Fitnah Siti Hajar/Hagar dalam Bibel Al kitab Bagian 1

Islam melarang pemeluknya diskriminatif (membeda-bedakan) terhadap para nabi Allah, sebagai mana firman Allah :

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Q.S. 2:285)

“…Laa nufarri...
artinya : kami tidak membeda-bedakan antara seorang (dengan lainnya) daripada rosul-Nya… “ (Q.S. 2:285)

Tetapi umat Kristen pada umumnya hobi membandingkan nabi Isa As (Yesus) dengan para nabi lainnya, terutama dengan nabi Muhammad saw melalui buku dan brsur-brosur yang banyak diedarkan oleh Christian Centre Nehemia (pimpinan Dr. Suradi ben Abraham dkk), di antaranya “ Siapakah yang bernama Allah itu?”, dikatakan bahwa bangsa Arab (bangsanya nabi Muhammad), tidak layak hidup di hadapan Tuhan.

Alasan mereka karena bangsa Arab adalah Ismael adalah anak seorang budak Mesir yang hina yang bernama Hagar. Sedangkan bangsa  Mesir adalah keturunan Ham yang terkutuk. Disebutkan dalam Alkitab bahwa Ismael itu lakunya seperti keledai liar. Dalil yang mereka pakai dalam Brosur Shiraathal Mustaqiim “ Siapakah yang bernama Allah itu”, diantaranya sebagai berikut :

“Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan” (Kej 10:6)

“Berkatalah ia : Terkutuklah Kanaan hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya” (Kej 9:25)

“Seorang laki-laki Ismael yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya kan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan d tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya” (Kej 16:12)

“Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu” tetapi Allah berfirman: “Tidak …. (Kej 17,18-19)

Kesimpulan mereka :

Karena Muhammad berasal dari keturunan Ismael yang ibunya Hagar adalah seorang budak dari Mesir dan berasal dari keturunan Ham yang  terkutuk, maka menurut mereka, kehadiran Muhammad serta semua bangsa Arab, karena berasal dari keturunan orang terkurtuk, tidak direstui dan ditolak oleh Allah (Kej 17: 18-19).

Menurut mereka dari segi keturunan, Ishak inilah lahirlah Yesus sebagai pemegang perjanjian yang kekal untuk keturunannya dinyatakan oleh Allah (Kej 17:19) sebagai juru selamat untuk umat manusia, lewat keturunan Ismael.

Berdasarkan pandangan dan logika mereka dari ayat-ayat Alkitab yang mereka kutip tersebut, maka mereka mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya leluhur Yesus lebih mulia dan lebih suci dibanding dengan leluhur nabi Muhammad. (Ismael dan Siti Hajar/Hagar.

Timbul pertanyaan

Berdasarkan Hagar lebih rendah dibanding Sara, istri pertama Abraham?

Benarkah Hagar dan keturunannya tidak diberkati oleh Allah?

Benarkah keturunan Ham adalah seorang yang terkutuk?

Benarkah Ismael tidak berkenan hidup di hadapan Allah, melainkan Ishak saja?

Benarkah Ismael lakunya seperti keledai liar yang menakutkan?

Benarkah Yesus lebih suci daripada Muhammad karena Yesus tidak pernah berbuat dosa ?

Benarkah Yesus adalah juru selamat untuk manusia?

Benarkah silsilah moyangnya Yesus (melalui Ishak dan ibunya Sara) lebih mulia daripada silsilah moyangnya Muhammad (melalui Ismael dan Ibunya Hagar)?

Bagaimana kita membantah tuduhan tersebut? Agar lebih akurat, jangan kita percaya begitu saja tuduhan mereka, tetapi biarlah Alkitab mereka sendiri yang akan menjawabnya.

Pertanyaan Pertama
Benarkah Hagar lebih rendah dibanding Sara istri pertama Abraham?

