Abdurrahman Wahid [Gusdur] Sang Pelopor Liberalism Indonesia


Abdurrahman Wahid, seorang pelopor Islam Liberal di Indonesia (Greg Barton). Gus Dur lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940 M. Putra tertua dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Hj. Sholehah. Pendidikan-nya dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) di Jakarta pada tahun 1953, kemudian masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) di Yogyakarta tamat tahun 1956 dan mengaji di pondok pesantren milik KH. Ali Ma’shum. Kemudian di pondok Tegalrejo Magelang, lalu pindah ke pondok pesantren Tambak Beras Jombang pada tahun 1959-1963.

Guru privat bahasa Inggrisnya adalah seorang tokoh GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) sebuah organisasi mantel PKI (Partai Komunis Indonesia) yang melahirkan tragedy gerakan 30 September 1965 yang kelam itu. Pada waktu menjadi murid SMEP ia sudah hafal jumlah pidato STAIN dalam bahasa Inggris. Di majalah Tempo 1997, ia pernah menulis sebuah artikel yang salah satu isinya menyatakan semenjak bersentuhan dengan Marxisme pandangannya tehadap agama Islam mengalami ‘perubahan'.

Kemudian ia melanjutkan studinya ke Mesir (1964-1966) di sini ia gagal dan tidak bisa melanjutkan. Lalu ia terbang ke Baghdad dan masuk Fakultas Adab (1966-1970), namun di situ pun tidak serius belajar justru lebih sibuk berhubungan dengan partai Ba'aths, sebuah partai nasionalis yang menyerukan revolusi total dalam konsep dan nilai-nilai peradaban untuk dilebur dan dialihkan ke pangkuan sosialisme.

Partai Ba'aths berpegang pada ide sekuler yang melemparkan Islam jauh-jauh dan mempersetankannya. Partai yang dipengaruhi oleh ide Sosialisme dan Marxisme ini didirikan oleh Michael Aflaq, seorang Kristen Ortodoks (Maronit) yang punya komitmen kuat kepada Gereja Timur. Menurut Kholid Mawardi mantan Dubes Indonesia di Syiria, Abdurrahman Wahid bukan saja tertarik pada partai ini, bahkan ia menjadi anggota inti partai.

Sepulang dari kuliah di luar negeri pada tahun 1974, Gus Dur memulai karirnya sebagai ‘Cendekiawan’ dengan menulis di berbagai kolom di berbagai media massa nasional. Pada akhir dasawarsa 70-an suami Shinta Nuriyah ini mengukuhkan diri sebagai salah satu dari banyak cendekiawan Indonesia yang terkenal dan laris sebagai pembicara publik.

Dia juga diamanahi oleh yayasan Alumni Timur Tengah untuk mengelola sebuah pesantren di kawasan Ciganjur Jakarta selatan. Sayangnya amanat ini tidak pernah dilaksanakan dengan baik melainkan ia sibuk di luar. Berkali-kali ia diingatkan akan amanatnya, namun tidak ada jawaban yang pasti. Setelah masalah ini berlarut-larut dan memakan waktu bertahun-tahun akhirnya ia pun hengkang dari situ kemudian tidak meninggalkan satupun santri.

Gus Dur yang pernah mengenyam pendidikan di al-Azhar tapi tidak tamat itu kemudian berkecimpung di dunia seni dengan menjadi DPH Dewan Kesenian Jakarta di Taman Isma’il Marzuki Jakarta (1983-1985) dan Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI) dan Badan Sensor Film (BSF). Tahun 1984 melalui dukungan Leonardus Benny Moerdani, Jendral Katolik yang pernah membantai ratusan umat Islam pada peristiwa Tanjung Priok naiklah Abdurrahman Wahid menjadi Ketua Umum Tanfidziyah Nahdlatul Ulama dengan menggeser KH. Idham Kholid yang masih banyak pengaruhnya di Nahdlatul Ulama dengan bertujuan menghancurkan sayap politik Nahdlatul Ulama.

Pada tahun 1995 dalam Muktamar Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya Jawa Barat ia terpilih kembali menjadi Ketua Nadlatul Ulama. Yang menarik, ternyata semua ini tidak terlepas dari dukungan kelompok Katholik dan LSM, seperti Marsilam Simanjutak (Katholik), Hary Tjan Silalahi (CSIS), Sae Nabahon (Kristen) dan Rahman Toleng (tokoh Sosialis).

