Heart

Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum.wr.wb Sobat muslim yg dicintai Allah swt, waktu kali ini ibarat sbuah ksempatan, untuk ...


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum.wr.wb


Sobat muslim yg dicintai Allah swt, waktu kali ini ibarat sbuah ksempatan, untuk memperbaiki kesalahan yg tlh kita perbuat, maka dengan itu, sdh sepantasnya kita bersyukur kpda Allah swt dengan memujiNya lewat perkataan perbuatan dan sikap yang lebih baik lagi, agar Allah menempatkan kita sbg org yg beruntung, salawat dan salam kita berikan kepada nabi Muhammad saw. Nabi terakhir, penutup para nabi
Ada 2 macam pandangan hati yang bermasalah

1) Hati yang sakit (al Qalbu al Maridh)
Perumpamaan bagi orang yang hatinya sakit adalah ia tak ubahnya seperti gelas kotor dan kusam yang tak pernah dibersihkan, lalu diisi air keruh. Perhatikanlah bahwa, jangankan memasukan sebutir debu yang kasat mata ke dalamnya, benda-benda seperti paku payung, jarum, silet atau pula patahan pisau cutter sekalipun tidak akan tarnpak terlihat. Yang terlihat tak pemah berubah, yaitu hanya kotor dan kusamnya gelas
Dari Hudzaifah bin , Yaman r,a. Rasulullah SAW pemah bersabda, " Bencana (fitnah) menyerang hati seperti teranianya tikar seutas-seutas, Maka hati yang menerima bintik- bintik fitnah tersebut, akan tertitiklah pada noktah-noktah hitam, sedangkan hati yang tidak menerimanya, akan tergoreslah padanya titik-titik putih, Akibatnya, hati ter-bagi menjadi dua bagian, Pertama, hati yang hitam legam, cekung bagaikan sebuah gayung terbalik (tertelungkup) , Tidak kenal yang rnakruf dan tidak ingkar kepada yang munkar, kecuali apa-apa yang diserap oleh hawa nafsunya, Kedua, hati yang cerah dan putih bersih, yang tidak ternodai fitnah selama bumi dan langit terbentang"[H.R Muslim].
                Padahal hati serupa bejana, selama bejana itu berisi air, rnaka udara tidak akan bisa masuk Begitu pula hati yang disibukan dengan hawa nafsu, sifat tamak, dan mementingkan dunia sehingga lalai terhadap Allah, maka tidak akan dapat masuk ke dalam hati tersebut perasaan makrifat dan penampakan keagungan Allah SWT Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, "Andaikan syetan-syetan itu tidak mengerubungi hati anak Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam malaikat yang ada di langit" [H. R. Ahmad]

2. Hati yang mati (al Qalbu al Mayyit)
Hati yang mati adalah hati yang sepenuhnya dikuasai hawa nafsu sehingga ia terhijab dari mengenal Tuhannya. Hari-harinya adalah hari-hari penuh kesombongan terhadap allah, sama sekali ia tidak mau beribadah kepada-Nya, dia juga tidak mau menjalankan perintah dan apa-apa yang diridhai-Nya. Hati model ini berada dan berjalan bersama hawa nafsu dan keinginan-nya walaupun sebenarya hal itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia sudah tak peduli, apakah Allah ridha kepadanya atau tidak? Sungguh, ia telah berhamba kepada selain Allah. Bila mencintai sesuatu, ia mencintainya karena hawa nafsunya. Begitu pula apabila ia menolak, mencegah, membenci sesuatu juga karena hawa nafsunya. Hawa nafsu telah menguasai dan bahkan menjadi pemimpin dan pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah sopirnyKemana saja ia bergerak, maka gerakannya benar-benar telah diselubungi oleh pola pikir meraih kesenangan duniawi semata. Pendek kata, hatinya telah tertutup oleh lapisan kegelapan cinta dunia dan mempertaruhkan hawa nafsu.
Sesungguhnya amalan-amalan hati memiliki nilai dan kedudukan yang sangat tinggi, memperhatikan dan berilmu dengannya adalah termasuk al-maqashid (tujuan) bukan sekedar wasa`il (sarana dan perantara). Karenanya termasuk perkara yang terpenting adalah menjelaskan urgensi dan kedudukannya dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunah, serta menjelaskan berbagai maslahat yang lahir dari baiknya hati serta semua mafsadat yang lahir dari jeleknya hati. Karenanya Allah   mengingatkan, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Pembahasan mengenai amalan-amalan hati termasuk pembahasan yang sangat panjang di dalam kitab-kitab para ulama, dan membahas semua itu tentunya akan memakan waktu yang sangat lama. Karenanya pada kesempatan yang ringkas ini kita hanya akan membicarakan beberapa poin yang berkenaan dengannya:
a)   
Definisi dan tempat hati.
b)    Kedudukan hati.
c)    Perbandingan antara hati dengan pendengaran dan penglihatan.
d)    Hal-hal yang memperbaiki hati.
e)    Hal-hal yang merusak hati.
f)    Yang dimaksud dengan amalan hati.
g)    Hukum amalan hati dari sisi pahala dan dosa.
h)    Keutamaan amalan hati dibandingkan amalan jawarih (anggota tubuh).
i)    Pembagian manusia dalam mengamalkan amalan hati.

