Mempertanyakan pengangkatan Isa al-Masih



Dan perkataan mereka: "Bahwa kami telah membunuh al-Masih Isa putera Maryam, utusan Allah", padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan untuk mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. Tetapi Allah telah mengangkat Ia kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. - Qs. 4 An-Nisaa’ 157-158



Beranjak dari ayat ini, maka berbagai ahli tafsir al-Qur’an berbeda-beda pendapat tentangnya, ada yang menyatakan bahwa pengangkatan ini berlaku secara harfiah, artinya Isa al-Masih diangkat oleh Allah kesatu tempat dilangit lengkap dengan jasad kasarnya dan adapula yang mengatakan bahwa yang diangkat disitu adalah derajat kemuliaan Isa al-Masih saja sementara Isa al-Masih sendiri sudah wafat dibumi ini. Departemen Agama Republik Indonesia sehubungan dengan Surah an-Nisa' ayat 157 menterjemahkan ayat tersebut sebagai berikut :


Dan karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka"



Ada ketidakjujuran pada terjemahan tersebut, dimana tim penterjemah Departemen Agama telah melakukan interpolasi ayat, khususnya dengan menambahkan kata-kata yang tidak terdapat dalam konteks aslinya kedalam kitab terjemahan mereka yang bisa membuat arti ayat tersebut menjadi berbeda. Padahal arti kata Syubiha lahum :
adalah samar, penyamaran, disamarkan atau juga diserupakan kepada mereka (maksud mereka disini merujuk pada orang-orang yang melakukan penyaliban itu yaitu tentara Romawi dan orang-orang Yahudi). Bagaimana cara penyamaran ini sebenarnya terjadi itulah titik awal timbulnya dua pendapat tadi, bahwa ada yang berpendapat penyamaran dilakukan terhadap diri Isa al-Masih dengan proses substitusi atau pergantian wajah antara Isa dengan seseorang dan ada pula yang berpendapat bahwa penyamaran itu dilakukan dengan membuat Isa al-Masih seolah berhasil dibunuh padahal beliau hanya dipingsankan oleh Allah yang akhirnya berhasil disembuhkan oleh Paman ibunya, Yusuf Arimatea sebagaimana yang kita paparkan sebelumnya. Mereka yang berpendapat penyamaran itu berdasarkan penyerupaan wajah dan perawakan seseorang kepada Isa mendasarkan pula kajiannya terhadap ayat berikut :


Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu serta akan membersihkan kamu dari mereka yang kafir..." - Qs. 3 Ali Imron : 55


Perbedaan tersebut berawal dari penterjemahan ayat "Tawaffa" (mewafatkanmu). Makna dari "Tawaffa" adalah "Imatah" (mematikan), dan kematian itu melihat dari konteks ayat telah terjadi sebelum Isa diangkat. Sebagian ulama Islam mengatakan bahwa kata "Tawaffa" tidak menunjukkan waktu tertentu dan juga tidak menunjukkan bahwa kematian itu telah berlalu, namun Allah bisa mewafatkan Isa kapan saja. Yang jelas tidak bisa dijustifikasikan bahwa waktu wafatnya telah berlalu.

Mengenai bersambungnya kata "Mutawafika" dengan kata "Warofi'uka" tidak menunjukkan satu hubungan yang sifatnya berurutan. Sebab Kata sambung "wau" 


itu tidak memberi penjelasan urutan waktu. Karena itulah menurut mereka, perkataan :


Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu


Bisa diartikan :

Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Akulah yang mengangkatmu kepadaKu dan yang mewafatkanmu.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah bahwa ia berkata: Ini termasuk masalah muqaddam dan muakhkhor atau mendahulukan kata yang datang belakangan dan mengakhirkan kata yang datang lebih dahulu. Jadi firman Allah tentang wafatnya Isa itu bisa diartikan menjadi :


Dia mengangkatmu (kelangit) lalu menurunkanmu (kedunia) dan mematikanmu sebelum hari kiamat, agar kamu menjadi salah satu tanda hari kiamat tiba.