Untuk merayakan kemenanganya diadakan pesta meriah di Adelanta Discotheque yang biasa digunakan untuk dansa dan tempat pelacuran, yang dihadiri hampir semua LSM.

Karir Gus Dur kian melonjak, setelah terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Saat itu hubungan NU dengan pemerintah sedang mesra-mesranya. Kendati dalam perjalanan selanjutnya, loyalitas Gus Dur tak selalu berkompromi dengan pemerintah. Misalnya, ketika pemerintah berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Muria, Gus Dur menentangnya. Demikian pula ketika Habibi mendirikan ICMI, Gus Dur menentangnya dengan mendirikan FORDEM (Forum Demokrasi) sebuah LSM yang sengaja dibentuk untuk menggoyangkan kepemimpinan Soeharto paska ijo royo-royo 1992. Para aktivis FORDEM ini terdiri kelompok Katholik, Marhaenis, Nasionalis Sekuler, kelompok Sosialis serta kaum kiri lainnya. Kesemuanya menjadi ujung tombak gerakan oposisi dalam menentang pemerintah. Sikap itu berlangsung sampai pemerintahan Soeharto. Dan sekarang ini menjadi senjata kelompok sekuler untuk menghantam Islam.

Salah satu kiprah Gus Dur saat masih memimpin NU adalah berhasil membawa organisasi itu ke Khitthahnya, yaitu keluar dari politik praktis pada tahun 1984. Kendati demikian, pada tahun 1999, ia pula yang membawa NU kembali ke dunia politik. Meski dalam format yang berbeda karena dilakukan melalui pembentukan PKB, partai yang selalu digembor-gemborkan sebagai anak kandung NU. Sementara Gus Dur tidak mengakui partai lain bentukan orang-orang NU selain PKB. Bahkan sebelum pemilu Gus Dur pernah ngomong di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) bahwa dari “dubur ayam bisa keluar telur dan tai ayam”. Ketika ditanya apa maksudnya, Gus Dur menjawab “yang telur itu PKB, dan yang lain tai ayamnya”.

Ia juga menjadi garda terdepan dalam membela kelompok sekuler dan Kristen/Katholik. Termasuk di antaranya, dukungannya terhadap Megawati dan PDI (partai Demokrasi Indonesia) yang merupakan partai Nasionalis Sekuler. Juga mendukung PRD (Partai Republik Demokrat) pengganti/reinkarnasi PKI (Partai Komunis Indonesia). Maka Bersama Romo Sandyawan ia membela para tokoh PRD melalui Institut Sosial Jakarta.

Pengalaman-pengalaman lainnya di organisasi International Coference Religion World yang berpusat di Roma. Meskipun ia bukan anggota inti, namun atas desakan wakil Uskup di Australia dan Rabbi Yahudi dari Barat, ia akhirnya menjadi presiden organisasi itu. Kesepakatan kerjasama untuk misi perdamaian itu ditandai dengan penyalaan lilin yang dilakukan oleh Gus Dur. Dia juga menjadi Dewan Penasehat Liberty For All Foundation bersama KH. Musthofa Bisri, Abdul Munir Mulkan, Amin Abdullah, Azyumardi Azra, Romo Magnis Suseno dan Ahmad Dhani. Sebuah organisasi yang mempunyai misi perdamaian antar umat beragama yang berpusat di Winston Carolina Amerika. Ia juga menjadi anggota DIAN (Dialog Antar Agama) yang bermarkas di Universitas Wacana Salatiga Jawa Tengah, Sebuah Universitas Kristen terbesar di Asia Tenggara.

Di samping itu ia juga menjadi anggota Institut Shimon Peres yang berpusat di Israel. Karena itu ia lebih sering terlihat di Israel (8 kali bolak-balik ke Israel bersama LB. Moerdani) ketimbang ke Mekkah. Sebelumnya ia mendapat penghargaan dari Yayasan Ramon Magsasay (Philipina) atas jasanya dalam membangun toleransi di kalangan umat beragama di Indonesia.