Untuk menjawab pertanyaan ini biarlah kami ambil dari Alkitab, untuk membuktikan bahwa tuduhan mereka pada dasarnya tidak beralasan, selain ketidak sukaan terhadap Islam.

“Sebab Tuhan, Allahmu lah segala Allah dan Tuhan segala Tuhan, Allah yang besar, kuat dan dasyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap,” (UI 10:17).

“Sebab ia tidak memandang hina atuapun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan mendengar ketika orang itu berteriak tolong kepada-Nya. (MZM 22:25).

“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya : “ Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. (Kis 10:34-35)

“ Barang siapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.” (Kol 3:25)

Ternyata dalam Alkitab ada ayat-ayat Tuhan yang masih dapat dipercaya untuk membantah tuduhan miring terhadap Hagar. Keempat ayat tersebut itu, membuktikan bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan orang. Ini membuktikan bahwa tuduhan buruk terhadap Hagar (Siti Hajar) hanyalah berdasarkan ketidaksukaan terhadap keturunannya yang melahirkan Ismael sebagai leluhurnya Nabi kita Muhammad Saw yang membawa ajaran Islam.

Jawaban tersebut sesuai dan selaras dengan ayat Al Qur’an Surat 49 Al Hujuraat ayat 13 yang berbunyi :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.


“...Inna akramakum ‘Indallahi atqaaakum...”

“Sesungguhnya semulia-mulianya kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa.

Pertanyaan Kedua
Benarkah Keturunan Hagar Tidak di Berkati?

Marilah kita lihat jawaban Alkitab di bawah ini atas tuduhan mereka terhadap Hagar dan kerturunannya,apakah diberkati oleh Allah atau tidak! Biarlah ayat-ayat Alkitab yang memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.


“Lagi kata malaikat Tuhan itu kepadanya : “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.” Selanjutnya kata malaikat Tuhan itu kepadanya : “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menemaninya Ismael, sebab Tuhan telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.” (Kej 16:10-11)


Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan kuberkati, kubuat beranak cucu dan beranak banyak; ia akan memperanakkan 12 raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.” (Kej 17:20)


Kedua ayat Alkitab mereka sendiri justru menjelaskan bahwa Hagar dan Ismael ternyata benar-benar diberkati oleh Allah. Sekarang bagaimana anak keturunan dari Ismael (leluhurnya nabi Muhammad Saw), apakah mereka itu diberkati juga atau tidak? Simak ayat-ayat dibawah ini.

“Anak-anak Abraham aialah Ishak dan Ismael. Inilah keturunan mereka : anak sulung Ismail ialah Nebayot, lalu Kedar, Adbeel Mibsam…..” (1Taw 1:28-29)

“Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan diatas mezbah-Ku, dan akau akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku’. (Yes 60:7)

Kedua ayat diatas ini membuktikan behwa anak keturunan Ismael juga diberkati oleh Allah SWT, buktinya persembahan anak-anak keturunan Ismael berkenan dan diterima oleh Allah.

Bahwa menurut Yes 60:7 tadi, Allah berfirman bahwa korban anak keturunanImael yaitu Kedar dan Nbayot berupa persembahan diatas mezbah-Nya dan ibadah mereka, berkenan dan akan meyemarakkan rumah keagungan –Nya (surga). Subhanallah…Maha Suci Allah yang telah memberikan informasi yang paling berharga bagi anak-anak keturunan Ismael (Leluhurnya Nabi Muhammad Saw).

Bukti lainya, tadi dalam Alkitab Taurat Musa, Kej 17:20, dikatakan bahwa Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan keberkati, kubuat beranak cucu dan banyak ;ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.