Itu adalah pendapat Al Farra' dan Al Zujaj. Jadi faedah menjadikan Isa al-Masih sebagai tanda hari kiamat untuk pemberitahuan bahwasanya diangkatnya Isa kelangit itu tidaklah menghalangi kematiannya. Ibnu Qutaibah menafsirkan dalam kitab Gharibil Qur'an bahwa menggenggamnya dari bumi tanpa harus mematikan. Imam Ibnu Jarir Ath Thabari berkata: Kita sudah ketahui bahwa jika Allah mematikannya, maka tidak mungkin ia mematikannya sekali lagi lalu mengumpulkannya menjadi dua mayat, sehingga penafsiran ayat itu menjadi :


Wahai Isa, sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi dan yang mengangkatmu kepadaKu serta yang mensucikanmu dari orang-orang kafir yang mengingkari kenabianmu.


Syaikh Muhammad Jamil Zainu, seorang ulama Mekkah dan merupakan staff pengajar di Daarul Hadis Al Khairyah Mekkah mengatakan bahwa semua penafsiran tersebut adalah shahih, namun ia sendiri lebih condong kepada penafsiran yang terakhir, yaitu Yang menggenggam diri Isa dalam keadaan hidup didunia, bukan dalam keadaan mati dan juga bukan dalam keadaan tidur. Sementara ayat : Inni mutawaffika warofi'uka Illa merupakan penjelasan tentang cara wafatnya Isa al-Masih. Sampai disini mungkin perlu juga kita tanya kepada ulama-ulama Islam tersebut tentang kaidah mereka mempertukarkan urutan ayat yang sudah pasti letaknya dari Allah sehingga rasanya tidak perlu untuk diperbaiki lagi sebab dengan demikian mereka seolah-olah menganggap Allah telah salah menempatkan susunan kata didalam firman-Nya yang berimplikasi kepada penistaan atas kemaha sempurnaan dan kemahatahuan ilahiah-Nya. Kiranya susunan ayat itu sudah sangat jelas dan tidak perlu ditukar-tukar tempatnya oleh siapapun juga sebab dengan perbuatan-perbuatan semacam ini terpaksa akan menyebabkan firman-firman Allah perlu dirubah -sebagaimana halnya orang-orang Yahudi yang merubah-rubah perkataan-perkataan dari tempatnya dan ini jelas sangat tercela didalam Islam.


Ungkapan 'Muttawaffika‛ harus tetap diartikan bahwa: Aku akan melindungi engkau wahai Isa, dari mati terbunuh oleh kaum itu dan akan menganugerahi engkau umur panjang yang sudah ditetapkan bagi engkau, dan akan membuat engkau mati secara biasa (wajar).; Penggunaan kata 'rafi'uka ilayya‛ (mengangkat engkau kepada-Ku) bisa ditarik persamaan dalam beberapa ayat al-Qur'an lainnya, seperti : "Rumah-rumah yang diperintahkan Allah supaya mereka diangkat (turfa'a)" dalam surah An-Nuur (24) ayat 36 atau "Dan amal salih yang akan dia angkat (yarfa'ahu) dalam surah Faathir (35) ayat 10 atau "Allah akan mengangkat (yarfa'i) orang-orang yang beriman dari kamu." pada surah al-Mujaadilah (58) ayat 11. Dengan demikian, penggunaan kata rafa'a tidak selalu harus dalam arti harfiah seperti kita mengangkat batu dari tanah keudara melainkan bisa juga dalam arti kiasan yaitu dengan memberikan kedudukan, kehormatan dan martabat yang tinggi disisi Allah. Pemahaman ini dianut juga oleh al-Alusi di dalam tafsir Ruhul-Maaninya, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Mustafa Al-Maraghi, Buya Hamka, Mahmoud Shaltout, Quraish Shihab, Hasbullah Bakry dan sebagainya termasuk orang-orang dari jemaah Ahmadiyah.