Abdurrahman Wahid yang sering berkumpul dengan Rabbi, Pastor dan Pendeta memang oleh para Ulama diakui sebagai jago kontroversial karena pemikiran-pemikirannya yang nyleneh dan ngawur. Semisal dalam kasus "Assalamu'alaikum" yang menurut Gus Dur bisa diganti dengan "selamat pagi", dari kelakuannya itu ia pernah dipanggil dan dimarahi oleh sesepuh Ulama Nahdlatul Ulama, KH. Ali Maksum, pimpinan pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.

KH. Ali Yafie mengundurkan diri dari kepengurusan di Nahdlatul Ulama karena tidak tahan atas tindak-tanduk Gus Dur yang menurut-nya jauh melampaui batas. KH. Yusuf Hasyim bahkan putus asa dalam menasehati keponakannya atas pemikiran dan ide-ide miring yang carut marut lagi amburadul. Dia tidak lagi peduli pada laknat dan adzab Allah SWT bahkan lebih dari pada Syaithon la'natullah. Sampai-sampai Gus Dur sudah jarang sholat dengan alasan perutnya gendut tidak bisa sujud.

Gus Dur pernah mengusulkan kepada peme-rintah agar melarang gerakan dakwah sebab menurutnya, apabila para dai leluasa dengan dakwahnya maka bisa akan melahirkan tragedi seperti yang terjadi di Aljazair. Lebih dari itu ia mengatakan bahwa "kalau umat Islam berkuasa di Indonesia maka orang Kristen dan Katholik akan dibantai". Hal ini ia katakan karena memang ia sangat anti dengan kemajuan umat Islam di bidang politik.

Makanya ia dengan tegas menolak menjadi anggota ICMI yang menurutnya organisasi itu disusupi kaum ekstrimis yang akan mendirikan negara Islam di Indonesia.

Menurutnya semua agama itu sama saja, penganut Kristen itu tidak kafir, (Jawa Pos. 18 Juni 2006), bahkan meskipun Al-Quran telah menyatakan dengan tegas bahwa Yahudi dan Nashrani memusuhi umat Islam.[ ]

Dalam kuliah umum di depan mahasiswa dan dosen Universitas Kristen Petra Surabaya, Gus Dur ditanya, “Mengapa menurut peraturan pemerintah jagal penyembelihan binatang kok harus orang beragama Islam?” Mendapat pertanyaan seperti itu, Gus Dur malah menyatakan keheranan. ”Mengapa juga urusan jagal saja perlu peraturan pemerintah? peraturan soal jagal itu jelas diskriminatif!” , kata Gus Dur. Ia menjelaskan, "Dalam Fiqih hanya disebutkan, yang penting dalam menyembelih binatang disebut nama Tuhan. Di sana tidak dijelaskan apakah jagal harus beragama Islam atau tidak. "Dia bilang, "di Timur Tengah saja (ia tidak menyebut Timur Tengahnya, negara mana itu) tidak ada orang ribut-ribut soal jagal. Di sana sudah biasa, yang menyembelih binatang orang Yahudi kemudian yang makan dagingnya orang Islam." Jawaban Gus Dur tersebut memperoleh tepuk tangan meriah dari para mahasiswa dan dosen Universitas Kristen Petra Surabaya itu.

Pada bagian lain, Gus Dur menerima pertanyaan soal kawin campur antar agama yang bertentangan dengan Undang-Undang Pokok Perkawinan tahun 1974 (termasuk kawin antara muslimat dengan pria non-Islam). Gus Dur bukannya memperkuat ketentuan itu, malah seolah mengajari cara menghindarkan/melecehkan hukum Islam. Dia bilang, "Sekarang kan sudah banyak yang menikah melalui kantor catatan sipil. Mereka bisa melakukan kawin lari ke negara lain. Mereka bisa ke Singapura dan melakukan pernikahan di Kantor Catatan Sipil sana. Kemudian datang lagi ke sini untuk mencatatkan kembali ke Kantor Catatan Sipil tentang pernikahannya di luar negeri itu."
Pada awal tahun 1998, ia terserang stroke. Tapi, tim dokter berhasil menyelamatkannya. Namun stroke mengakibatkan penglihatan Gus Dur semakin memburuk. Pada saat ia dilantik menjadi presiden, ia sudah dideskripsikan media masa barat sebagai “nyaris buta”. Selain karena stroke, diduga problem kesehatannya juga disebabkan oleh faktor keturunan yang disebabkan hubungan darah yang erat di antara kedua orang tuanya.