Pertama: Definisi dan letak hati.
dalam risalah Mu’jam Maqayis Al-Lughah, Kata hati (arab: qalbun) mempunyai dua penggunaan dalam bahasa:
a.    Menunjukkan bagian yang paling murni dan paling mulia dari sesuatu.
b.    Bermakna merubah dan membalik sesuatu dari satu posisi ke posisi lain.
Kedua makna ini sesuai dengan makna hati secara istilah, karena hati merupakan bagian yang paling murni dan paling mulia dari seluruh makhluk hidup yang mempunyainya, dan dia juga sangat rawan untuk berbolak-balik dan berubah haluan. Nabi  bersabda:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.” (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik )
Adapun letaknya, maka Al-Qur`an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa dia terletak di dalam dada. Allah  berfirman, “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)
Dan Nabi  juga bersabda tentang ketaqwaan, “Ketakwaan itu di sini, ketakwaan itu di sini,” seraya beliau menunjuk ke dada beliau(HR. Muslim dari Abu Hurairah). Dan tempat ketakwaan tentunya adalah dalam hati.
(Allah melihat manusia dari ketaqwaan Ketaqwaan ada dalam hati)
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat berakal dengannya.” (QS. Al-Hajj: 46)
jadi kelogisan akal pikiran kita, jika tidak diiringi oleh perasaan hati yang bersih, maka akal tsb dapat saja menyesatkan kita dalam hal berbuat maksiat, berbuat dosa dan selalu mencari celah kemaksiatan dengan kelicikan akal dan dengan syubhatlah sebagai pedomannya.

Poin yang Kedua:  Kedudukan hati.
Nabi  bersabda dalam hadits Ibnu Mas’ud:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam
tubuh ada segumpal daging yang kalau dia baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, dan kalau dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah di adalah hati.” (Muttafaqun alaih)

Ketiga: Perbandingan antara hati dengan pendengaran dan penglihatan.
Ketiga anggota tubuh ini merupakan anggota tubuh terpenting pada tubuh manusia karena pada ketiganyalah semua ilmu dan pengetahuan berputar. Allah  berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra`: 36) Allah mengkhususkan penyebutkan ketiganya di antara semua anggota tubuh lainnya karena merekalah anggota tubuh yang paling mulia dan paling sempurna. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyebutkan perbandingan ketiga anggota tubuh ini dalam Al-Majmu’ Al-Fatawa (9/310) yang kesimpulannya sebagai berikut:
Penglihatan adalah yang terendah di antara ketiganya karena dia hanya bisa mengetahui sesuatu yang terlihat pada saat itu, berbeda halnya dengan pendengaran dan hati karena kedua bisa mengetahui sesuatu yang tidak terlihat, baik yang terjadi di zaman dahulu maupun di zaman yang akan datang. Kemudian pendengaran dan hati berbeda dari sisi: Hati itu sendiri bisa memahami sesuatu sementara pendengaran hanya berfungsi sebagai pengantar ucapan -yang berisi ilmu- kepada hati.

