Download Ebook Diplomasi Islami - Diplomasi Bersih tanpa Munafik

 UNDUH 1.3 MB

KATA PEMBUKA

Dalam konteks hubungan antarnegara kata diplomasi telah lama digambarkan  dengan konotasi yang buruk.

Hal  ini  telah  lama  terproyeksikan  dalam  semantik  melalui  proses  dan  perjalanan  sejarah.  Tradisi  Machiavelli  -  pengarang  buku  The  Prince,  pent  -  telah  memisahkan secara tajam antara seni negosiasi dengan moralitas dalam tata aturan  nasional  maupun  internasional.  Walaupun  tradisi  ini  mengandung  sesuatu  yang  sangat Nemesik,  - Nemesis adalah nama klasik perempuan  Yunani yang suka marah  melihat pelanggaran hukum, pent - tetapi ia telah meninggalkan jejak yang pahit dan  getir, kecurigaan, dan salah  pengertian  yang terus berlanjut sehingga  menimbulkan  kebingungan dalam hubungan antarmanusia.

Beberapa  di  antaranya  mungkinkah  kita  mampu  melahirkan  sebuah  clean  diplomacy,  yaitu  diplomasi  yang  bersih  dari  pola-pola  hipokratik  (kemunafikan),  kebohongan  dan  kata-kata  yang  tak  bersumber  dari  nurani  yang  selama  ini  telah  ditempelkan secara lekat pada para diplomat? Dan apakah sejarah telah memberikan  bukti  yang  nyata  bahwa  diplomasi  yang  bersih  itu  telah  melahirkan  buah  yang  nikmat? Dr. Afzal Iqbal mengajukan  pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam buku ini  dan sekaligus memberikan jawaban yang memuaskan.

Dia telah mendapatkan contoh sempurna dalam hal ini pada sosok Nabi kaum  Muslimin, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Studi yang dilakukan penulis buku  ini sangat menarik  dan  mengandung banyak  pelajaran, karena  membidik salah satu  karir  Rasulullah  yang  sering  kali  tidak  mendapat  perhatian  serius  dari  para  penulis  sirah kehidupan Rasulullah. Dia dengan tajam dan jenial menganalisa beragam situasi  yang  dihadapi  Rasulullah  pada  masa  hidupnya,  yaitu  pada  saat-saat  beliau  mengadakan  pendekatan  dan  strategi  dalam  berbagai  persoalan,  baik  dalam  masa  damai  maupun  dalam  situasi  perang.  Yang  pada  akhirnya  akan  menghasilkan  kesejahteraan  manusia  secara  umum.  Dan  pada  saat  yang  sama  Rasulullah  tidak  menyimpang dari misi kerasulan dan pengemban moral yang sangat tinggi yang Allah  bebankan kepadanya. Tujuan yang hendak diraih dan cara yang beliau tempuh sama  sekali sulit untuk dikritik. 
Dr.  Iqbal  adalah  salah  seorang  korp  diplomatik  di  lingkungan  kami.  Dan  jika  buku  yang  dia  tulis  ini  sukses  menyinarkan  kesadaran  kepada  para  diplomat  dan  berhasil mengkondisikan kesadaran mereka untuk melahirkan nilai-nilai kemanusiaan,  maka buku ini telah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan penulisnya.
S. A Rahman, 65, Gulberg Lahore