Gus Dur adalah presiden keempat. Ditulis dalam situs tokoh Indonesia, belum genap satu bulan menjabat presiden, mantan ketua umum Nahdaltul Ulama (1984-1999) itu sudah mencetus-kan pendapat-pendapat yang memerahkan kuping sebagian besar anggota DPR di hadapan sidang legislatif, yang anggotanya sekaligus sebagai anggota MPR yang baru saja memilihnya itu. Gus Dur menyebut Sidang Dewan Legislatif itu seperti ‘taman kanak-kanak’.

Tak lama kemudian setelah menjabat menjadi presiden, ia pun menyatakan akan membuka hubungan dagang dengan Israel, negara yang dibenci oleh masyarakat muslim Indonesia. Pernyataan ini mengundang reaksi keras dari kalangan umat Islam. Selang beberapa waktu, ia pun memecat beberapa anggota kabinet persatuannya, termasuk Hamzah Haz, ketua umum PPP. Berbagai kebijakan dan pemecatan ini membuatnya semakin nyata jauh dari konspirasi kepentingan yang memungkinkannya terpilih lagi menjadi presiden.

Ketika itu, pada sidang umum MPR 1999, poros tengah yang gagal menggolkan salah seorang tokohnya sendiri menjadi presiden (BJ. Habibie, Amin Rais, Hamzah Haz, dan Yusril Ihza Mahendra), merangkul Gus Dur untuk dapat mengalahkan Megawati Soekarno Putri. Sehingga Mega dan partainya yang memenangkan pemilu hanya mendapatkan kursi wakil presiden.

Terpilihnya Gus Dur ini, yang akhirnya diberi julukan “presiden wisata”, karena seringnya keluyuran ke Luar Negeri tanpa tujuan yang jelas, ketimbang mengurus negaranya sendiri itu telah menunjukkan sosok kontroversial, kontroversial dalam kelayakan politik demokrasi. Gus Dur dari partai kecil (11%) mampu mengalahkan Mega dari partai pemenang pemilu (35%), Kotroversial mengenai fisik Gus Dur yang buta. Pengamat politik LIPI menyebutnya sebagai kecelakaan sejarah. Memalukan!

Pada awalnya, banyak orang optimis bahwa duet Gus Dur-Mega yang sejak lama sudah bersaudara akan langgeng dan kuat. Apalagi ditopang dengan susunan kabinet persatuan yang mengakomodir hampir semua kekuatan politik.

Namun seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Di mata orang, kepercayaan diri Gus Dur tampak terlalu berlebihan. Ia sering kali melontarkan pendapat dan mengambil kebijakan yang kontroversial. Penglihatannya yang semakin buruk mungkin dimanfaatkan oleh para pembisik di sekitarnya. Gus Dur pun sering mengganti anggota kabinetnya dengan semaunya dengan berpayung hak prerogratif. Tindakan penggantian menteri ini berpuncak pada penggantian Laksamana Sukardi dari jabatan Meneg BUMN dan Yusuf Kalla dari jabatan Memperindag, tanpa sepengetahuan wapres Mega dan ketua DPR Akbar Tanjung.

DPR menginterpelasi Gus Dur, mempertanya-kan alasan pemecatan Laksamana Sukardi dan Jusuf Kalla yang dituding Gus Dur melakukan KKN. Sejak saat itu, Megawati pun mulai mengambil jarak dengan Gus Dur. Dukungan politik dari legislatif kepada Gus Dur menjadi sangat rendah. Di sini Gus Dur tampaknya sudah lupa bahwa dalam sebuah negara demokrasi tidak mungkin ada seorang presiden (eksekutif) dapat memimpin tanpa dukungan politik (yang terwakili dalam legislatif dan partai).

Anehnya, setelah kejadian itu Gus Dur yang saat jadi presiden menghadiri Kontes Waria se-Indonesia di TMII, malam Minggu 26 Juni 2006 itu justru semakin lantang menyatakan diri mendapat dukungan dari rakyat. Sementara sebagian besar wakil rakyat di DPR dan MPR semakin menunjukkan sikap berbeda, tidak lagi mendukung Gus Dur.