Keempat: Hal-hal yang merusak hati.

a.    Melampaui batas dalam semua perkara.
Allah Ta’ala berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1)
Dan Allah   berfirman, “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
-kekenyangan, malas
-berpoya poya dg harta tanpa melihat dan merasakan orang2 yg menderita kelaparan, menderita kemiskinan adalah cara yang paling jitu untuk merusak bahkan mematikan hati, krn dg itu hati kita akan membeku, akibatnya tak ada perasaan dan kepedulian kepada sesama sehingga melalaikan kita untuk bersyukur pada Allah swt krn kita telah disibukan oleh kesenangan2 sesaat, kesenangan2 dunia yg memabukan seingga kita terasa nyaman berada dalam koridor itu. Ibarat rokok, kita sudah kecanduan yang akhirnya malah melupakan bahwa apapun yg terjadi, apapun yg diterimanya adalah dari Allah yang maha memberi rizki. (naudzubillahimindzalik)

b.    Memakan makanan yang haram.
Karena makanan merupakan salah satu unsur pembentuk hati, dan telah shahih dari Nabi  bahwa beliau bersabda, “Daging mana saja yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas baginya.”

c.    Tenggelam dalam mengejar dunia.
Telah datang tahdziran dari Allah dan Rasul-Nya mengenai fitnah dunia, di antaranya Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.” (QS. Muhammad: 36)
ini mengartikan bahwa kehidupan sesungguhnya, yang haqiqi adalah hanya kehidupan akhirat, kehidupan akhirat itu bkn main2, bukan sanda gurau. boleh saja di dunia ini senang, tp nanti di alam abadi bisa menderita. Mungkin saja di dunia ini sulit, tp nanti di akhirat slalu dipenuhi dengan rahmat Allah swt. Orang cerdas sudah seharusnya tidak mengambil kesenangan yang sesaat, yang sanda gurau dan hanya main2.

Dan Rasulullah  telah bersabda dalam hadits Abu Said Al-Khudri :
فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Maka takutlah kalian kepada fitnah dunia dan takutlah kalian kepada fitnah wanita, karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah dalam masalah wanita.” (HR. Musli
m)

Kelima: Hal-hal yang memperbaiki hati.
Jumlahnya sangatlah banyak, di antaranya:

a.    Al-mujahadah (kesungguhan) dalam memperbaikinya.
Tidak setengah setengah, inimah malem tahajud, tapi wktu pagi hari sdh brmaksiat lagi,,itu sama aja bokis donk
Allah   berfirman, “Dan orang-orang yang bermujahadah untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Abu Hafsh An-Naisaburi berkata, “Saya menjaga hatiku selama dua puluh tahun kemudian dia yang menjagaku selama dua puluh tahun.” (Nuzhah Al-Fudhala`: 1205)

b.    Banyak mengingat kematian dan hari akhirat.
Rasulullah  bersabda dalam hadits Abu Hurairah :
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yakni kematian”(HR. Imam Empat kecuali Abu Daud)
Dan beliau juga bersabda tentang ziarah kubur, “Karena sesungguhnya dia mengingatkan kalian kepada negeri akhirat 
(Kematian).” (HR. An-Nasa`i dan Ibnu Majah juga dari Abu Hurairah )
Dan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah sangat banyak ayat dan hadits yang mengingatkan akan kengerian hari kiamat dan dahsyatnya api neraka.
Said bin Jubair -rahimahullah- berkata, “Seandainya mengingat kematian hilang dari hatiku niscaya saya khawatir kalau hal itu akan merusak hatiku.”
Jadi menjaga hati itu penting, krn stiap saat hati jg bisa tergoda dengan maksiat,,,karna ibarat batre henpon, harus di cas klo sudah habis,, atau anti virus harus up todate, krn bnyk model virus2 yg baru yg muncul, banyak maksiat baru..dsitulh letak pentingnya menjaga hati