PENGANTAR EDISI PERTAMA

Hukum  internasional,  sebagaimana  yang  kita  ketahui  saat  ini,  adalah  usaha  untuk  mengatur  hubungan  negara-negara  Kristen  antara  satu  dengan  yang  lain.  Keadaan ini berlangsung hingga tahun 1856. Turki adalah negara non-Kristen pertama  yang  mendapat  kesempatan  untuk  memasuki  komite  Bangsa-bangsa.  Namun  posisinya  masih  sangat  ganjil  hingga  tahun  1923.  Barat  saat  itu  menganggap  Turki  memiliki  peradaban  yang  inferior  (terbelakang)  dan  mereka  tidak  akan  memperlakukan  negeri  itu  sederajat  dengan  negara-negara  Kristen.  Hukum  internasional  modern  secara  fakta  berasal  dari  Eropa  Barat.  Oleh  karena  itu,  tidak  menghiraukan  jika  kita  menyimak  sejarah  mereka,  kita  akan  melihat  bahwa  seluruh  karya  yang  ada  dalam  hukum  Internasional  dan  diplomasi  berakar  kepada  Negara- Kota  (City-State)  Yunani,  kemudian  diikuti  oleh  periode  Romawi  dan  secara  sangat  mengejutkan melompat ke zaman modern saat ini, tanpa menghiraukan masa seribu  tahun,  (saat  Islam  menjadi  imam  peradaban  dunia,  pent.)  Dengan  anggapan  dan  penekanan  bahwa  di  "Abad  Pertengahan"  ada  kevakuman  dan  tak  ada  hajat  yang  mendesak terhadap hukum yang disebut dengan hukum international.1)

Periode itu adalah periode yang telah dipangkas dan dianggap sebagai masa  kegelapan  diplomasi.  Dan  pada  saat  itu,  sebenarnya  Islam  lahir  dan  berkembang  dengan  cemerlang  dari  kota  Mekkah,  menyebar  ke  Syiria,  dan  terus  merambat  dengan  nafas  damainya  ke  Afrika  Utara,  kemudian  menyeberang  ke  jalan-jalan  Gibraltar.  Dan  gaung  ajarannya  telah  mengetuk  pintu-pintu  Eropa.  Islam  telah  mencapai  kematangan  politiknya  secara  penuh  pada  awal  abad  kelahirannya.  Penyebaran wilayah geografisnya telah jauh melebar selama tujuh ratus tahun sejak  awal  kelahirannya.  Saat  itu  Islam  telah  berhasil  menaklukkan  Sicilia  dan  telah  pula  mencapai Campagna dan Abruzzi di Eropa Selatan. Dengan mempergunakan Spanyol  sebagai batu lompatan, ia menerobos masuk ke Provence, Italia Utara dan bahkan ke  Switzerland. Melalui markas utamanya yang berada di Spanyol dan Sicilia, Islam terus  dengan  semangat  menyebarkan  pengaruh  kulturnya  ke  seluruh  Eropa.  Baghdad  di  Timur  dan  Cordoba  di  Barat  adalah  dua  pusat  ilmu  pengetahuan  yang  sangat  bergengsi  di  abad  Pertengahan.  Masa  itu  sering  kali  dianggap  sebagai  awal  munculnya  peradaban  Eropa.  Para  penulis  hukum  internasional  Eropa  masa  awal,  seperti Pierre Bello, Ayala, Vittoria Gentiles dan yang lain, mendapatkan pengetahuan  dari  Italia  dan  Spanyol.  Dengan  demikian  kebangkitan  Eropa  telah  dipengaruhi  peradaban  yang  dibangun  Islam  di  benua  ini.  Grotius,  Bapak  Hukum  Internasional  Eropa, dan para penulis sebelumnya yang telah kami sebutkan, banyak mengadopsi  karya-karya  berbahasa  Arab  yang  ditulis  para  intelektual  Muslim.  Yang  sangat  sulit  jika ditelusuri dari sumber-sumber yang berasal dari Yunani dan Romawi. Jadi, secara  faktual  mereka  harus  memasang  garis  penghubung  yang  hilang  antara  periode  Romawi  dan  periode  modern untuk memberi  petunjuk  akan adanya konsep hukum  internasional yang dibawa Islam.