Lalu terkuaklah kasus Buloggate dan Bruneigate. Gus Dur diduga terlibat. Kasus ini membuahkan memorandum DPR. Setelah memorandum II tak digubris Gus Dur, akhirnya DPR meminta MPR agar menggelar Sidang Istimewa (SI) untuk meminta pertanggung jawaban Gus Dur sebagai presiden.

Gus Dur melakukan perlawanan, tindakan DPR dan MPR itu dianggapnya melanggar UUD. Ia menolak penyelenggaraan SI-MPR dan mengeluarkan dekrit membubarkan DPR dan MPR. Tapi dekrit Gus Dur ini tidak mendapat dukungan. Hanya kekuatan PKB dan PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa) yang memberi dukungan. Bahkan karena dekrit itu, MPR mempercepat penyelenggaraan SI pada 23 Juli 2001. Gus Dur, akhirnya kehilangan jabatannya sebagai presiden keempat setelah ia menolak memberikan pertanggung jawaban dalam SI MPR itu, dan Wapres Megawati diangkat menjadi presiden pada 24 Juli 2001.

Selepas SI-MPR, Gus Dur selaku Ketua Dewan Syuro PKB memecat pula Mathori Abdul Jalil dari jabatan Ketua Umum PKB. Tindakan ini kemudian direspon Matori dengan menggelar Muktamar PKB yang melahirkan dua kepengurusan PKB, yang kemudian menjadi populer disebut PKB Batu Tulis (pimpinan Matori) dan PKB Kuningan (pimpinan Gus Dur). Kepengurusan PKB ini harus berlanjut ke pengadilan kendati upaya rujuk terus berlangsung.

Gus Dur sering berbicara keras menentang politik keagamaan sektarian. Pendiriannya sering menempatkannya pada posisi sulit, melawan pemimpin Islam lainnya di Indonesia. Seperti didirikannya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang diketuai BJ. Habibie, Gus Dur secara terbuka menentang. Ia menyebut ICMI akan menimbulkan masalah bangsa di kemudian hari, yang dalam tempo kurang dari sepuluh tahun ternyata pernyataannya itu bisa dibuktikan benar atau tidak. Lalu, ia mendirikan Forum Demokrasi sebagai penyeimbang ICMI.

Meski diakui ia besar antara lain karena NU, namun visi politik Gus Dur diakui rekan-rekan dekatnya sebagai melebihi kepentingan organisasi, bahkan kadang melampaui kepentingan Indonesia. Hal ini tercermin dari kesediaannya menerima kedudukan di Simon Perez Peace Center dan saat dia mengusulkan membuka hubungan dengan Israel.

Di masa Orba, saat Soeharto amat berkuasa, Gus Dur dikenal sebagai salah seorang tokoh yang licin untuk dikuasai. Bahkan Gus Dur dapat memanfaatkan Keluarga Cendana dengan mengajak Mbak Tutut berkeliling mengunjungi pondok-pondok pesantren. Gus Dur juga beberapa kali menyempatkan diri mengunjungi Pak Harto setelah lengser.

Gus Dur termasuk orang yang sering melontarkan pendapat kontroversial. Bahkan ketika menjabat presiden RI ke-4 (20 Oktober 1999-24 Juli 2001) dan berhenti jadi presiden, kebiasaan melontarkan sesuatu yang nyleneh tidak pernah berhenti. Sampai-sampai, kata yang sering dilontarkan untuk menyederhanakan sesuatu menjadi ungkapan yang umum di masyarakat, “gitu aja kok repot!”
Ia juga pengamat sepak bola yang tajam analisisnya. Bahkan, setelah penglihatannya benar-benar terganggu, pada Piala Dunia Juni 2002 lalu, ia juga masih antusias memberi komentar mengenai proyeksi juara.

Dulu, dalam jangka waktu setengah tahun setelah dilantik sebagai presiden, indikasi KKN Gus Dur sudah mulai bisa dirasakan, terbukti dengan langkah-langkah politik Gus Dur yang di antaranya:

1. Gus Dur pernah mengangkat Bondan Gunawan sebagai Pjs. Sekretaris Negara dan Marsilam Simanjutak sebagai Sekretaris Kabinet (Tempo, 7 Mei 2000). Keduanya adalah kawan baik Gus Dur di Forum Demokrasi (Fordem), belakangan Bondan mengundurkan diri karena terlibat Bulak-rantegate.

