Revolusi Mental Cara PKI



Revolusi Mental? Itu Cara PKI!
Istilah ‘Revolusi Mental’ ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Istilah ini sudah digunakan oleh Karl Marx pada pertengahan abad 19. Dalam pengantar untuk edisi kedua dari bukunya bertajuk ‘The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte’ yang terbit pada tahun 1869, Marx menulis: “…Outside France, this violent breach with the traditional popular belief, this tremendous mental revolution, has been little noticed and still less understood…” (Di luar Perancis, kekerasan ini melabrak kepercayaan umum yang tradisional, revolusi mental yang luar biasa ini, telah sedikit diketahui dan masih kurang dipahami). Begitu kesimpulan Marx dalam kalimat pengantar buku tersebut. Simpulan Marx itu tentu saja menunjukkan salah-satu inti ajaran Marx tentang kebutuhan akan pertarungan kelas.

Buku kondang Marx itu pertama kali terbit memang pada tahun 1852. Selain Marx, ada sohib karibnya, Frederick Engels, yang juga memberikan kata pengantar. Dibanding Marx, kata pengantar Engels tidak begitu menukik. Ia hanya mengurai saja, apa yang terjadi di Prancis pada masa itu. Justru kata pengantar Marx di edisi kedua (1869) yang secara terang-terangan menyebut perlunya ‘revolusi mental’, pendobrak keyakinan lama.

Bagi Marx, ‘revolusi mental’ merupakan keharusan untuk menata masyarakat, dari tatanan lama menuju ke tatanan baru yang komunistis. Marx dan para pendukungnya mendorong terjadinya ‘revolusi mental’, yang membenturkan kelompok satu ke yang lain. Batasnya, siapa yang ikut mentalnya direvolusi, dan siapa yang tidak.

Tak pelak, karya Marx menjadi sumber inspirasi bagi gerakan komunis internasional. Dimulai dari gerakan kelas pekerja pada 1864 kemudian 1889, lalu 1919, nyaris seluruh aktivis gerakan ini bersandar pada ‘revolusi mental’. Mereka memilah siapa kawan siapa lawan, lalu berusaha memengaruhi publik lewat agitasi propaganda. Masuk ke masyarakat, mempengaruhi komunitas buruh, menyelusup ke pasar dan pusat keramaian untuk memprovokasi warga. Ini bagian dari cara ‘revolusi mental’.

Walau tak harus tersurat, tetapi cara itu tersirat dalam hampir semua karya Marx pada kurun berikutnya. Karya-karya yang gampang dicari di berbagai situs internet dewasa ini. Sulit rasanya menepis anggapan, bahwa Marx tak mendorong ‘revolusi mental’ itu.

Khusus untuk mengubah cara berpikir, para konseptor aksi komunis pada periode berikutnya, juga meniru Marx. Dari 1864 sampai 1872, para pengikut Karl Marx, seperti Eugene Pottier (penyair Prancis) dan Wilhelm Liebknecht (revolusioner Jerman), mulai menata diri dalam ‘Internasional Pertama’ yang berbasis di London. Hubungan mereka sangat erat pada kaum pekerja di kota tersebut. Mereka juga menulis selebaran. Disebarkan secara luas, lalu dilihat reaksi masyarakat.

Intinya, para pelopor komunisme sudah terbiasa menyebarkan pandangan-pandangan yang mengadu-domba satu kelompok dengan kelompok lain demi sebuah ‘revolusi mental’. Seperti yang dilakukan Georgi Plekhanov di Rusia. Ia memanas-manasi para penggarap lahan agar bentrok dengan pemilik tanah. Sangat mirip kelak dengan aksi Nyoto tatkala menggerakkan pemuda rakyat di lapangan.

Jika Marx lebih banyak memotret dinamika di Eropa utara (Prancis, Jerman dan Spanyol), maka Vladimir Illich Lenin (VI Lenin) lebih fokus pada negerinya, Rusia. Seperti juga Marx, Lenin banyak menulis selebaran untuk dibagi ke khalayak. Tujuannya, menggerakkan masyarakat Rusia melawan Tsar Rusia kala itu.

Dalam karyanya berjudul ‘State and Revolution’ yang diterbitkan pertama kali pada 1918, Lenin secara tersirat menyebutkan perlunya aksi dramatis menyingkirkan kaum kapitalis dan birokrat. Dalam kitab itu, Lenin lebih tegas menekankan pentingnya ‘jiwa revolusioner’ dibersihkan dari kaum borjuis dan oportunis.