Orang-orang Ibrani memasukkan kultur mereka sendiri, saat mereka berada di  bawah Musa dan Kitab Taurat. Orang-orang Yahudi tidak mau mengakui orang di luar  kelompok  mereka.  Mereka  menyatakan  sumpah  permusuhan  terhadap  beberapa  bangsa, seperti Amerika, mereka menolak menjalin hubungan apa saja dengan siapa pun dalam keadaan perang ataupun damai. Orang-orang Yunani memandang orang  non-Yunani  sebagai  kaum  barbarik.  Aristoteles  percaya  bahwa  alam  ini  telah  menjadikan  orang-orang  Barbar sebagai  budak.2)  Padahal orang-orang Yunani tidak  pernah memiliki negara dan bangsa yang kuat sebelum mereka mampu menaklukkan  Macedonia.  Bangsa  Romawi  menaklukkan  Yunani,  namun  mereka  tidak  membawa  perubahan radikal yang relevan dalam bidang hukum internasional. Sebaliknya secara  fakta Yunani kembali menaklukkan bangsa Romawi dalam sisi intelektual. Oppenheim  dengan  tegas  menyatakan,  bahwa  pengaruh  Kristen  tidak  tampak  sama  sekali,  meskipun  agama  Kristen  secara  resmi  menjadi  agama  resmi  di  bawah  kekuasaan  Konstantin  Yang  Agung  (306-307  M).  Tatkala  kekaisaran  Romawi  terpecah  menjadi  dua, orang-orang yang berada di wilayah Timur dianggap sebagai barbarik meskipun  mereka menganut agama Kristen. Kehidupan dan kekayaan seseorang yang berada di  wilayah kekuasaan Romawi tidak aman jika is tidak menjalin perjanjian persahabatan  dengan  penguasa  Romawi.  Orang-orang  tersebut  tidak  bisa  memiliki  harta  dan  memiliki hak apa pun, serta kekayaan mereka bisa saja dirampas dan mereka sendiri  dijadikan budak.3)

Dengan  lahirnya  Islam,  kita  melihat  lahirnya  satu  perubahan  secara  revolusioner  yang  menancapkan  prinsip  hukum  internasional  dan  diplomasi.  Islam  dengan tegas menyatakan persamaan antarmanusia. Allah berfirman,

"Wahai  manusia,  sesungguhnya  Kami  menciptakan  kamu  dari  seorang  laki-laki  dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia  diantara  kamu  di  sisi  Allah  ialah  orang  yang  paling  bertakwa  diantara  kamu.  Sesungguhnya  Allah  Maha  Mengetahui  dan  Maha  Mengenal.  "  (QS  Al-Hujuraat  49:13)

Perbedaan  yang  ada  antara  orang-orang  Yunani  dan  Barbar,  Yahudi  dan  Amalika,  Romawi  dan  Kristen  Timur  yang  dianggap  inferior  dihapuskan.  Prasangka  berdasarkan warna kulit, ras dan bahasa dikutuk. Semua negara dan manusia, tanpa  memandang agama dan rasnya, dinyatakan memiliki hak dan kewajiban yang sama.  Allah berfirman,

"Sesungguhnya  orang-orang  mukmin,  orang-orang  Yahudi  dan  Nasrani  dan  orang-orang  Shabiin  siapa  saja  di  antara  mereka  yang  benar-benar  beriman  kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala  dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula)  mereka bersedih hati." (QS Al-Baqarah 2:62).

Islamlah  yang  pertama  kali  menghadirkan  ide  negara  universal  atas  dasar  persamaan  di  antara  manusia.  Dalam  hukum  Islamlah,  kita  dapatkan  pertama  kali,  hak-hak  musuh,  baik  dalam  keadaan  perang  maupun  damai  yang  dijamin  dalam  Al- Quran dan hadits Rasulullah. Hukum internasional Islam menawarkan regulasi aturan  negara Muslim dengan formula yang seadil-adilnya. Bukan saja antara  negara Islam,  namun  juga  dengan  negara  non-Islam  di  seluruh  dunia.  Grotius,  Bapak  hukum  internasional  Eropa,  menyebutkan  tatkala  mengkompilasi  (menyusun)  bukunya, bahwa  di  saat  dia  hidup,  bangsa  Kristen  Eropa  memiliki  perilaku  yang  sangat  memalukan  untuk  dilakukan  bahkan  oleh  orang-orang  yang  sangat  barbarian  sekali  pun.  Buku-buku  tentang  jura  belli  (hukum  perang)  yang  ditulis  penulis  Eropa,  kebanyakan memiliki nafas dan nuansa karya-karya Arab tentang Jihad. Dari sini kita  bisa melihat peran yang dimainkan Islam dalam sejarah hukum internasional. 4)