2. Gus Dur pernah mengangkat Hasyim Wahid, alias Gus Im (adik bungsunya) sebagai staf ahli cacuk di BPPN (Republika, 10 Mei 2000). Belakangan Gus Im mengundurkan diri.

3. Hary Supangat (mantan direktor keuangan Telkom) menyuap Rozi Munir sebesar 10 Miliar untuk meraih dirut telkom (Tempo, 7 Mei 2000). Rozy Munir adalah pengurus NU yang ketika itu diangkat Gus Dur sebagai Meneg Investasi/ Pembinaan BUMN menggantikan Laksamana Sukardi yang dicopot Gus Dur.

4. Mengangkat Letjend Luhut Panjaitan sebagai Memperindag menggantikan Yusuf Kalla (Tempo, 7 Mei 2000), (Republika, 11 Mei 2000). Luhut sudah sejak lama dipersiapkan Gus Dur, bahkan pernah diisukan bahwa Luhut akan menempati posisi Panglima TNI. Luhut terkait Singapore Connection, antek Hoakiau Singapore yang memiliki kepentingan bisnis dan politik terhadap Indonesia.

5. Hasyim Wahid menerima uang sebesar Rp. 35 Miliar dari Sapuan (Wakil Kepala Bulog) agar bisa menempati posisi kepala Bulog (Tempo, 7 Mei 2000). Sapuan akhirnya mengakui hal itu sebagai pinjaman. Belakangan Sapuan gagal menempati posisi kepala Bulog, dan jabatan itu diberikan kepada Rizal Ramli, yang kini menjabat sebagai Menko Perekonomian. Ironisnya, Sapuan justru dijebloskan ke dalam tahanan.

6. KH. Noer Muhammad Iskandar SQ, melakukan bisnis dengan Kim Johanes Mulia tanpa mengeluarkan duit sepersen pun (Tempo, 14 Mei 2000), mendirikan PT Bumi Berkah Sejahtera (Berkah Finance dan Berkah Haramain). Kyai Iskandar adalah kalangan terdekat NU, anggota fraksi PKB, yang pernah terlibat perselingkuhan (dengan modus nikah mut’ah) dengan Dewi Wardah (lihat Drama Pernikahan Semalam Seorang Kyai, majalah Gatra, edisi 13 April 1996).

7. Khoirul Anam, mantan Ketua GP Anshor NU, Ketua Dewan Pengurus PKB, kini menjabat sebagai komisaris Balai Lelang Surabaya (Tempo, 14 Mei 2000). Balai ini pernah didiskualifikasi oleh BPPN pada Cacuk. Kini Balai Lelang tersebut mendapat order besar setelah masuknya Khoirul Anam.

8. Suwondo, salah seorang dukun peliharaan Gus Dur merangkap tukang pijat, disuruh Gus Dur untuk menghadap Sapuan (Ketika itu Waka Bulog) dengan membawa pesan dari istana bahwa Gus Dur butuh dana Rp. 35 Miliar sebagai dana taktis presiden (Tempo, 14 Mei 2000). Sampai saat ini keberadaan Suwondo, lelaki Tionghua itu tak berbekas bagai ditelan bumi.

9. Saifullah Yusuf, keponakan Gus Dur dan Ketua umum GP Anshor (Tempo, 14 Mei 2000) ikut menjabat sebagai komisaris di perusahaan yang baru didirikan bersama-sama dengan Kim Johanes Mulia, sang konglomerat hitam.

10. Gus Dur menyatakan sudah mundur dari Harawi, namun Musthafa Zuhad sebagai operatur bisnis Gus Dur masih menjabat sebagai Dirut. Sementara itu, Edward Soeryadjaya teman Gus Dur, kini menjabat sebagai Preskom harawi Sekawan (Kompas, 14 Maret 2000). Oleh karenanya, keluarga Soeryadjaya sering keluar masuk istana.

11. Sapuan mengatakan, aktor utama Buloggate adalah Gus Dur dan Suwondo, (Jurnal Indonesia, 3 Juni 2000). Gus Dur menurut Sapuan, dua kali memanggilnya untuk minta dana Bulog, dan Suwondo menindaklanjuti sesuai pesan presiden. Sebelumnya Sapuan tidak berani terbuka, karena diri dan keluarganya terancam. Belakangan DPR dan Polri akan mengamankannya.