Lenin beranggapan gerakan Internasional Kedua (1889-1914), dikomandani Karl Kautsky, sudah jatuh bangkrut. Sebabnya, tulis Lenin, belum ada revolusi yang bisa menggerakkan kaum proletar (miskin) guna menggusur para kapitalis. Karenanya, Lenin menyodorkan cara menggerakkan massa melalui penjelasan-penjelasan provokatif, membenturkan satu bagian rakyat kepada bagian yang lain. Tak perlu diragukan, itulah cara ‘revolusi mental’ guna memulai benturan antar warga masyarakat.

Namun, harap jangan mencari istilah ‘revolusi mental’ itu ke dalam buku ‘Manifesto Komunis’ yang terbit pada 1848. Percuma. Sebab, istilah itu tak ada dalam buku ‘Manifesto Komunis’. Dalam manifesto, Marx lebih suka menggambarkan pertarungan kelas, contohnya kelas borjuis lawan kelas proletar. Walau terbit lebih awal, manifesto komunis sebenarnya hanya untuk kebutuhan praktis.
Kebangkitan Komunis Indonesia

Sejarah mencatat, kebangkitan kelompok komunis di Hindia Belanda (kini Indonesia) berkat campur tangan Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau kondang dipanggil Henk Sneevliet. Pria yang sebelumnya sudah menjadi anggota komunis Belanda itu juga merupakan organisator Komintern (Komunis Internasional). Begitu menginjakkan kaki di Kota Surabaya sekitar tahun 1913, Sneevliet bergabung dengan redaksi koran ‘Soerabajaasch Handelsblad’.

Pada 9 Mei 1914, Sneevliet membentuk ‘Indische Sociaal Democratische Vereniging’ (ISDV, perkumpulan sosial-demokrat Hindia Belanda) di kota yang sama. Melalui perkumpulan ini, Sneevliet melancarkan kampanye hitam pada organisasi lain yang tidak sehaluan. Sebaliknya, ia juga mulai aktif merekrut orang Indonesia untuk menjadi juru penyebar kampanye hitam, seperti Semaun.
Sneevliet juga kemudian bersentuhan secara luas dengan para aktivis Sarekat Islam (SI) yang lain, semisal Alimin Prawirodirjo dan Darsono. Gagasan Sneevliet yang kuat dipengaruhi ajaran Marxisme mulai ditularkan ke para aktivis SI. Mereka terpengaruh, terutama pada ajaran Marxisme yang menyebutkan ‘Agama adalah Candu bagi Rakyat’. Akibatnya, mereka pun mulai membatasi diri dari pergaulan dengan sejawat dalam SI. Kedekatan dengan Sneevliet sudah mengubah diri mereka. Pengaruh gagasan ‘revolusi mental’ ala Marxisme mulai merasuki jiwa dan pikiran sejumlah aktivis SI. Berbagai bahan bacaan yang diperkenalkan Sneevliet dan dialog-dialog bersamanya telah mampu menggoyahkan keyakinan para aktivis SI ‘Merah’.

Dalam bukunya berjudul ‘The Rise of Indonesian Communism’ (1965), peneliti Ruth McVey juga melukiskan hubungan kerja Sneevliet dengan Adolf Baars. Pria yang juga disebut dalam sejarah sebagai salah-satu tokoh pendiri komunisme di Indonesia. Baars banyak menyurahkan waktunya membantu Sneevliet. Selama berbulan-bulan Sneevliet terus memengaruhi para anak-didiknya. Campur-tangan Sneevliet ke dalam aktivitas SI mengakibatkan organisasi yang berdiri tahun 1912 itu pecah. Semaun dan rekan-rekan sehaluan yang sudah tercuci otaknya, lebih memilih bergabung dengan Sneevliet. Mereka begitu terpesona dengan komentar-komentar Sneevliet.
Program cuci otak Sneevliet ternyata mujarab. Setelah membersihkan para aktivis itu dari pikiran-pikiran religius, lalu Sneevliet mengisinya dengan ajaran-ajaran Marxis yang anti-agama. Dalam testimoni tulisannya yang terbit pada tahun 1926 bertajuk ‘The class struggle element in the liberation struggle of the Indonesian people’, Sneevliet mengakui telah menyuntikkan gagasan revolusioner ke dalam SI.