c.    Bergaul dengan orang-orang yang saleh.
Dalam hal ini Nabi   bersabda sebagaimana dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari :
“Perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka mungkin dia akan memberikannya kepadamu atau mungkin juga kamu akan membeli darinya atau paling tidak kamu mencium bau wangi di sekitarmu. Adapun pandai besi, maka kalau dia tidak membakar pakaianmu maka paling tidak kamu mencium bau busuk di sekitarmu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
sobat muslim rahimakumullah,,meminta pendapat pada orang yang tidak pantas di percaya, org yg tidak ahli dalam hal yg bersangkutan,,,adalah sebuah kebodohan yang nyata
example,,, ada seorang yang tidak berkelakuan baik, tutur katanya tidak sopan dan kita meminta pendapatnya tentang kesopanan,,meminta pendapatnya tentang etika,,,,maka tentu saja itu adalah hal yang percuma dan sia-sia,,,ibarat makan pake idung,,,tidak pada tempatnya
Bahkan Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” (QS. Hud: 113)
jangan sampai lingkungan di sekitar kita adalah lingkungan yang membuat kita menjadi makanan api neraka,,klo kita punya kemampuan utk merubahnya maka rubahlah,,kenapa tidak????,,sebelum terlambat. Krn klo sdh terlambat, hanya akan menimbulkan penyesalan.
jadi inilah sebenarnya tugas pemimpin, mengetahui peluang atau celah, dengan tau betul karakter orang atau yg dipimpinya,,,dan pemimpin tidak memerlukan sifat sombong dengan kata2 yang tinggi,,memerintah ini itu,,pemimpin itu mengajak,,,yg diperlukan adalah menjadi suri tauladan yang baik untuk semua yg dipimpinya dalam hal apapun, dalam masalah apapun. Jangan sampai membiarkan duri dalam daging begitu saja,,, Yang lama kelamaan menjadi membengkak dan sakit.

d.    Hatinya selalu terkait dengan Penciptanya dan Sembahannya.
Ini adalah jenjang ihsan yang Rasulullah  telah jelaskan definisinya dalam hadits Jibril yang masyhur, “Engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau kamu tida sanggup melihat-Nya maka yakinlah kalau Dia melihatmu.” (Muttafaqun alaih)
Ibnu Al-Qayyim berkata dalam Al-Wabil Ash-Shayyib, “Sesungguhnya di dalam hati ada wahsyah (sifat liar) yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan ketenangan dalam mengingat Allah, di dalamnya ada kesedihan yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan kegembiraan mengenal-Nya, dan padanya ada kefakiran yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan kejujuran tawakkal kepada-Nya, yang seandainya seseorang diberikan dunia beserta segala isinya niscaya kefakiran tersebut tidak akan hilang.”

e.    Amalan saleh dengan semua bentuknya.
Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri.” (QS. Fushshilat: 46)
Ibnu Abbas  berkata, “Sesungguhnya amalan baik memberikan cahaya pada hati, kecemerlangan pada wajah, kekuatan pada badan, tambahan pada rezeki, kecintaan di dalam hati-hati para hamba.”
Dan sebesar-besar bahkan landasan setiap amalan yang saleh adalah ilmu agama yang bermanfaat, dengannyalah seorang hamba mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah  bersabda dalam hadits Muawiah bin Abi Sufyan:
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya maka Dia akan memberikannya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

f.    Memanfaatkannya (hati) sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Ini adalah hal yang bisa dipahami secara akal, yakni suatu benda yang dibuat untuk mengerjakan sesuatu pasti akan rusak kalau digunakan untuk selain dari tujuan pembuatannya. Dan tujuan diciptakannya hati dan akal adalah untuk mentadabburi ayat-ayat Allah yang bersifat syar’i dan kauni yang darinya akan lahir amalan-amalan sebagai tanda keimanan dia kepada Allah.
Pernah ditanyakan kepada Ummu Ad-Darda` -radhiallahu anha- tentang ibadah suaminya yang paling sering dia lakukan, maka beliau menjawab, “Berpikir dan mengambil pelajaran (darinya).”