12. Majalah Gatra edisi 22 Mei 2000, menyoroti adanya indikasi permainan Presiden Gus Dur dalam penyelesaian damai di Candra Asri, Djayanti, Texmaco, Rajawali Group, Raja Garuda Mas, dan AW Air. Permainan yang dimaksud adalah dalam bentuk kepemilikan saham, fee ‘titip orang’ dan lain-lain.

Ketua Dewan Syuro PKB ini, dicalonkan partainya menjadi Capres berpasangan dengan Marwah Daud Ibrahim sebagai Cawapres Pemilu Presiden 2004. Namun pasangan ini tidak diloloskan KPU dikarenakan Gus Dur dinilai tidak memenuhi persyaratan kemampuan rohani dan jasmani untuk melaksanakan kewajiban sebagai presiden, sesuai dengan pemeriksaan kesehatan tim Ikatan Dokter Indonesia. Akibat penolakan KPU (22 Mei 2004) ini, Gus Dur melakukan berbagai upaya hukum, antara lain menggugat KPU secara pidana dan perdata ke pengadilan dengan menuntut ganti rugi Rp 1 triliyun, melaporkan ke Panwaslu setelah sebelumnya melakukan judicial review ke MA dan MK. Ia pun berketepatan akan berada di luar system jika upaya pencalonannya tidak berhasil.

Begitulah Gus Dur, tokoh penuh kontroversial. Pernyataan dan tindakannya sering membuat gerah dan banyak menuai kritik. Mulai dari pernyataannya yang ingin menggantikan ucapan “Assalamu'alaikum” dengan “selamat pagi” sampai pernyataannya yang cukup berani dengan mengatakan bahwa “Al-Quran adalah kitab paling porno sedunia”. Pernyataan menghebohkan tersebut membuat penolakan dari umat Islam ketika ia di Purwakarta.

Tragedi “Al-Quran kitab paling porno se-dunia” bukan yang pertama kali dan mungkin juga bukan yang terakhir. Terlalu kontroversinya Gus Dur pernah membuat tokah sepuh NU KH. As’ad Syamsul Arifin memilih mufaroqoh (keluar) dari NU karena menganggap Gus Dur bagaikan imam sholat yang kentut sehingga tidak sah makmum di belakangnya.

Selepas dari jabatan presiden, kontroversi terus menyelimuti Gus Dur. Ia bahkan pernah dinobatkan sebagai anggota kehormatan Legium Christus (Laskar Kristus) pada bulan Januari 2002 di Gelanggang Olah Raga (GOR) Kampus Universitas Manado di Tataran Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Gus Dur dipilih oleh Laskar Kristus sebagai anggota kehormatan karena Gus Dur dinilai sejalan dengan misi Legium Christum. Sebagai anggota kehormatan, Gus Dur mendapat tugas khusus. Kata Lucky Senduk, Sekretaris Umum Legium Chistum kepada Tempo News Room, ”Tugas Gus Dur sebagai ujung tombak menolak pemberlakuan Piagam Jakarta dan melalui NU melindungi orang Kristen di Jawa.”

Gus Dur juga pernah memberikan kata pengantar dalam buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI” tulisan Dr. Ribka Tjiptaning Ploreriyati pada bulan Agustus 2002 sehingga memicu keluarnya buku karangan Hartono Ahmad Jaiz berjudul “Gus Dur Menjual Bapaknya”.

Gus Dur seringkali memberikan pernyataan yang dinilai sering memojokkan Islam dan membela kelompok non-Muslim. Seperti dalam kasus Ambon. Pernyataan tentang Pluralisme juga sering ia kumandangkan. Baru empat hari menjabat sebagai presiden Gus Dur sudah memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan umat. Dalam kunjungannya ke Institut Mahatma Gandhi di Denpasar Bali, dalam acara do’a bersama yang diberi nama Agni Horta, Gus Dur mengeluarkan pernyataan bahwa Mahatma Gandhi adalah orang suci. "Saya adalah orang muslim yang menganut paham Mahatma Gandhi". Kemudian katanya, “Bagi saya semua agama itu sama, di Islam pun banyak yang berkelahi karena agama”.