Terbukti lainnya bahwa anak keturunan Ismaeltelah menjadi bangsa yang besar serta beranak cucu yang sangat banyak serta diberkati Allah Swt. Dan janji Allah bahwa Dia akan memberikan atas keturunan Ismael dan dua belas raja, benar-benar terbukti. Perhatikan janji Allah dalam ayat Alkitab dibawah ini:

“Inilah keturunan Ismael, anak Abraham, yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu.inilah nama-nama anak Ismail, disebut kan menurut urutan lahirnya : Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsan, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma. Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas  orang raja, masing-masing dengan sukunya.” (Kej 25:12-16)

Dengan adanya bukti janji Allah tersebut, menambah deretan bukti-bukti kebenaran bahwa apa yang mereka tuduhkan sama sekali tidak beralasan. Terbukti bahwa Allah benar-benar menepati janji-Nya Keturunan Ismael, sebab apa yang keluar dari mulut-Nya pasti tidak akan Dirobah-Nya, sebagaimana Firman-Nya dalam Alkitab Mazmur (Zabur) sebagai berikut:

“Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, ada apa yang keluar dari bibirku tidak akan kuubah.” (MZM 89:35)

Bagaimana Al Qur’an berbicara tentang Ismael? Cobalah kita simak ayat-ayat Al Qur’an sebagai berikut :

“Wa ismaa’iila wa idriisa wa dzal kifli kullum minash shaalihiin”

“Dan (ingatlah berita) Ismail, Idris, dan Zulkifli; masing-masing adalah orang yang sabar.” (Q.S.21 Al Anbiyaa’ 85).

“Wadzkur ismaa’iila wal yasa’a wa dzal kifli wa kullum minal akhyaar.”

“Dan ingatlah (berita) Ismail, Ilyas dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang terbaik.” (Q.S. 38 Shaad 48).

Pertanyaan Ketiga
Benarkah Keturunan Ham Bangsa Terkutuk?

Memang jika kita baca sepintas saja akan terkesan bahwa keturunan Ham adalah bangsa terkutuk, sebab ayat yang mereka kutip hanyalah potongannya saja. Tapi jika kita baca secara utuh, kisah nabi Nuh dalam Alkitab, ternyata tidaklah seperti apa yang mereka tuduhkan. Marilah kita pelajari dengan seksama kutipan Alkitab di bawah ini secara utuh.

“Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera ialah Sem, Ham dam Yafet; Ham adalah Bapa Kanaan. Yang tiga inilah anak-anak Nuh, dan dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi. Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah ia munim anggur mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham Bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga ia tidak melihat aurat ayahnya. Setelah nabi Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, berkatalah ia : “Terkutuklah Kanaan hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya.” Lagi katanya : “Terpujilah Tuhan, Allah Sem tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya. Allah meluaskan kiranya temapat kediaman Yafet, hendaklah ia tinggal dalam kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.” (Kej 9:18-27)

Setelah kita baca secara utuh jalan cerita di atas, maka timbul pertanyaan apa sebenarnya kesalahan si Ham anak nabi Nuh tersebut? Bukankah justru Ham adalah sebagai dewa penolong bagi bapaknya?

Ketika Ham melihat bapaknya mabuk dan telanjang bugil, dia langsung memberitahukan kepada kedua saudaranya, agar aurat bapaknya ditutup dengan kain.

Untung anaknya laki-laki (Ham) yang pertama kali melihat aurat bapaknya yang mabuk dan bugil tersebut. Coba kalau terlihat oleh istri-istri anaknya nabi Nuh (menantunya), kan lebih memalukan, apalagi mereka semua tinggal dalam serumah. Mestinya secara logika Ham inilah yang berjasa karena dia cepat memberitahukan keadaan bapaknya kepada kedua kakaknya sehingga tidak terlihat aurat bapaknya oleh istri-istri mereka. Tapi sungguh disayangkan , begitu bapaknya (Nuh) sadar dari mabuk dan bugil ria justru Ham langsung dikutuk olehnya. Sudah dikutuk dijadikan budak bagi saudara kandungnya sendiri. Ini tentu sangat kelewatan dan sangat tidak etis,tidak pantas, tidak rasional. Mestinya Ham ini harus mendapat pujian dan sanjungan dari bapaknya (Nuh), bukan kutukan !