Kata ‘revolusioner’ bagi komunis seperti Sneevliet, tentu saja, bermakna menyerabut seseorang dari lingkungan asal. Taktik serupa juga diungkapkan Lenin pada tahun 1918. Semaun, Alimin dan Darsono merupakan contoh bagaimana kepribadiannya sudah dicerabut dari SI.
Mental mereka telah direvolusi sedemikian rupa, sehingga mudah menjadi boneka komunis. Kelak di kemudian hari, usai Konferensi Batavia pada Januari 1926, para kader komunis yang sudah tercuci otaknya tersebut melakukan kesepakatan untuk aksi sepihak. Mereka tak mau memerhitungkan syarat-syarat keberhasilan suatu aksi. Sebab, bagi Alimin dan kawan-kawannya, yang terpening adalah beraksi frontal. Tak peduli akan jatuh korban banyak.

Komintern sudah sepenuhnya mengendalikan pikiran para petualang politik ini. Mereka tak lagi bebas menentukan sikap. ‘Revolusi mental’ yang digarap kalangan internal PKI dengan dukungan Sarekat Rakyat (SR) kian mendorong aksi pemberontakan Alimin dan pendukungnya di Banten dan Silungkang, Sumatera Barat pada 1926-1927. Pemberontakan ini gagal. Akibatnya, mereka jadi buronan pemerintah Hindia Belanda.

PKI dan Revolusi Mental
Jika ulasan-ulasan DN Aidit atau MH Lukman dibaca, maka segera tersirat keinginan kuat para pentolan PKI itu untuk melakukan ‘revolusi mental’. Memang, secara tersurat sulit menemukan istilah ‘revolusi mental’ dalam karya-karya tulis para tokoh PKI tersebut. Namun, indikasi kuat segera tampak manakala membaca karya mereka.

Seperti penggambaran Departemen Agitasi dan Propaganda (Depagitprop) pada tahap revolusi masyarakat Indonesia. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1958 berjudul ‘ABC Politik Indonesia’, secara jelas tertulis desakan PKI agar dilakukan revolusi tanpa perlu menimbang akibat-akibat negatifnya. Brosur PKI yang disebar ke masyarakat itu berusaha menjelaskan alasan mengapa perlu suatu revolusi. Diantaranya, PKI beranggapan penciptaan masyarakat sosialis hanya bisa terwujud melalui revolusi komunis.

PKI menyembunyikan fakta betapa besar korban yang timbul akibat revolusi Rusia. Organisasi komunis ini secara sengaja tidak menyodorkan risiko-risiko akibat revolusi. Bagi para tokoh PKI, program cuci-otak masyarakat perlu dimulai dengan menyebarkan pamflet berisi ajakan revolusi. Memang, di dalam pamflet-pamflet PKI selalu disebut alasan di balik revolusi itu, hanya saja pamflet itu tidak pernah menuliskan dampak revolusi. Sehingga sadar atau tidak, siapapun yang tidak kritis membaca pamflet PKI, maka ia akan mudah tercuci-otaknya.

Pelan namun pasti, program-program cuci-otak ala PKI tersebut menyasar bukan saja ke kalangan kota, melainkan hingga ke desa-desa. Pamflet dan program disebarkan dengan bahasa sederhana, tapi bisa memengaruhi cara berpikir orang awam. Sejak akhir tahun 1958, para pengurus teras PKI membekali juru kampanyenya dengan trik-trik kotor mencuci otak warga. Seperti dengan membuat kampanye hitam pada lawan-lawan politik PKI.

Diantaranya menjuluki Masjumi dan PSI sebagai kepala batu. Dalam Kongres Nasional ke-VI PKI di Jakarta, Wakil Sekjen CC PKI Njoto pada pidato 9 September 1959 menuding parpol yang kritis sebagai ‘kepala batu’. Njoto pula yang aktif turun ke lapangan memengaruhi para kader-kader PKI agar rajin memprovokasi khalayak umum.

Revolusi Mental? Itu Cara PKI!
Istilah ‘Revolusi Mental’ ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Istilah ini sudah digunakan oleh Karl Marx pada pertengahan abad 19. Dalam pengantar untuk edisi kedua dari bukunya bertajuk ‘The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte’ yang terbit pada tahun 1869, Marx menulis: “…Outside France, this violent breach with the traditional popular belief, this tremendous mental revolution, has been little noticed and still less understood…” (Di luar Perancis, kekerasan ini melabrak kepercayaan umum yang tradisional, revolusi mental yang luar biasa ini, telah sedikit diketahui dan masih kurang dipahami). Begitu kesimpulan Marx dalam kalimat pengantar buku tersebut. Simpulan Marx itu tentu saja menunjukkan salah-satu inti ajaran Marx tentang kebutuhan akan pertarungan kelas.

