar US dolar dalam rangka bail out kedua bank tersebut. Tingkat pengangguran di AS dan Eropa meningkat 10% seketika dan dampak ini segera meluas secara global. Sepuluh juta pekerja migran di China turut kehilangan pekerjaannya. Para penduduk AS pun banyak yang kehilangan rumahnya dan terpaksa tinggal di pemukiman yang terdiri dari tenda-tenda.

Bagian keempat dari film ini, Accountability, pada akhirnya membahas mengenai pihak-pihak yang menerima keuntungan atas kolapsnya pasar keuangan AS. Para CEO dan eksekutif bank-bank yang bangkrut tersebut tetap mendapat bonus senilai ratusan juta US dolar dan tidak satupun dikenai sanksi yang berat. Beberapa diantaranya justru kembali ditunjuk oleh presiden Obama untuk memainkan peran penting dalam perekonomian AS.

Keuntungan ternyata tidak hanya diraup oleh para eksekutif, namun juga oleh para akademisi. Mereka yang merupakan pencetus ide dari deregulasi pasar keuangan dan kebijakan-kebijakan ekonomi lainnya mendapatkan bayaran ratusan ribu US dolar untuk setiap jasa konsultan atau analis yang diberikannya. Speaking fee maupun writing fee yang mereka terima atas karya-karya ilmiah yang mendukung deregulasi pasar serta sosialisasi derivatif sebagai instrumen keuangan yang aman juga bernilai ratusan ribu US dolar. Pada akhirnya, timbul pertanyaan apakah profesi akademisi ekonomi akan selalu menimbulkan konflik kepentingan pada para pelakunya?

Bagian penutup, Where Are We Now, menyatakan bahwa krisis ini telah mengakibatkan generasi AS sekarang akan memiliki tingkat pendidikan dan kemapanan yang lebih rendah daripada orang tuanya. Fenomena ini adalah yang pertama kalinya terjadi di AS. Namun, menanggapi dampak yang begitu dramatis, pemerintahan Obama belum menunjukkan gelagat-gelagat akan adanya reformasi keuangan yang serius.

Film ini menunjukkan betapa para eksekutif begitu rakusnya memperkaya diri mereka sendiri. Pesawat pribadi, penthouse di lokasi elit, dan wanita simpanan dari tempat prostitusi kelas tinggi pun tak sanggup memuaskan nafsu mereka. Para eksekutif ini terus melakukan tindakan yang merugikan dengan menjual instrumen keuangan yang beresiko tinggi kepada publik. Mereka tidak peduli pada nasib masyarakat yang harus membiayai kerugian negara dengan uang pajak selama mereka masih bisa meraup bonus bernilai ratusan juta US dolar. Semakin besar kerugian yang mereka timbulkan pada society, maka semakin besar pulalah keuntungan yang dapat mereka ambil, dan mereka tidak akan pernah berhenti melakukannya.



Watch Download Via Streaming VEOH

via archive

MP4
1.6 G

ogv
474 MB
mirror


DOWNLOAD


Terkait Khusus

Politik 2970722910983440878

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item