Ketika meletus peristiwa Situbondo yang menjadi penyebab terhadap sangat sakitnya umat Islam, ia sudah berada di Vatikan. Maka ia datang dan meminta maaf kepada pemimpin gereja mengatas namakan umat Islam seraya mencari kambing hitam dari kalangan umat Islam sendiri. Ketika terjadi peristiwa Tasikmalaya ia pun melemparkan tuduhan ke sana sini sesama muslim.

Pada waktu itu, sedang hangat-hangatnya kasus Masjid Babri yang dihancurkan orang-orang Hindu di India. Namun di hadapan orang-orang Islam Gus Dur berkata, “Mengapa kita marah kepada mereka yang menyerang masjid Babri? Kenapa? karena toh jauh sebelumnya , masjid Babri itu telah menjadi kuil, kita datang kita jadikan masjid. Sekarang orang lain datang minta diubah lagi.” Pernyataan ini aneh, karena PBNU mengeluarkan pernyataan yang isinya menyesalkan terjadinya insiden Ayodhya (penghacuran masjid Babri) dan yang menandatanganinya adalah dia sendiri dan sekjen PBNU Ikhwan Syam.

Ketika musyawarah Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang berakhir tanggal 29 Juli 2006, menetapkan 11 fatwa di antaranya mengharamkan paham Liberalisme, Pluralisme serta paham Ahmadiyyah, sejumlah tokoh masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Madani untuk Kebebasan beragama dan berkeyakinan, seperti Gus Dur, KH. Musthofa Bisyri, Dawam Raharjo, Ulil Abshor Abdalla, Johan Efendi, pendeta Winata Sairin dan tokoh-tokoh lainnya, mendesak MUI untuk mencabut fatwa tersebut. Mereka berargumen, fatwa semacam itu sering dijadikan landasan untuk melakukan kekerasan terhadap pihak lain. Selain itu, Indonesia bukanlah negara Islam, tapi negara nasional. Jadi ukuranya juga nasional, kata Gus Dur di kantor PBNU.[ ]

Langkah-langkah Gus Dur yang konyol lagi kontroversial sengaja dilakukan demi menjalankan tugas dia sebagai missionaries mengemban misi suci dari kelompok Kristen/ Katholik yang dalam hati mereka terdapat segudang kebencian terhadap Islam dalam pelbagai hal yang mensejahterakan umat Islam. Meskipun seandainya dia jadi penghuni neraka yang paling bawah yang tidak akan mungkin dikeluarkan lagi dari neraka dia tetap membela non-Islam karena dia sudah memproklamirkan diri sebagai garda terdepan laskar Yesus Kristus dan agama sesat lainnya serta aliran dan paham sesat lagi menyesatkan.

Gus Dur berani memprotes Allah SWT dan menghina Al-Quran yang statusnya adalah kalam Ilahi, mencaci-maki Rasulnya dengan mengatakan "Nabi Muhammad apa! Dia kan manusia biasa yang tidak mempunyai keistimewaan apapun", dan mengkader manusia seperti Said Aqil, Masdar Farid Mas'udi, Ulil Abshar Abdalla dan lainnya yang asalnya adalah manusia biasa berevolusi menjadi Dajjal-dajjal pra-Dajjal sebagai agen murahan Zionis-salibis internasional guna membombardir Islam. Ini menunjukkan bahwa dia sudah menampakkan wujud asli dari penampakan Syaithan yang bukan hanya menakut-nakuti manusia, melainkan sudah merubah wujud manusia menjadi iblis-iblis meskipun dalam wujud dhohirnya berbentuk manusia. Syaithan saja tidak berani menentang Allah dengan terang-terangan lagi gamblang dan tidak berani menampakkan wujud asli terhadap manusia dalam misinya menyesatkan manusia.

Sederet pernyataan kontroversial Gus Dur yang membuat umat Islam mengelus dada bahkan banyak kyai yang dulu sebagai pendukung fanatiknya, kini meninggalkan dia, karena ucapan dan tindak lakunya yang keterlaluan bahkan terkadang kufur.

Terkait Khusus

Sejarah dan Biografi Islam 8948438272650757179

Langganan Artikel Gratis Lewat Email

Masukan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

FOLLOW US

ARTIKEL BARUNYA DI SINI

Recent Posts Widget

Aplikasi Islami Hp Android

AUDIO DAN DOWNLOAD

item