Ibnu Katsir dalam tafsir al-Qur’annya ketika menjelaskan ayat penyaliban ini mengatakan, ketika terjadi pengepungan terhadap dirinya, Isa berkata kepada para sahabatnya "Siapa diantara kalian yang bersedia secara sukarela untuk dibuat serupa dengan wajahku yang mana nantinya dia akan menjadi sahabatku didalam syurga ?", seorang anak muda mengajukan dirinya, tetapi Isa berpikir bahwa ia masih terlalu muda dan kembali mengajukan pertanyaan yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya dan setiap kali itu juga anak muda tersebut mengajukan dirinya kepada Isa al-Masih, lalu Isa berkata : "Baiklah, engkau akan menjadi diriku", kemudian Isa merubahnya menjadi sangat mirip dengan Isa dan ketika atap-atap rumah itu terbuka, Isa dibuat tertidur dan diangkat kelangit. Pernyataan Ibnu Katsir ini seperti yang dituturkannya sendiri berasal dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Abu Kuraib dari Abu Mua’wiyah.



Apa yang disampaikan oleh Ibnu Katsir diatas mengingatkan kita dengan cerita yang terdapat pada naskah Injil Yudas yang ditemukan di Muhafazat al-Minya, Mesir, antara tahun 1950-an dan 1960-an yang menceritakan latar belakang pengkhianatan Yudas terhadap Isa al-Masih yang tidak lain adalah atas dasar perintah langsung dari Isa untuk membocorkan rahasia keberadaan dirinya kepada orang-orang Yahudi dan tentara Romawi. Bisa jadi riwayat Ibnu Abbas tersebut dipengaruhi salah satunya oleh naskah Injil Yudas ini yang aslinya diperkirakan ditulis pada tahun 220 sampai 340 Masehi. Beberapa argumen mengenai kaitan antara Yudas dan al-Masih putera Maryam tersebut dimasa-masa terakhir ini mulai kembali dibicarakan orang dengan perspektif yang berbeda namun secara tidak langsung dihubungkan juga dengan Tafsir Ibnu Katsir ini yang menyatakan bahwa Yudas adalah seorang penyelamat Isa al-Masih yang dengan ikhlas dan penuh keluhuran budinya bersedia untuk dialihkan rupanya kepada Isa sewaktu orang-orang yang mengepung tempat persembunyian mereka tiba melalui sebuah proses yang dikenal dengan istilah ‚ Ciuman Yudas ‚.


Tafsir ini pada prinsipnya masih sangat layak untuk ditinjau kembali nilai kebenaran historisnya. Sebab bagaimanapun riwayat-riwayat yang menyatakan tentang teori subsitusi wajah seseorang kepada wajah Isa al~Masih dalam kejadian menjelang penyaliban itu bisa ditemui dalam banyak variasi pada naskah-naskah yang berusia lebih tua dari dunia Kristen. Sebut saja misalnya dalam naskah yang diperkirakan dicatat pada abad ke-2 Masehi yang disebut sebagai "Second Treatise of the Great Seth" [107] tertulis :


Dan rencana yang mereka susun untukku, untuk melepaskan kesalahan mereka dan ketidakberperasaan mereka - aku tidak mengalah pada mereka seperti yang mereka rencanakan. Bahkan aku tidak menderita sama sekali. Mereka yang di sana menghukumku. Dan aku sesungguhnya tidak mati, hanya seolah-olah telah mati, agar aku tidak dipermalukan oleh mereka karena semua ini merupakan keluargaku ... Karena kematianku yang menurut mereka sudah terjadi, karena kesalahan dan kebutaan mereka, karena mereka memakukan orang mereka sendiri hingga mati ... karena mereka tuli dan buta ... Ya, mereka melihatku; mereka menghukumku. Adalah orang lain, ayah mereka, yang meminum empedu dan cuka; bukan aku. Mereka menyerangku dengan buluh; itu adalah orang lain, Simon, yang memanggul salib di pundaknya. Adalah orang lain yang mereka pakaikan mahkota duri ... dan aku menertawakan kejahilan mereka ... Karena aku mengubah bentuk fisikku, berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya."