Dari skenario jalan cerita di atas, sebenarnya yang terkutuk itu bapak mereka sendiri (Nuh), sebab jika seorang nabi atau utusan Allah sampai mabuk bahkan telanjang bulat, ini menunjukkan akhlak yang sangat tidak terpuji sebagai seorang ayah apalagi seorang utusan Allah. Na’uudzubillahimindzaalik!

Jadi sangat tidak wajar kutukan seorang mabuk dijadikan hujjah untuk mendiskreditkan seseorang hanya karena ketidaksukaan atau kebencian terhadap suatu agama!. Jika Allah yang mengutuk Ham, mungkin bisa kita tinjau apa alasan Allah mengutuknya. Tapi karena yang mangutuk Ham adalah manusia biasa (bapaknya sendiri) apalagi dalam keadaan mabuk dan bugil, tentu sulit diterima akal sehat, sebab sebenarnya yang mengutuknya  itulah yang terkutuk, sebab jika benar Nuh itu seorang nabi Allah lalu mabuk sambil bugil, tentu perbuatannya itu sangat tercela di hadapan Allah bahkan pebuatannya itu pasti terkutuk!

Jadi kesimpulannya, Ham bukan dari keturunan terkutuk, tapi yang mengutuk itulah yang terkutuk! Jika Alkitab mengatakan kebobrokan dan kebejatan nabi Allah seperti Nuh yang mabuk dan bugil ria, justru Al Qur’an sangat memuliakan beliau. Tidak mungkin seorang nabi pilihan Allah melakukan perbuatan bejat. Sudah salah mengutuk Ham, malah dijadikan budak bagi kedua saudara kandungnya sendiri. Ini sangat kelawatan dan sangat tidak manusiawi bagi ukuran seorang ayah terhadap anaknya, apalagi dia adalah seorang utusan Allah.

Jika Alkitab sangat melecehkan akhlak nabi NUH seperti yang dilukiskan dalam ayat Alkitab tadi, justru Al Qur’an sangat memuliakan nabi Nuh.

“Innallaahash thafaa aadama wa nuuhaw wa aala ibraahiima wa aala ‘imraana ‘alal ‘aalamiin.”

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran, melebihi segala bangsa (pada waktu itu).” (Q.S. 3 Ali Imran 33)

“La qad arsalnaa nuuhan illa qaumi-hii fa qaala yaa qaumi’budullaaha maa lakum min ilaaihin ghairuhuu inni akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumin ‘azhiim.”

“Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata : “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kalitidak ada Tuhan selain-Nya. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab di hari kiamat” (Q.S. 7 Al A’raaf 59)

“Salaamun ‘alaa nuuhin fil ‘aalamiin. Innaa ka dzaalika najzil muhsiniin. Innahuu min ‘ibaadinal mu’minin.”

“Sejahtera atas Nuh pada seluruh alam. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya dia (Nuh) termasuk di antara hamba kami yang beriman.” (Q.S. 37 Ash Shaaffat 79-81).

Pertanyaan Keempat
Benarkah Ismael tidak berkenan di hadapan Allah melainkan Ishak saja?

Memang jika kita baca hanya potongan nyatanya saja, maka jelas sekali akan terkesan bahwa permohonan Abraham kepada Allah akan keberadaan anaknya yang pertama Ismail, ditolak oleh Allah. Dalam brosur berwajah Islam yang mereka edarkan hampir di seluruh pelosok tanah air yang berjudul “Iman dan taat kepada Shirataathal Mustaqiim” dengan sengaja mereka memuat hanya potongan ayat Alkitab saja, agar terkesan bahwa leluhur keturunan nabi kita Muhammad Saw tidak diterima, ditolak oleh Allah.

Kami kutip kembali potongan ayat Alkitab dalam brosur berwajah Islam yang disengaja dan direkayas agar terkesan bahwa Ismael (leluhurnya nabi Muhammad) ditolak keberadaannya oleh Allah.