Buku kondang Marx itu pertama kali terbit memang pada tahun 1852. Selain Marx, ada sohib karibnya, Frederick Engels, yang juga memberikan kata pengantar. Dibanding Marx, kata pengantar Engels tidak begitu menukik. Ia hanya mengurai saja, apa yang terjadi di Prancis pada masa itu. Justru kata pengantar Marx di edisi kedua (1869) yang secara terang-terangan menyebut perlunya ‘revolusi mental’, pendobrak keyakinan lama.

Bagi Marx, ‘revolusi mental’ merupakan keharusan untuk menata masyarakat, dari tatanan lama menuju ke tatanan baru yang komunistis. Marx dan para pendukungnya mendorong terjadinya ‘revolusi mental’, yang membenturkan kelompok satu ke yang lain. Batasnya, siapa yang ikut mentalnya direvolusi, dan siapa yang tidak.

Tak pelak, karya Marx menjadi sumber inspirasi bagi gerakan komunis internasional. Dimulai dari gerakan kelas pekerja pada 1864 kemudian 1889, lalu 1919, nyaris seluruh aktivis gerakan ini bersandar pada ‘revolusi mental’. Mereka memilah siapa kawan siapa lawan, lalu berusaha memengaruhi publik lewat agitasi propaganda. Masuk ke masyarakat, mempengaruhi komunitas buruh, menyelusup ke pasar dan pusat keramaian untuk memprovokasi warga. Ini bagian dari cara ‘revolusi mental’.

Walau tak harus tersurat, tetapi cara itu tersirat dalam hampir semua karya Marx pada kurun berikutnya. Karya-karya yang gampang dicari di berbagai situs internet dewasa ini. Sulit rasanya menepis anggapan, bahwa Marx tak mendorong ‘revolusi mental’ itu.

Khusus untuk mengubah cara berpikir, para konseptor aksi komunis pada periode berikutnya, juga meniru Marx. Dari 1864 sampai 1872, para pengikut Karl Marx, seperti Eugene Pottier (penyair Prancis) dan Wilhelm Liebknecht (revolusioner Jerman), mulai menata diri dalam ‘Internasional Pertama’ yang berbasis di London. Hubungan mereka sangat erat pada kaum pekerja di kota tersebut. Mereka juga menulis selebaran. Disebarkan secara luas, lalu dilihat reaksi masyarakat.

Intinya, para pelopor komunisme sudah terbiasa menyebarkan pandangan-pandangan yang mengadu-domba satu kelompok dengan kelompok lain demi sebuah ‘revolusi mental’. Seperti yang dilakukan Georgi Plekhanov di Rusia. Ia memanas-manasi para penggarap lahan agar bentrok dengan pemilik tanah. Sangat mirip kelak dengan aksi Nyoto tatkala menggerakkan pemuda rakyat di lapangan.

Jika Marx lebih banyak memotret dinamika di Eropa utara (Prancis, Jerman dan Spanyol), maka Vladimir Illich Lenin (VI Lenin) lebih fokus pada negerinya, Rusia. Seperti juga Marx, Lenin banyak menulis selebaran untuk dibagi ke khalayak. Tujuannya, menggerakkan masyarakat Rusia melawan Tsar Rusia kala itu.

Dalam karyanya berjudul ‘State and Revolution’ yang diterbitkan pertama kali pada 1918, Lenin secara tersirat menyebutkan perlunya aksi dramatis menyingkirkan kaum kapitalis dan birokrat. Dalam kitab itu, Lenin lebih tegas menekankan pentingnya ‘jiwa revolusioner’ dibersihkan dari kaum borjuis dan oportunis.

Lenin beranggapan gerakan Internasional Kedua (1889-1914), dikomandani Karl Kautsky, sudah jatuh bangkrut. Sebabnya, tulis Lenin, belum ada revolusi yang bisa menggerakkan kaum proletar (miskin) guna menggusur para kapitalis. Karenanya, Lenin menyodorkan cara menggerakkan massa melalui penjelasan-penjelasan provokatif, membenturkan satu bagian rakyat kepada bagian yang lain. Tak perlu diragukan, itulah cara ‘revolusi mental’ guna memulai benturan antar warga masyarakat.
Namun, harap jangan mencari istilah ‘revolusi mental’ itu ke dalam buku ‘Manifesto Komunis’ yang terbit pada 1848. Percuma. Sebab, istilah itu tak ada dalam buku ‘Manifesto Komunis’. Dalam manifesto, Marx lebih suka menggambarkan pertarungan kelas, contohnya kelas borjuis lawan kelas proletar. Walau terbit lebih awal, manifesto komunis sebenarnya hanya untuk kebutuhan praktis.