g.    Berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)
Dan Allah   berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaha: 124-126)
Dan Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب


Kajian Akhlaq dalam Agama Islam

Akhlak dapat dirumuskan sebagai suatu sifat atau sikap keperibadian yang melahirkan tingkah laku perbuatan manusia, dalam usaha membentuk kehidupan yang sempurna berdasarkan kepada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Allah. Dengan kata lain, akhlak ialah suatu sistem yang menilai perbuatan lahir dan batin manusia baik secara individu, kumpulan dan masyarakat dalam interaksi hidup antara manusia dengan baik secara individu, kehidupan masyarakat dalam interaksi hidup antara manusia dengan Allah, manusia sesama manusia, manusia dengan hewan, dengan malaikat, dengan jin, dan juga dengan alam sekitar.

Skop akhlak Islam adalah luas merangkum segenap perkara yang berkaitan dengan kehidupan manusia dengan hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan makhluk lain.
a) Akhlak dengan Allah : Antara ciri-ciri penting akhlak manusia dengan Allah swt ialah :
• Beriman kepada Allah : yaitu mengakui, mempercayai dan meyakini bahawa Allah itu wujud serta beriman dengan rukun-rukunnya dan melaksanakan tuntutan-tuntutan di samping meninggalkan sifat atau bentuk syirik terhadapnya.
• Beribadah atau mengabdikan diri, tunduk, taat dan patuh kepada Allah : yaitu melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangannya dengan ikhlas semata-mata kerana Allah swt.
• Sentiasa bertaubat dengan tuhannya : yaitu apabila seseorang mukmin itu terlupa atau jatuh kepada kekhilafan yang tidak seharusnya berlaku lalu ia segera sadar dan insaf lalu meminta taubat atas kelalaiannya.
• Mencari keredhaan Tuhannya :yaitu sentiasa mengharapkan Allah dalam segala usaha dan amalannya. Segala gerak gerik hidupnya hanyalah untuk mencapai keredhaan Allah dan bukannya mengharapkan keredhaan manusia walaupun kadang kala terpaksa membuat perkara yang menyebabkan kemarahan manusia.
• Melaksanakan perkara-perkara yang wajib, fardhu dan nawafil.
• Redha menerima Qadha’ dan Qadar Allah : Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Apabila mendapat kesenangan dia bersyukur dan apabila dia ditimpa kesusahan dia bersabar maka menjadilah baik baginya.”
b) Akhlak dengan manusia :
• Akhlak dengan Rasulullah : yaitu beriman dengan penuh keyakinan bahawa nabi Muhammad saw adalah benar-benar nabi dan Rasul Allah yang menyampaikan risalah kepada seluruh manusia dan mengamalkan sunnah yang baik yang berbentuk suruhan ataupun larangan.
Nabi Muhammad saw merupakan Rasul yang diutus oleh Allah swt untuk menjadi suri teladan dan petunjuk bagi seluruh umatnya, muslimin dan muslimat. Beliau adalah sebaik-baiknya manusia. Beliau sangat dikenal atas sifat, akhlak, perilaku dan budi pekerti yang sangat baik. Sesuai dengan firman Allah swt dalam surat Al-Qalam: 4, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
Dari sifat-sifat yang disebutkan sebelumnya terdapat empat sifat yang wajib bagi seorang nabi dan rasul, termasuk Rasulullah saw. Yang pertama adalah shiddiq yang berarti benar atau jujur, dan merupakan salah satu dari dua sifat para rasul yang paling utama dan keistimewaan mereka yang paling besar. Benar di sini maksudnya bahwa Rasulullah selalu benar dalam setiap perkataan dan tingkah lakunya, yaitu selalu merujuk atau berdasarkan ajaran Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat surat Maryam(19):50,“Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” Kebenaran dari setiap tutur kata Rasulullah sudah terkenal sejak beliau masih