“Ah sekiranya Ismael diperkenaankan kepada hidup dihadapanMu! Tetapi Elohim berfirman: Tidak…(Kej 17:18-19)

itulah salah satu bentuk kecurangan mereka yang benar-benar disengaja agarr terlihat bahwa keturunan Abraham melalui Hagar, tidak direstui bahkan ditolak mentah-mentah oleh Allah. Tetapi kalau kita jeli dan teliti membaca dalam Alkitab jalan ceritanya tidak demikian! Tidak ada penolakan Allah akan keberadaan Ismael (leluhurnya Muhammad Saw) dan tidak ada penolakan Allah akan permohonan Abraham tentang anaknya Ismael! Selaki lagi tidak ada! Jalan ceritanya dalam Alkitab yang kami kutip apa adanya secara utuh dibawah ini:

“Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberikatinya, dan daripadanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.” Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya : “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara yang telah  berumur 90 tahun itu melahirkan seorang anak?” dan Abraham berkata kepada Allah : “Ah, sekiranya Ismail diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan istrimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan kau akan menamai dia Ishak, dan aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. (Kej 17:15-19)

Setelah kita baca secara utuh ayat-ayat Alkitab di atas itu, jelas sekali bahwa Allah sama sekali tidak menolak akan permohonan dari nabi Ibrahim kepada-Nya dan demikian juga akan keberadaan Ismail benar-benar tidak ditolak Allah. Maka makna sesungguhnya dari jalan cerita ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut :

Pada saat itu Sara, istri Abraham yang pertama tidak punya anak. Untuk  itu Allah berjanji melalui Abraham bahwa dia akan tetap memberikan keturunan seorang anak kepada Sara walaupun umur Sara sudah sembilan puluh tahun dan Abrahan sudah seratus tahun.

Sebagai manusia biasa, dan dalam hati Abraham merasa kurang yakin pakah bisa memperoleh anak yang usianya kakek-kakek dan tua renta seratus tahun, sementara istrinya Sara nenek berumur sembilan puluh tahun.

Karena pada saat itu Abraham sudah punya anak laki-laki yang bernama Ismail maka atas keraguannya karena merasa tidak mungkin bisa memperoleh anak dalam usia yang sudah sangat tua, dia berkata kepada Allah bahwa biarlah, kan dia sudah punya anak Ismail. Tetapi Allah tetap akan memberikan anak walaupun umur mereka sudah tua. Dan terbukti Sara mengandung dan melahirkan seorang anak yang bernama Ishak.

Nah, dari jalan cerita tersebut, jelas sekali bahwa Allah tidak menolak keberadaan Ismail, tetapi Allah tetap bersikeras akan memberikan  seorang anak kepada Sara dan Abraham walaupun mereka sudah lanjut usia.

Tetapi kerana hanya potongan ayat yang mereka tampilkan dalam brosur mereka, maka terkesan seolah-olah permohonan Abraham benar0benar ditolak oleh Allah.

Kalau kita baca ayat-ayat Alkitab tadi dalam versi terjemahan bahasa Indonesia 1941 ternyata sudah dirobah sedemikian rupa pada Alkitab tahun 1941 ini, tidak ada kata-kata permohonan Abraham dengan kata “Ah” pada ayat 18 dan penolakan Allah dalam kata “Tidak” pada ayat ke-19. Perhatikan bunyi ayat-ayat di bawah ini, dibandingkan dengan bunyi ayat Alkitab terbitan tahun yang baru, seperti yang kami kutip duluan tadi, kita akan temukan perbedaan yang mencolok akan perobahan yang terjadi pada ayat-ayat tersebut :

Kejajian 17:15-19 (ejaan lama terbitan 1941) berbunyi

(15) Dan lagi firman Allah kepada Ibrahim, maka akan hal Sarai, istrimoe itoe djangan lagi engkau panggil namanja Sarai, melainkan Sara itoelah akan namanja.