Kebangkitan Komunis Indonesia
Sejarah mencatat, kebangkitan kelompok komunis di Hindia Belanda (kini Indonesia) berkat campur tangan Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau kondang dipanggil Henk Sneevliet. Pria yang sebelumnya sudah menjadi anggota komunis Belanda itu juga merupakan organisator Komintern (Komunis Internasional). Begitu menginjakkan kaki di Kota Surabaya sekitar tahun 1913, Sneevliet bergabung dengan redaksi koran ‘Soerabajaasch Handelsblad’.

Pada 9 Mei 1914, Sneevliet membentuk ‘Indische Sociaal Democratische Vereniging’ (ISDV, perkumpulan sosial-demokrat Hindia Belanda) di kota yang sama. Melalui perkumpulan ini, Sneevliet melancarkan kampanye hitam pada organisasi lain yang tidak sehaluan. Sebaliknya, ia juga mulai aktif merekrut orang Indonesia untuk menjadi juru penyebar kampanye hitam, seperti Semaun.
Sneevliet juga kemudian bersentuhan secara luas dengan para aktivis Sarekat Islam (SI) yang lain, semisal Alimin Prawirodirjo dan Darsono. Gagasan Sneevliet yang kuat dipengaruhi ajaran Marxisme mulai ditularkan ke para aktivis SI. Mereka terpengaruh, terutama pada ajaran Marxisme yang menyebutkan ‘Agama adalah Candu bagi Rakyat’. Akibatnya, mereka pun mulai membatasi diri dari pergaulan dengan sejawat dalam SI. Kedekatan dengan Sneevliet sudah mengubah diri mereka. Pengaruh gagasan ‘revolusi mental’ ala Marxisme mulai merasuki jiwa dan pikiran sejumlah aktivis SI. Berbagai bahan bacaan yang diperkenalkan Sneevliet dan dialog-dialog bersamanya telah mampu menggoyahkan keyakinan para aktivis SI ‘Merah’.

image

Dalam bukunya berjudul ‘The Rise of Indonesian Communism’ (1965), peneliti Ruth McVey juga melukiskan hubungan kerja Sneevliet dengan Adolf Baars. Pria yang juga disebut dalam sejarah sebagai salah-satu tokoh pendiri komunisme di Indonesia. Baars banyak menyurahkan waktunya membantu Sneevliet. Selama berbulan-bulan Sneevliet terus memengaruhi para anak-didiknya. 

Campur-tangan Sneevliet ke dalam aktivitas SI mengakibatkan organisasi yang berdiri tahun 1912 itu pecah. Semaun dan rekan-rekan sehaluan yang sudah tercuci otaknya, lebih memilih bergabung dengan Sneevliet. Mereka begitu terpesona dengan komentar-komentar Sneevliet.

Program cuci otak Sneevliet ternyata mujarab. Setelah membersihkan para aktivis itu dari pikiran-pikiran religius, lalu Sneevliet mengisinya dengan ajaran-ajaran Marxis yang anti-agama. Dalam testimoni tulisannya yang terbit pada tahun 1926 bertajuk ‘The class struggle element in the liberation struggle of the Indonesian people’, Sneevliet mengakui telah menyuntikkan gagasan revolusioner ke dalam SI.

Kata ‘revolusioner’ bagi komunis seperti Sneevliet, tentu saja, bermakna menyerabut seseorang dari lingkungan asal. Taktik serupa juga diungkapkan Lenin pada tahun 1918. Semaun, Alimin dan Darsono merupakan contoh bagaimana kepribadiannya sudah dicerabut dari SI.

Mental mereka telah direvolusi sedemikian rupa, sehingga mudah menjadi boneka komunis. Kelak di kemudian hari, usai Konferensi Batavia pada Januari 1926, para kader komunis yang sudah tercuci otaknya tersebut melakukan kesepakatan untuk aksi sepihak. Mereka tak mau memerhitungkan syarat-syarat keberhasilan suatu aksi. Sebab, bagi Alimin dan kawan-kawannya, yang terpening adalah beraksi frontal. Tak peduli akan jatuh korban banyak.