Walaupun  demikian,  peran  yang  dimainkan  Islam  dalam  bidang  hukum  internasional dan diplomasi ini bahkan tak pernah disebutkan apalagi diakui oleh para  intelektual  yang  memiliki  otoritas  di  Barat.  Pada  saat  mereka  tidak  keberatan  mengakui  pengaruh  peradaban  Yahudi  dan  Kristen,  mereka  secara  sengaja  menghilangkan  pengaruh  peradaban  Islam  dalam  bab-bab  bahasan  mereka  dan  menyatakan  bahwa  zaman  puncak  kejayaan  peradaban  Islam  sebagai  zaman  kegelapan.  Ini  merupakan  tindakan  yang  sangat  inkonsisten  dengan  spirit  ilmu  pengetahuan. Setelah mengalami sebuah pergulatan panjang Kristen banyak belajar  ko-eksist  (hidup  bersama)  Islam.  Memang  patut  diakui  bahwa  Islam  adalah  peradaban yang mampu menjembatani ideologi-ideologi Barat dan Timur yang sedang  bertarung.  Namun  sayangnya,  hampir  setiap  orang  yang  menginginkan  mendapat  simpati besar dari Barat, melihat Islam dengan pandangan yang bias selama berabad- abad.

Dan hal yang sangat menyedihkan, adanya fakta bahwa kaum terpelajar Islam  sangat miskin untuk bisa mengakses langsung ke sumber-sumber asli yang ada dalam  Islam. Bahkan mereka cenderung untuk menerima sejarah dan tradisi mereka sendiri  dari  sumber-sumber  asing.  Mereka  adalah  produk  pendidikan  Eropa  yang  tidak  mampu  membantu  membendung  pengaruh-pengaruh  yang  menghancurkan  basis  budaya  mereka  sendiri  secara  perlahan.  Para  intelektual  muslim  modern  yang  dibesarkan dalam lingkungan tradisi dan pemikiran Barat cenderung kehilangan daya  warisan  intelektual  dan  budaya  mereka  sendiri.  Tradisi  Barat,  seperti  metode  penyelidikan,  eksplorasi,  riset  dan  analisa  adalah  instrumen  yang  sangat  berharga,  namun  para  intelektual  Muslim  di  negara-negara  Muslim  tampaknya  tidak  mampu  mempergunakan  instrumen-instrumen  tersebut  untuk  melacak  sumber  kekayaan  budaya  dan  peradaban  masa  lalu  mereka.  Bagaimanapun  sederhananya  masa  lalu  peradaban  seseorang,  ia  tetap  bisa  dijadikan  sebagai  pijakan  untuk  sebuah  arahan  menuju  kemajuan  di  masa  depan.  Masa  lalu  kita  secara  spiritual  dan  material  sangatlah  kaya  dan  beragam.  Dan  tidak  bisa  diingkari,  bahwa  itu  semua  adalah  elemen-elemen  yang  sangat  berharga  dari  pemikiran  rasional  dan  instrumen  riset  yang dilakukan  dengan sangat teliti. Para filosof dan pemikir  Muslimlah yang untuk  pertama kali sukses mengadakan perlawanan atas logika Aristotalian. Dengan tegas  dan  demonstratif  mereka  menyatakan,  bahwa  dasar  logika  yang  diletakkan  Aristoteles tidak cukup mampu untuk menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan yang  terus berkembang. Ibnu Taimiyah - dalam bukunya Ar-Raddu "Ala Manthiqiyyin, pent -  mengatakan bahwa silogisme (analogi/qiyas) yang diajarkan dalam logika Aristoteles  hanyalah sebuah tautology (pengulangan kata), yang tidak akan mampu melahirkan  ilmu pengetahuan baru. Dengan demikian kita bisa mengadopsi instrumen-instrumen  yang  dipergunakan  Barat  dalam  bidang  riset  tanpa  harus  merasa  asing,  dan  mempergunakannya untuk melacak masa lalu kita.