(16) Karena akoe akan memberi berkat kepadanja serta daripadanja djoega akoe akan menganoegerahkan se’orang anak laki-laki kepadamoe; bahkan akoe akan memberi berkat kepadanja, sehingga ija akan djadi asal beberapa bangsapon akan berpentjaran dan daripadanja.

(17) Maka pada masa itoe soedjoedlah Ibrahim dengan moekanja sampai ka boemi sambil tertawa, lalu berkata ija dalam hatinja : “Bolehkah djadi kanak-kanak bagai sa’orang jang soedah seratoes tahoen oemoernja? Bolihkan Sara jang soedah sambilan poeloeh tahoen oemoernja itoe lagi beranak?

(18) Maka sembah Ibrahim kepada Allah : “ja Toehan, bijar  apalah   Ismail sahadja hidoep di hadapan hadiratMoe.

(19) Maka firjman Allah, bahwa sasoenggoehnja Sarah, istrimoe itoe, beranak kelak bagaimoe laki-laki sa’orang, hendaklah engkau namai akan dia Ishak; maka Akoe akan menegoehkan perdjandjiankoe dengan dia, ija-toe soeatoe pardjandjian jang kekal, serta dengan anak-boeahnja jang kemoedian dari-padanja.

Setelah kita membaca dan membandingkan ayat-ayat Alkitab versi baru dan versi lama, maka sangatlah jelas bahwa setiap Alkitab dicetak ulang, selalu mengalami perobahan-perobahan yang sangat berarti.

Perobahan pada ayat-ayat yang berhubungan dengan Ismail sebagai leluhurnya nabi kita Muhammad Saw tersebut, akan sangat mempengaruhi pemahaman bagi umat Kristiani untuk mendiskreditkan umat Islam, apalagi jika ayat-ayatnya sengaja dipotong-potong.

Jika Allah dalam Alkitab punya sifat lemah seperti kita manusia yang suka membedakan seseorang satu dengan lainnya, tentulah dia bukanlah Allah yang sepatutnya kita puji dan sembah setiap hari.

Menrut pandangan Islam, Allah berlaku adil terhadap semua hamba-hamba-Nya. Jadi tuduhan sebagian umat Kristen terhadap leluhurnya nabi Muhammad Saw (Ismail dan ibunya Siti Hajar) sama sekali tidak beralasan.

Pertanyaan Kelima
Benarkah Ismail anak Hagar Perilakunya seperti keledai liar?

Kejadian 16:12 (Alkitab cetakan Baru)

“Seorang anak laki-laki yang lakunya keledai liar, demikianlah nanti anak itu: tangannya akan melawan tipa-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan ditempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.”

Ayat di atas itu meberikan kesan negatif, seolah Ismail orang berakhlaq buruk. Bandingan dengan Alkitab terbitan tahun 1941 di bawah ini, dan perhatikan sejauh mana perubahan yang terjadi padahal masih dalam satu ayat yang sama.

Kitab kejadian 16:12 (Alkitab ejaan lama tahun 1941) berbunyi :

“Maka anak-anak itoe akan mendjadi sa’orang bagai kaldai hoetan lakoenja dan tangannja akan melawan segala orang dan tangan segala orangpon aka melawan dia; maka ijapon akan doedoek pada sabelah timoer segala saoedaranja.”

Sebelum kita jelaskan, coba kita perhatikan bagaiman Alkitab itu dirobah-robah setiap kali dicetak/diterbitkan ulang. Pada bagian akhir Alkitab cetakan baru di atas itu, berbunyi :

“Dan di tempat kediamannya ia akan menentang saudaranya semua.” (Kej 16:12)

Potongan ayat ini akan bermakna bahwa Ismail itu tidak akur atau bermusuhan dengan sesama saudara dan bangsanya. Tentu saja ini membrikan kesan negatif atau citra yang buruk terhadap Ismail, leluhurnya Muhammad Saw. Sementara pada bagian akhir Alkitab cetakan lama bunyinya:

“Maka ijapon doedoek pada sebelah timoer segala saoedaranja” (Kej 16:12)

Potongan ayat ini bermakna bahwa Ismail akan menempati atau menguasai Wilayah Timur, yang sekarang dikenal sebagai negara Timur Tengah. Kedua potongan ujung dari ayat tersebut sangat jauh sekali berbeda maknanya, yang cetakan baru memberi kesan negatif dan yang cetakan lama positif.