muda. Sehingga, mustahil bagi Rasulullah untuk bersifat kizib atau dusta. Selanjutnya adalah amanah yang berarti dapat dipercaya yang termasuk dalam sifat para rasul yang paling utama, selain shiddiq. Rasulullah adalah sosok yang paling besar amanahnya, dan beliau begitu dipercaya. Bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasulullah saw, beliau telah diberi gelar Al-amin yang berarti orang yang dapat dipercaya. Oleh karena itu mustahil jika beliau bersifat khianat. Lalu yang ketiga adalah tabligh yang berarti menyampaikan, maksudnya adalah bahwa Rasulullah selalu menyampaikan wahyu dari Allah swt dan menyampaikan kebaikan-kebaikan kepada umatnya. Beliau selalu senantiasa menyampaikan ajaran yang diterima dari Allah swt, meskipun beliau terancam atau dalam cobaan karena beliau yakin bahwa Allah swt akan selau membantunya. Tidak ada yang beliau sembunyikan dalam ajarannya, jadi beliau tidak mungkin bersifat kitman (menyembunyikan). Yang terakhir adalah fathonah yang berarti cerdas atau pandai. Meskipun Rasulullah saw merupakan orang yang buta huruf atau istilahnya ummi, kenyataannya membuktikan bahwa beliau mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Rasulullah memiliki ilmu yang sangat luas yang beliau dapatkan dari sumber yang terpelihara, mengetahui yang tersembunyi, menghimpun semua ilmu terdahulu dan yang akan datang, yang telah diwahyukan Allah swt padanya, yaitu Al-Qur’an. Rasulullah ditugaskan untuk menyampaikan segala firman-firman Allah swt kepada seluruh manusia. Sehingga Rasulullah tidak mungkin bersifat baladah atau bodoh.
• Akhlak dengan ibubapa : yaitu berbuat baik (berbakti) ke pada ibu bapa. Berbuat baik di sini mengandungi arti meliputi dari segi perbuatan, perkataan dan tingkah laku. Contohnya berkata dengan sopan dan hormat, merendahkan diri, berdoa untuk keduanya dan menjaga keperluan hidupnya apabila mereka telah uzur dan sebagainya. Firman Allah swt yang bermaksud : ” Kami perintahkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapa.”
• Akhlak dengan guru : Maksud dari sebuah hadith Nabi saw: “Muliakanlah orang yang kamu belajar daripadanya.” Setiap murid dikehendaki memuliakan dan menghormati gurunya karena peranan guru mengajarkan sesuatu ilmu yang merupakan perkara penting di mana dengan ilmu tersebut manusia dapat menduduki tempat yang mulia dan terhormat dan dapat mengatasi berbagai kesulitan hidup selama ada kehidupan di dunia ataupun di akhirat.
• Akhlak kepada tetangga : Umat Islam dituntut supaya berbuat baik terhadap tetangga. Contohnya tidak menyusahkan atau mengganggu mereka seperti membunyikan radio kuat-kuat, tidak membuang sampah di muka rumah mereka, tidak menyakiti hati mereka dengan perkataan-perkataan kasar atau tidak sopan dan sebagainya. Malah berbuat baik terhadap tetangga dalam pengertiannya itu dapat memberikan sesuatu pemberian kepada mereka sama ada dorongan moral atau material.
• Akhlak suami isteri : Firman Allah swt yang bermaksud : “Dan gaulilah olehmu isteri-isteri itu dengan baik.”
• Akhlak dengan anak-anak : Islam menetapkan peraturan terhadap anak-anak. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Kanak-kanak lelaki disembelih aqiqahnya pada hari ketujuh dari kelahirannya dan diberi nama dengan baik-baik dan dihindarkan ia daripada perkara-perkara yang memudharatkan. Apabila berusia enam tahun hendaklah diberi pengajaran dan pendidikan akhlak yang baik.”
• Akhlak dengan kaum kerabat : Firman Allah yang bermaksud : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat.”




Terkait Khusus

Romansa dan Cinta 2096362961920885218

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item