Naskah lainnya yang serupa adalah yang berasal dari abad ke-4 Masehi yang dikenal dengan nama "Apocalypse of Peter"[108] yang bercerita :



Ketika dia mengatakan hal itu, aku melihatnya seolah-olah ditangkap oleh mereka. Dan aku berkata, "Apakah yang aku lihat, Tuanku, benarkah engkau yang mereka tangkap, padahal engkau menggapaiku? Atau siapakah orang ini, yang bergembira dan tertawa di atas pohon itu? Dan adakah orang lain yang kaki dan tangannya mereka ikat?" Sang Juru Selamat bersabda kepadaku, "Dia yang engkau lihat di atas pohon, yang bergembira dan tertawa, adalah Isa yang masih hidup. Namun, orang yang tangan dan kakinya mereka paku adalah bagian dagingnya yang merupakan wujud pengganti yang dibuat sama, seseorang yang sungguh-sungguh mirip dengannya. Tetapi lihatlah ia dan aku." ... Namun aku, ketika aku melihat, berkata, "Tuan, tidak ada seorang pun yang melihatmu. Biarkanlah kami lari dari tempat ini." Namun, ia berkata kepadaku, "Sudah Aku katakan, tinggalah si buta itu sendiri! Dan kamu, lihatlah betapa mereka tidak mengetahui apa yang mereka katakan. Karena sebenarnya bukan pelayanku yang mereka permalukan."



Begitupula dengan naskah yang disebut sebagai "Acts of John" yang ditulis pada abad ke-2 Masehi :


Dan kami seperti orang-orang yang heran atau kebingungan, kami berlari ke sana kemari. Demikianlah, aku melihatnya menderita serta tidak tahan dengan penderitaannya, kemudian berlari menuju Bukit Zaitun, meratapi apa yang telah terjadi. Dan ketika ia digantung pada Hari Jumat, pada jam enam hari itu, muncullah kegelapan menyelimuti seluruh bumi. Dan Tuanku berdiri di tengah goa dan menjelaskan hal itu seraya bersabda, "Yohanes, bagi orang-orang yang ada di Yerusalem, Aku memang disalib dan ditusuk dengan tombak dan bambu, serta diberi cuka dan empedu untuk diminum. Namun, bagimu Aku tengah berbicara dan mendengarkan apa yang Aku katakan ... Dan ketika Ia selesai mengatakan hal ini, Ia menunjukkan padaku sebuah salib bersinar yang sangat kokoh, dan di sekitar salib itu ada kerumunan yang sangat besar, yang tidak memiliki bentuk tunggal; dan di dalamnya terdapat satu bentuk dan kemiripan yang sama. Dan aku melihat Tuan sendiri ada di atas salib ... "Ini bukanlah salib kayu yang akan kamu lihat ketika engkau turun dari sini; Aku juga bukan orang yang ada di atas salib itu. Aku adalah orang yang kini tidak bisa kamu dengar, tetapi kamu hanya bisa mendengar suaraku. Aku dijadikan seseorang yang bukan aku, aku bukanlah diriku bagi banyak orang lain; tetapi apa yang akan mereka katakan tentang aku tidak berarti apa-apa untukku ...


Demikianlah aku tidak menderita segala hal yang akan mereka katakan tentang aku; bahkan penderitaan yang aku tunjukkan kepadamu dan kepada murid-muridku dalam tarian, itulah yang aku sebut sebuah misteri ... Kamu mendengar bahwa aku menderita, padahal aku tidak menderita; dan bahwa Aku tidak menderita, padahal aku menderita; dan bahwa Aku ditombak, padahal aku tidak terluka; bahwa aku digantung, padahal aku tidak digantung; bahwa darah mengalir dariku, padahal tidak ada darah yang mengalir; dan, singkatnya, apa yang mereka katakan tentang aku, aku tidak mengalaminya, tetapi apa yang tidak mereka katakan, itulah hal-hal yang membuatku menderita ..."