Kita saat ini benar-benar hidup terisolasi dari masyarakat kita sendiri. Kaki kita  berpijak  di  Timur,  sementara  dari  otak  kita  mengalir  deras  pemikiran  yang  kita  dapatkan dari Universitas Oxford, Cambridge, Cornell dan Harvard. Kondisi emosional  yang  dis-asosiatif  (jauh)  dari  masyarakat  telah  melahirkan  sebuah  jarak  yang  menjadikan kita kurang mampu melihat dengan jeli persoalan-persoalan mereka dan  sekaligus juga tidak mampu menghadapinya. Pemahaman terhadap sejarah masa lalu  dan kemampuan untuk memecahkan problema yang muncul, itulah yang menjadikan  kita  terus  eksis  hingga  kini  dan  sekaligus  sebagai  batu  loncatan  yang  akan  menentukan masa depan kita. Mau tidak mau, kita harus melihat warisan tradisi kita  dalam wajahnya yang baru, dan jangan hanya melihat lewat kacamata para sejarawan  Barat.

Hukum  internasional  saat  ini  tidak  lagi  sebagai  hukum  yang  hanya  mengikat  antara negara-negara Kristen semata. Dengan semakin  berkembang dan meluasnya  negara-negara Islam, maka upaya untuk menaruh perhatian dan mengerti Islam serta  memahami  bagaimana  sikap  Islam  terhadap  hukum  internasional  menjadi  hal  yang  sangat  dibutuhkan,  bahkan  oleh  negara-negara  non-Muslim  sekalipun.  Sumber- sumber  hukum  Islam  tentang  negara  yang  didefinisikan  para  ahli  hukum  modern  adalah meliputi empat hal: kesepakatan (ijma'), sunnah, ijtihad dan otoritas.

Al-Quran  menetapkan  otoritas  (landasan  hukum),  sementara  perhatian  dan  perilaku  Rasulullah  merepresentasikan  sunnah,  sedangkan  aturan  yang  dinyatakan  dalam  perjanjian  masuk  dalam  kategori  kesepakatan,  serta  pendapat  para  khalifah  dan para fuqaha setelahnya digolongkan dalam ijtihad.

Dalam monograp ini, kajian yang kita lakukan hanya pada dua sumber utama,  yakni  Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Pada saat hukum internasional telah digarap  oleh  segolongan  pemikir  Muslim,  kajian  tentang  diplomasi  dalam  Islam  tidak  mendapat perhatian secara serius. Apakah diplomasi Islam? Apakah konsep diplomasi  yang ada dalam Al-Quran dan sunnah? Apakah kata diplomasi sangat tidak pantas jika  diasosiasikan  dengan  Rasulullah?  Inilah  sejumlah  pertanyaan  yang  membututhkan  jawaban.

Diplomasi mempunyai kesan yang tidak baik. Kata ini telah banyak digunakan  untuk  mengungkapkan  berbagai  makna  yang  hampir  semuanya  tidak  bersesuaian  dengan moralitas dan nilai-nilai utama, apalagi dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh  Rasulullah.  Bahkan  para  diplomat  saat  ini  akan  merasa  malu  jika  Hermes  terpilih  sebagai dewa yang menduduki profesi mereka. Gambaran yang pertama muncul saat  disebutkan diplomasi/diplomat adalah pesona dan kegantengan, licin dan penuh akal  bulus,  kelicikan,  bujukan  dan  pujian  yang  sifatnya  menjilat,  penipuan  dan  muslihat  yang  semuanya  memiliki  akar  dari  tradisi  Yunani.  Kata-kata  itu  semuanya  memiliki  tingkatan  yang  berbeda.  Diplomasi  tidak  mampu  melepaskan  perilaku  jahatnya  di  masa  pemerintahan  Romawi  dan  tidak  pula  mampu  melahirkan  basis  moral  yang  kokoh. Seorang Duta Besar Inggeris, Sir Henry Wotton, pada suatu saat dengan sinis  menyatakan,  "Duta  besar  adalah  seseorang  yang  menipu  di  luar  negeri  demi  kepentingan  negerinya  sendiri."  Prase  ini  5)  ini  telah  dibayar  sangat  mahal  dengan  dilepaskannya jabatan yang dia pegang. Namun tampaknya apa yang dia katakan itu saat ini tidak lagi memiliki relevansi dengan fungsi diplomasi modern. Diplomasi yang  asalnya  dipahami  hanya  sekedar  urusan  arsip  kini  telah  melebar  kepada  banyak  urusan.  Sebagaimana  yang  dikatakan  orang-orang  Yunani,  saat  ini  diplomasi  menjelma  menjadi  sebuah  ilmu  pengetahuan  tersendiri  yang  berhubungan  dengan  urusan  internasional.  Kata  diplomasi  yang  diaplikasikan  pada  aturan  urusan  internasional, belum dikenal dengan konotasi demikian sebelum tahun 1796, seperti  yang  terlihat  ketika  Edmund  Burke  menggunakannya  dalam  konteks  ini.  Kamus  Oxford mendefinisikan diplomasi sebagai berikut:

Diplomasi  adalah  sebuah  manajemen  hubungan  negosiasi  internasional,  dengan  cara  pengiriman  duta  besar  dan  utusan  resmi  negara.  Dengan  kata  lain  diplomasi adalah bisnis dan seni para diplomat.

Dengan  demikan,  para  diplomat  adalah  para  ahli  negosiasi  par  excellence.  Diplomasi  sebagai  suatu  seni  negosiasi  telah  lama  ada  sebelum  Islam.  Dalam  mitos  Yunani,  Hermes  dikenal  sebagai  dewa  diplomasi  yang  diasosiasikan  dengan  kegantengan  dan  kelicikan,  penipuan  dan  seni  rendahan  yang  kemudian  dia  memberikannya  kepada  Pandora,  wanita  pertama  yang  merusak  dengan  menggunakan  kelicikan  dan  kelicinan  otaknya.  Di  masa  Homer  -  pengarang  buku  sastera prosa Iliad, pent - kualifakasi utama bagi seorang diplomat adalah seseorang  yang  memiliki ingatan yang kuat dan suara yang lantang. Pada  masa pemerintahan  kekaisaran  Byzantium  cara-cara  negosiasi  dengan  keculasan  dan  korupsi  sangatlah  terkenal. Catatan tak sedap kepausan Chanceries di abad pertengahan juga mewarisi  cara-cara diplomasi yang sangat merusak,  namun tidak akan penulis ungkap di sini.  Penulis juga tak akan mendiskusikan peran yang dimainkan oleh diplomat Florentine  di  zaman  Renaisans  seperti  Dante,  Petrarch,  Boccaccio  dan  murid-muridnya  yang  datang setelah itu, seperti Guicciardini dan Machiavelli.

Dalam  konteks  pembicaraan  diplomasi  yang  mendahului  diplomasi  modern,  kita  perlu  mengangkat  studi  tentang  diplomasi  Islam.  Beberapa  tujuan  diplomasi  utama  adalah  menciptakan  solusi  damai  dan  promosi  harmonisasi  antara  negara.  Akan  sangat  menarik  kiranya  untuk  melihat  bagaimana  Rasululullah,  yang  saat  itu  sebagai kepala negara, telah berhasil menggapai tujuan lewat cara-cara diplomatik.  Yaitu lewat negosiasi, konsiliasi, mediasi dan arbitrasi (juru penengah). Memang telah  banyak riwayat dan sirah Nabi yang ditulis, namun sayang penonjolan sisi kehidupan  Rasulullah yang signifikan, bahwa ia sebagai seorang negosiator ulung begitu minim.  Namun jika kita melihat dan menelaah Al-Quran dan Sunnah dengan tajam, maka kita  akan mendapatkan di dalamnya dasar-dasar diplomasi. Sedang bagaimana asas-asas  diplomasi  ini  dipegang  teguh  penerusnya  bukanlah  menjadi  tujuan  penulis  dalam  buku  ini.  Karena  penulis  sengaja  membatasi  bahasan  buku  ini  pada  kehidupan  Rasulullah  sebagai  usaha  untuk  memahami  lebih  dalam  karakter  dan  kualitas  diplomasi dalam Islam.