Pada Alkitab cetakan baru tertulis “Seperti keledai liar “ dan pada cetakan lama tertulis “bagai keledai hutan,” walaupun maknanya sama, tapi pengertiannya bukan negatif, sebab istilah atau julukan kepada Ismail “Seperti keledai liar” atau “bagai keledai hutan”, itulah hanya bahasa kiasan saja.

Julukan bagi Ismail tersebut “seperti keledai liar” adalah orang yang hidup sebagai orang yang hidup dipandang gurun yang panas dengan segala resiko dan tantangan dan ujian yang sangat berat. Jadi itu bukan bermakna negatif, tetapi positif.

Coba kita simak beberapa ayat Alkitab di bawah ini yang berbicara dalam bahasa kiasan tentang Ismail, Yehuda dan dan bangsa Israil dan juga terhadap Yesus, apakah ayat-ayat di bawah ini menunjukkan negatif?

“Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan setiap orang dan tangan setiap  orang akan melawan dia, dan ditempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.” (Kej 16:12)

“Yehuda adalah seperti anak singa; setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?” (Kej 49:9)

“Lihat, suatu bangsa, yang bangkit seperti singa betina, dan yang berdiri tegak seperti singa jantan, yang tidak membaringkan dirinya, sebelum ia memakan mangsanya dan meminum darah dari yang mati dibunuhnya.” (Bil 23:24)

“Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata : “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29)

“Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata : “Lihatlah anak domba Allah!” (Yoh 1:36)

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” (I Korintus 5)

Jika diterjemahkan secara hurufiah bahwa Ismail kelakuannya  seperti keledai liar beneran, apakah juga Yehuda kelakuannya seperti singa jantan atau singa betina yang sangat buas membunuh,  menerkam, memakan serta meminum darah mangsanya?

Dan apakah Yesus seperti anak domba benaran dan apakah anak domba bisa mengampuni dosa manusia?

Dan apakah Yesus benar-benar disembelih seperti anak domba benaran? Tentu saja tidak! Kenapa? Sebab semua itu hanyalah merupakan kiasan yang punya arti positif bukan negatif.

Umat Islam dalam membaca ayat Alkita seperti “Yesus anak domba Allah” atau “Yesus adalah anak domba Paskah”, tidak akan serta merta mengartikan sebagai hal yang negatip.

Demikian juga dengan Ismail disebut “seperti keledai liar”, janganlah umat Kristiani langsung manganggap itu sebagai hal negatip.

Dalam kitab suci Al Qur’an, Allah SWT sangat memuliakan nabi Ismail bersama nabi-nabi lainnya, sebab mereka itu adalah orang-orang pilihan-Nya, yang tidak mungkin punya akhlak yang buruk atau tercela. Perhatikan ayat Al Qur’an di bawah ini :

“Wa ismaa’iila wal yasa’a wa yuunusa wa luuthaw wa kullan fadhdhalnaa ‘alal ‘aalamiin. Wa min aabaa-ihim wa dzurriyyaatihim wa ikhwaanihim waj tabainaahum wa hadainaahum ilaa shiraathim mustaqiim.”

“ Dan (juga) Ismail, Ilyasa, Yunus dan Luth, semuanya Kami lebihkan (derajatnya) dari lain-lain manusia dan (Kami lebihkan pula) di antara bapak-bapak, keturunan dan saudara-saudara mereka, Kami pilih dan Kami tunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Q.S. 6 Al An’aam 86:87)

Bersambung...

Terkait Khusus

Kristologi 550889878032407181

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item