Ketiga cerita yang ada didalam naskah apokripa Kristen diatas semuanya mengukuhkan teori substitusi wajah Isa al-Masih kepada wajah orang lain, sama seperti apa yang disampaikan Ibnu Katsir, dan dari sini kita sebenarnya bisa memberikan cukup banyak catatan kritis kepadanya yang mengharuskan diadakannya peninjauan kembali validasi historisnya sebelum diterima sebagai dogma keimanan bagi umat Islam.


Bagaimanapun, lepas dari semua naskah dan riwayat-riwayat yang ada, kitab suci al-Qur’an secara tegas mengisyaratkan akan sudah wafatnya Isa al-Masih dimasa sekarang ini (artinya dia sudah wafat sebelum Muhammad lahir dan diutus menjadi Nabi).


Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi sesudah Engkau wafatkan aku (tawaffaitani) Engkaulah yang menjadi penjaga atas mereka, dan Engkau menjadi saksi tentang segala sesuatu. – Qs. 5 al-Maaidah 117


Maksud ayat ini tidak lain kecuali kesaksian dari Isa al-Masih sendiri akan keberlepas tanganannya terhadap umatnya yang apabila setelah kematiannya mereka berbalik murtad dan kafir dari apa yang sebelumnya sudah ia ajarkan kepada mereka. Sehingga pada akhirnya, ayat yang bercerita mengenai penyaliban dan pengangkatan dimaknai sebagai berikut :


Dan perkataan mereka: "Bahwa kami telah membunuh al-Masih Isa putera Maryam, utusan Allah", padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya (… dalam arti penyaliban yang sesungguhnya), tetapi (peristiwa pembunuhan dan penyaliban kepada diri Isa itu) disamarkan untuk mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. Tetapi Allah telah mengangkat Ia kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. - Qs. 4 An-Nisaa’ 157-158


Kata 'Masalabuhu‛ (juga tidak meyalibnya) memiliki akar kata 'salaba‛ yang berartikan membakar suatu barang hingga hangus atau mematikan seseorang dengan cara yang sudah dipastikan kematiannya. Sehingga bila disebutkan bahwa kaum Yahudi tidak berhasil menyalib Isa al-Masih maka disini yang dimaksudkan bahwa Isa tidak benar-benar mati dan tersalib sebagaimana dugaan dan kebiasaan mereka. Kata 'Syubbiha lahum‛ (penyamaran atau penyerupaan) adalah merujuk kepada peristiwa dimana kejadian ini kelihatan serupa dengan seorang yang dihukum salib bagi pandangan mereka jadi tegasnya disini peristiwa terhukum salibnya Isa yang diserupakan ... bukan merujuk kepada orang lain yang diserupakan bagi mereka apalagi sampai mengadakan substitusi antara Isa dengan Yudas Iskariot atau Isa dengan Simon dari Kirene.


Kita bisa melihat bagaimana kesangsian kaum Yahudi tentang matinya Isa al-Masih diatas kayu salib dengan tindakan sejumlah pemuka Yahudi dan Pharisi meminta kepada Pontius Pilatus agar goa tempat Isa disemayamkan itu dijaga dengan ketat agar tidak terjadi sesuatu yang di-inginkan (padahal tindakan mereka sudah telat satu hari setelah Yusuf Arimatea dan Nikodemus memberikan pengobatan terhadap tubuh Isa).


Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidupnya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-muridnya mungkin datang untuk mencuri dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama." Kata Pilatus kepada mereka: "Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya." Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya. – Injil Matius pasal 27 ayat 62 s/d 66


Sebagian dari umat Islam terkadang terlalu berlebihan dalam memandang sosok para Nabi dan Rasul sehingga nyaris menganggap mereka sebagai manusia langit yang sama sekali tidak tersentuh dengan berbagai permasalahan duniawiah, banyak dari kita berpikir bahwa seorang Nabi itu haruslah senantiasa berkhotbah tentang akhlak, berkhotbah tentang ketuhanan, penuh mukjizat, sakti mandraguna, suci tak bernoda dan tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun, tidak mungkin bisa dilukai apalagi dibunuh dan berbagai sifat kedewaan lainnya yang akhirnya secara tidak langsung telah melakukan pengkultusan dan menaikkan status kemanusiawian mereka diatas manusia-manusia lainnya.


Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling - Qs. 5 al-Ma'idah : 75


Tanyakanlah: "Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan siapa saja diatas bumi semuanya ?" - Qs. Al-Ma'idah : 17


Dalam sejarah kenabian di al-Qur’an kita banyak melihat berbagai fenomena bagaimana misalnya seorang Ibrahim yang disebut sebagai kekasih Allah telah ditangkap dan dibakar oleh umatnya kedalam api yang membara, kita juga membaca bagaimana Nabi Yunus bisa sampai terperangkap kedalam perut ikan atau Yusuf putera Nabi Ya’kub yang terjebak kedalam sumur oleh saudara-saudaranya atau yang paling akhir adalah Nabi Muhammad sendiri yang harus hijrah ke Madinah karena intimidasi kaum kafir Mekkah dan perlakuan mereka yang buruk terhadapnya, dalam sebuah pertempuran dibukit Uhud, wajah beliau terluka dan nyaris terbunuh. Semuanya menyajikan data-data historis insaniah para Nabi dan Rasul Tuhan yang hidup dan berinteraksi sebagaimana manusia normal lainnya. Lalu kenapa dalam hal Isa al-Masih yang umatnya disebut oleh Qur’an sebagai umat yang terbiasa membunuh para Nabi harus mendapat pengecualian dengan mengharuskannya 'terhindar secara luar biasa‛ dari perlakuan umatnya? Kesabaran para Nabi dalam menghadapi ujian selalu mendatangkan pertolongan dari Allah, namun tidak pernah Allah menolong dengan cara menggantikan ujian tersebut kepada diri orang lain sehingga bukan sang nabi yang menghadapi ujian namun justru orang lainlah yang mendapatkan ujian tersebut. Pertolongan Allah bekerja dengan cara yang latief (halus) melalui ujian, kesabaran, dan keteguhan dari sang Nabi dan para murid (sahabat)nya.


Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), padahal mereka membawa bukti-bukti yang nyata, kekuatan serta kitab yang memberi penjelasan.
- Qs. 3 Ali Imran : 184


Ini semua harus bisa dilihat sebagai sesuatu yang alamiah dan historis, para utusan Tuhan tersebut berhasil keluar dari semua permasalahan yang mereka hadapi, sebagaimana Nabi Ibrahim keluar dari kobaran api dalam keadaan hidup, Nabi Musa melewati laut merah dan mengalahkan para tukang sihir dalam keadaan hidup, Nabi Muhammad melewati berbagai peperangan dibaris terdepan dan tetap dalam keadaan hidup maka Isa al-Masih, juga berhasil lolos dari maut dalam hukuman penyaliban atas dirinya dan tetap hidup, sebuah penyaliban yang gagal dan karenanya Isa al-Masih tidak bisa disebut telah disalibkan.


Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. - Qs. 33 al-Ahzab : 62



Daftar Pustaka
--------------------------------------------------------------------------------
REkntruksi Sejarah Isa Al masih
107. http://www.gnosis.org/naghamm/2seth.html
108. http://www.earlychristianwritings.com/apocalypsepeter.html

Terkait Khusus

Kristologi 737088430785261204

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item