Tulisan  ini  adalah  usaha  dialogis  dalam  dua  level.  Pertama,  adalah  dialog  dengan  para  sejarawan  Barat  yang  sama  sekali  menganggap  sepi  dan  bahkan  menutup  mata  terhadap  peran  yang  dimainkan  Islam  dalam  bidang  diplomasi  yang  telah  melahirkan  gap  intelektual  karena  mereka  memberi  label  Abad  pertengahan dengan  "Abad  Kegelapan".  Dan  kedua,  tulisan  ini  adalah  sebagai  dialog  ke  dalam  yang  bertujuan  mengadakan  "perbincangan"  dengan  para  pemeluk  Islam.  Karena  segala  sesuatu,  baik  besar  maupun  kecil,  sangsi  moral  dan  inspirasi  bagi  seorang  muslim  adalah  Al-Quran  dan  Sunnah  Rasulullah,  maka  wajib  bagi  seorang  diplomat  Muslim untuk selalu berpegang teguh kepada tatakrama dan ajaran moral yang ada  dalam  Islam  dalam  profesi  yang  sedang  mereka  geluti.  Ini  sangat  penting  artinya  untuk  menghindari  lahirnya  satu  pribadi  yang  pecah.  Sebab  tak  seorang  pun  yang  bisa  memberikan  legitimasi  untuk  membagi  hidup  ini  ke  dalam  dua  bagian  yang  berbeda.  Antara  aspek  religius  dan  aspek  moral  di  satu  sisi  dan  profesi  di  sisi  yang  lain. Karena dua aspek itu memiliki implikasi yang sama. Islam telah lama menekankan  agar  manusia  memiliki  kepribadian  yang  satu,  sebab  jika  tidak,  maka  tidak  akan  tercapai keutuhan jiwa dan kedamaian pribadi.

Tulisan-tulisan  ini  adalah  awal  yang  sangat  bagus  yang  tentu  saja  membutuhkan penelitian dan riset yang lebih mendalam. Hasil yang besar akan bisa  dicapai  andaikata  para  diplomat  muda  Muslim  mengabdikan  kemampuannya  untuk  kepentingan warisan budaya mereka. Tujuan yang ingin penulis capai akan mencapai  target  yang  berlipat  jika  usaha-usaha  penulisan  lebih  lanjut  dilakukan  di  bidang  budaya dan pemikiran yang selama ini banyak diabaikan.

Untuk  data-data  historis  dalam  penulisan  buku  ini,  penulis  banyak  mengutip  dari buku Sirah Rasulullah, karangan Ibnu Ishaq yang baru-baru ini diterjemahkan oleh  Professor Guillame dalam bahasa Inggeris dengan judul The Life of Muhammad dan  diterbitkan oleh penerbit Oxford London, 1965. Penulis juga banyak merujuk kepada  tulisan-tulisan  Syibli  Nu'mani  dalam  bahasa  Urdu,  karya-karya  pelanjutnya  adalah  karya  Sayyid  Sulaiman  An-Nadwi.  Untuk  terjemahan  Al-Quran  penulis  mempergunakan  karya  Abul  Kalam  Azad  yang  masih  belum  selesai.  Sedangkan  terjemahan  Al-Quran yang ada  dalam  buku ini penulis kutip secara keseluruhan dari  terjemahan Marmuduke Pickthall, The Glorious Koran.

---------------  1.) L. Oppenheim, International Law, 1,62.  2.) Aristotle, Politics Book I, Pasal 7  3.) Untuk lebih jelasnya lihat C.Philipson, The International Law and Costum of Ancient Greece and  Rome.  4.) M. Hamidullah, Muslim Conduct of State, hal.65  5.) Sebagai contoh dalam bahasa Persia, apa yang menjadi karakter umum diplomasi ini lihat misalnya  Kitab At-Taj dikarang Jahiz, pada Bab pertama, halaman 121-23.

Terkait Khusus

Sejarah dan Biografi Islam 8632427181214068641

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item