Komintern sudah sepenuhnya mengendalikan pikiran para petualang politik ini. Mereka tak lagi bebas menentukan sikap. ‘Revolusi mental’ yang digarap kalangan internal PKI dengan dukungan Sarekat Rakyat (SR) kian mendorong aksi pemberontakan Alimin dan pendukungnya di Banten dan Silungkang, Sumatera Barat pada 1926-1927. Pemberontakan ini gagal. Akibatnya, mereka jadi buronan pemerintah Hindia Belanda.

PKI dan Revolusi Mental
Jika ulasan-ulasan DN Aidit atau MH Lukman dibaca, maka segera tersirat keinginan kuat para pentolan PKI itu untuk melakukan ‘revolusi mental’. Memang, secara tersurat sulit menemukan istilah ‘revolusi mental’ dalam karya-karya tulis para tokoh PKI tersebut. Namun, indikasi kuat segera tampak manakala membaca karya mereka.

Seperti penggambaran Departemen Agitasi dan Propaganda (Depagitprop) pada tahap revolusi masyarakat Indonesia. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1958 berjudul ‘ABC Politik Indonesia’, secara jelas tertulis desakan PKI agar dilakukan revolusi tanpa perlu menimbang akibat-akibat negatifnya. Brosur PKI yang disebar ke masyarakat itu berusaha menjelaskan alasan mengapa perlu suatu revolusi. Diantaranya, PKI beranggapan penciptaan masyarakat sosialis hanya bisa terwujud melalui revolusi komunis.

PKI menyembunyikan fakta betapa besar korban yang timbul akibat revolusi Rusia. Organisasi komunis ini secara sengaja tidak menyodorkan risiko-risiko akibat revolusi. Bagi para tokoh PKI, program cuci-otak masyarakat perlu dimulai dengan menyebarkan pamflet berisi ajakan revolusi. Memang, di dalam pamflet-pamflet PKI selalu disebut alasan di balik revolusi itu, hanya saja pamflet itu tidak pernah menuliskan dampak revolusi. Sehingga sadar atau tidak, siapapun yang tidak kritis membaca pamflet PKI, maka ia akan mudah tercuci-otaknya.

Pelan namun pasti, program-program cuci-otak ala PKI tersebut menyasar bukan saja ke kalangan kota, melainkan hingga ke desa-desa. Pamflet dan program disebarkan dengan bahasa sederhana, tapi bisa memengaruhi cara berpikir orang awam. Sejak akhir tahun 1958, para pengurus teras PKI membekali juru kampanyenya dengan trik-trik kotor mencuci otak warga. Seperti dengan membuat kampanye hitam pada lawan-lawan politik PKI.

Diantaranya menjuluki Masjumi dan PSI sebagai kepala batu. Dalam Kongres Nasional ke-VI PKI di Jakarta, Wakil Sekjen CC PKI Njoto pada pidato 9 September 1959 menuding parpol yang kritis sebagai ‘kepala batu’. Njoto pula yang aktif turun ke lapangan memengaruhi para kader-kader PKI agar rajin memprovokasi khalayak umum.

Aksi Njoto itu merupakan wujud dari langkah-langkah PKI untuk mencuci otak masyarakat. Semua fakta diputar-balik oleh Njoto, demi kepentingan program ‘revolusi mental’ di masyarakat. Langkah serupa juga dilakukan Aidit. Ia bukan saja gemar menjelaskan tahap-tahap pembentukan masyarakat Indonesia ke berbagai kalangan di dalam negeri, bahkan sampai ke luar negeri pun dilakukan Aidit.
Ketika berkunjung ke Sekolah Tinggi Partai Komunis Cina di Peking, RRT, pada 2 September 1963, DN Aidit begitu antusias menjelaskan tahap perkembangan masyarakat Indonesia. Tahap-tahap itu tentu sangat penting bagi PKI. Sebab, dari tahap-tahap inilah kemudian PKI bisa merancang aksi cuci-otak.

Boleh dikata, tahap-tahap perkembangan masyarakat Indonesia yang dibuat PKI itu sesungguhnya merupakan pemetaan terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Dari pemetaan tersebut, maka tentu saja mudah untuk membidik berbagai kalangan yang hendak direvolusi mentalnya. Jika bidikan ini berhasil, maka PKI kemudian akan mudah menggerakkan mereka. TIM

Sumber : http://indonesianote.wordpress.com/2014/09/16/revolusi-mental-jokowi-itu-adalah-pki/

Terkait Khusus

Realita Akhir Zaman 5057121555672120251

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item